CrispyVeritas

[JERNIH PANGAN LOKAL] Menepis Remeh Ubi Kayu, Riwayat Singkong Atum, si Raksasa dari Bawah Tanah

Di tangan para petani inovatif Jawa Barat, singkong tak lagi jadi komoditas yang dipandang sebelah mata. Dari hanya 30 pohon, lahan mereka bisa menghasilkan hingga 2 ton umbi segar.

WWW.JERNIH.CO – ​ Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, singkong adalah simbol kesederhanaan. Ia tumbuh sunyi di pekarangan, kerap dicap sebagai panganan murah meriah, dengan ukuran umbi yang begitu-begitu saja.

Namun, bersiaplah melempar jauh-jauh stereotipe itu saat Anda berkunjung ke ladang-ladang inovatif di Jawa Barat. Di sana, dari dalam tanah yang gembur, lahir sebuah fenomena baru yang membuat bergidik siapa saja yang melihatnya: Singkong Atum.

Ini bukan sekadar ubi kayu biasa. Singkong Atum adalah varietas jumbo lokal yang belakangan memicu kehebohan di jagat pertanian. Bayangkan saja, jika dirawat dengan ketelatenan penuh, sebutir umbinya bisa melar hingga sepanjang satu meter dengan diameter menembus 30 sentimeter. Singkong ini tak lagi pantas disebut ubi, melainkan raksasa bawah tanah.

Membudidayakan Singkong Atum adalah urusan memanen keajaiban angka. Varietas unggulan ini memiliki tingkat produktivitas yang berada di luar nalar singkong biasa. Bayangkan, dari 30 pohon saja, petani sanggup mengangkut hingga dua ton umbi segar ke atas bak pikap.

Tiap jengkal akarnya begitu subur, mampu mengikat sampai 14 umbi berukuran masif pada satu pohon. Skala ukurannya yang raksasa ini melahirkan drama unik tersendiri saat musim panen tiba.

Menarik pohon Singkong Atum tidak bisa dilakukan sambil lalu; sering kali dibutuhkan peluh dan urat tegang dari enam orang dewasa hanya untuk menaklukkan dan mencabut satu rumpun pohonnya dari pelukan bumi.

Lantas, apa rahasia di balik kesuburan yang masif ini? Jawabannya ada pada teknik budidaya yang mendobrak kebiasaan kuno.

Jika singkong konvensional ditanam dengan menancapkan stek batang secara vertikal, Singkong Atum menuntut perlakuan berbeda. Batang bibitnya justru ditanam dengan posisi tertidur atau mendatar.

Rahasia utamanya terletak pada ‘pesta pora’ nutrisi di dalam tanah berlapis. Petani harus menggali lubang sedalam 75 cm dan lebar satu meter, lalu mengisinya dengan pupuk secara bertahap: lapisan kompos, tanah, urea, tanah lagi, hingga ditutup pupuk kandang dan NPK.

Setelah seminggu tanah dipersiapkan, barulah batang ditidurkan dan ditimbun. Singkong Atum kemudian dibiarkan ‘tidur nyenyak’ menyerap nutrisi selama dua tahun penuh sebelum akhirnya siap dibangunkan untuk dipanen.

Hebatnya, si raksasa ini tidak manja. Singkong Atum mewarisi daya tahan alami ubi kayu yang tangguh. Ia bisa dipeluk oleh hawa panas dataran rendah maupun dinginnya dataran tinggi tropis Indonesia.

Kunci utamanya bukan pada letak geografis, melainkan pada kegemburan tanah. Tanah yang remah dan kaya bahan organik adalah harga mati agar umbi besarnya memiliki ruang bebas untuk memanjang dan melebar.

Namun, karena hidup di dalam tanah selama dua tahun, daging Singkong Atum memiliki karakteristik serat yang cenderung tebal. Jangan harap bisa langsung merebusnya begitu saja untuk teman minum kopi sore hari. Kekuatan utama Singkong Atum justru terletak pada hilirisasi industrinya.

Dagingnya yang melimpah adalah berkah bagi para pengusaha jajanan tradisional. Singkong ini sangat diburu untuk diparut dan ditumbuk menjadi bahan baku deblo, comet, cireng singkong, hingga keripik renyah. Kandungan karbohidratnya yang pekat juga menjadikannya bahan baku pembuatan tepung tapioka dan tepung mocaf yang sangat efisien.

Bahkan, saking eksotis dan memanjakan mata, Singkong Atum kerap kali ‘banting setir’ menjadi bintang utama di berbagai pameran pertanian dan karnaval budaya daerah.

Berbicara tentang bisnis pertanian tentu tidak bisa lepas dari kalkulasi di atas kertas. Menariknya, di pasar bebas, harga per kilogram Singkong Atum sebenarnya tidak jauh berbeda dengan singkong biasa di tingkat petani.

Sebagai perbandingan, fluktuasi harga Singkong Atum berada di angka Rp700 hingga Rp2.000 per kg, sangat bergantung pada dinamika pasar. Sementara itu, harga singkong biasa di tingkat petani berada di kisaran Rp1.350 hingga Rp2.100 per kg, yang distabilkan oleh harga acuan Kementerian Pertanian—meski di daerah sentra seperti Lampung harganya kerap melonjak saat serapan pabrik sedang tinggi.

Tentu saja, angka ini akan berlipat ganda ketika singkong biasa masuk ke pasar retail konsumen, di mana singkong mentah dihargai Rp6.000 – Rp10.000 per kg, dan bisa menembus Rp18.000 per kg untuk varietas mentega yang sudah dikupas bersih di supermarket.

Lalu, jika harganya mirip di tingkat petani, mengapa harus menanam Singkong Atum?

Di sinilah letak daya pikatnya. Keunggulan Singkong Atum bukan terletak pada mahalnya harga per kilogram, melainkan pada hukum volume. Dengan modal lahan dan jumlah pohon yang jauh lebih sedikit, petani Singkong Atum bisa memanen tonase yang berkali-kali lipat lebih berat dibandingkan singkong biasa. Ini adalah efisiensi lahan tingkat tinggi sekaligus peluang bisnis yang menggiurkan.

Pada akhirnya, Singkong Atum telah membuktikan bahwa dengan sedikit inovasi dan perlakuan tepat, komoditas yang paling sederhana sekalipun bisa menjelma menjadi raksasa yang mendatangkan kemakmuran.(*)

BACA JUGA: [Locavore] Mengenal Singkong, Talas, dan Ubi Jalar Sebagai Sumber Energi Asli Indonesia

Back to top button