Crispy

Iran Tutup Total Selat Hormuz Pasca-Serangan Udara Brutal Israel di Lebanon

JERNIH — Eskalasi geopolitik di Timur Tengah resmi menyentuh titik paling kritis. Markas Pusat Khatam al-Anbiya Angkatan Bersenjata Iran mengumumkan penutupan total Selat Hormuz untuk seluruh navigasi maritim internasional per Sabtu (20/06/2026). Langkah ekstrem ini diambil sebagai respons langsung atas kegagalan Amerika Serikat dalam mengendalikan sekutunya, Israel, yang terus membombardir Lebanon Selatan secara brutal meski status gencatan senjata tengah berjalan.

Melalui siaran televisi resmi negara Iran, Teheran menuduh AS telah melanggar secara sepihak Nota Kesepahaman (MoU) penghentian perang yang baru saja disepakati. Penutupan jalur logistik minyak mentah dunia ini ditegaskan Iran baru sebagai “langkah awal” dari serangkaian respons militer yang sedang mereka persiapkan.

Keputusan radikal Teheran dipicu oleh agresi udara masif yang diluncurkan Pasukan Pendudukan Israel (IOF) sejak Sabtu pagi. Jet tempur dan drone Israel dilaporkan melepas sedikitnya 80 hantaman udara (65 serangan udara dan 15 serangan drone) ke puluhan kota di Lebanon Selatan dan wilayah Bekaa Barat.

Sedikitnya 37 orang tewas seketika dalam serangan Sabtu pagi. Insiden ini menambah panjang daftar kelam korban agresi Israel sejak Maret lalu yang kini menembus 3.980 korban jiwa dan 12.001 korban luka. Nabatieh menjadi wilayah paling hancur dengan 25 orang tewas dan 35 luka-luka. Salah satu korban tewas adalah seorang prajurit aktif Angkatan Darat Lebanon yang dihantam drone Israel di Kfar Rumman.

Di Saida, Kota Qennarit, sebuah rudal Israel menghantam gedung apartemen warga dan menewaskan 7 orang, termasuk di antaranya 5 anak-anak dan 5 wanita. Hari Jumat sebelumnya, media Reuters sempat melaporkan bahwa gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah mulai berlaku pukul 16.00 sore. Namun, hanya dalam hitungan menit setelah klaim tersebut, jet tempur Israel justru menggila dengan meluncurkan 16 serangan udara beruntun.

Ancaman Krisis Energi Global Mengintai

Bagi ekonomi dunia, penutupan Selat Hormuz adalah “tombol nuklir” ekonomi. Selat sempit yang dikontrol ketat oleh militer Iran ini merupakan urat nadi vital bagi distribusi sepertiga pasokan minyak mentah dunia lewat jalur laut.

“Mengingat pelanggaran terang-terangan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap komitmennya… dan respons terhadap pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan oleh entitas Israel di Lebanon Selatan berupa pembantaian brutal dan pengusiran paksa, maka dengan ini diumumkan bahwa Selat Hormuz ditutup untuk navigasi maritim,” bunyi pernyataan resmi Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran.

Teheran secara terbuka memperingatkan sekutu Barat bahwa pemblokiran Selat Hormuz ini hanyalah sebuah peringatan pembuka. Jika Israel tidak segera menghentikan kejahatan perangnya di Lebanon dan menarik mundur pasukannya ke perbatasan, Iran memastikan akan meluncurkan operasi militer lanjutan yang jauh lebih merusak untuk memaksa kepatuhan AS dan Israel.

Dengan dikuncinya Selat Hormuz dan gagal totalnya diplomasi gencatan senjata per akhir pekan ini, pasar saham global diprediksi akan mengalami guncangan hebat akibat potensi meroketnya harga minyak mentah dunia ke level tertinggi dalam sejarah.

Back to top button