[JERNIH PIALA DUNIA 2026] 10 Hal Janggal di Luar Lapangan

Atmosfer Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada terasa sangat berbeda dari edisi sebelumnya. Di balik gemerlap format baru 48 negara, turnamen ini langsung dihantam berbagai gejolak politis dan insiden aneh.
WWW.JERNIH.CO – Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada baru saja bergulir, namun atmosfer turnamen akbar ini sudah terasa sangat berbeda dari edisi-edisi sebelumnya. Dengan format baru yang melibatkan 48 negara, gejolak di dalam maupun di luar lapangan langsung melahirkan berbagai momentum unik.
Dari keputusan politik, insiden perayaan yang aneh, hingga hasil tak terduga, berikut adalah 10 hal aneh, janggal, dan unik yang mewarnai jalannya Piala Dunia 2026 sejauh ini.
Rekor Upacara Pembukaan Terpendek dalam Sejarah
Banyak pasang mata menantikan kemegahan kolaborasi budaya tiga negara di upacara pembukaan. Namun, FIFA justru menyajikan pembukaan yang sangat singkat dan minimalis. Banyak penggemar merasa janggal karena durasinya tercatat sebagai salah satu yang terpendek dalam sejarah modern Piala Dunia, membuat atmosfer megah yang dinanti terasa sedikit antiklimaks.
Tiga Kartu Merah di Laga Pembuka
Pertandingan pembuka biasanya berjalan ketat dan hati-hati. Namun, laga pembuka edisi 2026 langsung mencatatkan anomali lewat hujan sanksi keras. Pertandingan tersebut diwarnai oleh tiga kartu merah sekaligus, sebuah catatan pembuka yang luar biasa agresif dan sangat jarang terjadi di turnamen sekelas Piala Dunia.
Telinga Graham Potter Berdarah Saat Selebrasi
Kejadian aneh menimpa pelatih timnas Swedia, Graham Potter, saat merayakan kemenangan telak 5-1 atas Tunisia di Monterrey. Di tengah riuhnya kegembiraan staf dan pemain, Potter tiba-tiba mengalami luka dan berdarah di telinga kanannya. Pasca-laga, ia berseloroh bingung dan mengatakan, “Seseorang mencakar atau menggigit saya!” di tengah kerumunan selebrasi tersebut.
Demi Donald Trump, FIFA Lacurkan Protokol
FIFA dikenal sangat kaku terhadap protokol penyerahan trofi, di mana piala biasanya diletakkan di podium sebelum diambil kapten tim. Namun, otoritas sepak bola dunia ini dilaporkan memberi lampu hijau kepada Presiden AS, Donald Trump, untuk ikut serta mengangkat dan menyerahkan trofi langsung di atas panggung bersama tim pemenang saat final di New Jersey, mengulang momen canggung serupa yang dilakukannya pada Piala Dunia Antarklub tahun lalu.

Meroketnya Harga Tiket Kategori Terendah
Bagi penonton lokal di Amerika Utara, kejanggalan ekonomi sangat terasa pada sistem penjualan tiket. Kursi dengan kategori paling rendah dan posisi paling jauh dari lapangan (tribun atas) dibanderol mencapai sekitar Rp11,4 juta hingga Rp13 juta. Banyak suporter mengeluh bahwa biaya tiket satu laga tersebut setara dengan harga tiket pesawat pulang-pergi untuk berlibur.
Amukan Suporter di Hari Pembukaan Meksiko
Meskipun Meksiko berhasil menang 2-0 atas Afrika Selatan di laga perdana Grup A, hari pembukaan di tanah Meksiko justru dinodai oleh kerusuhan hebat di luar area stadion. Suporter bentrok dengan aparat keamanan setempat, bahkan pihak kepolisian sempat diserang menggunakan bom molotov, menghadirkan kontras yang ganjil di tengah euforia kemenangan tim nasional mereka.
Isyarat Tangan Kontroversial Wasit VAR
Sebuah kejanggalan di ruang siaran langsung memicu kemarahan netizen dan lembaga antidiskriminasi. Saat pengenalan wasit dalam laga Jerman vs Curaçao, wasit VAR asal Australia, Shaun Evans, tertangkap kamera melakukan isyarat tangan “OK” terbalik.
Sementara beberapa netizen Australia menyebut itu hanyalah candaan sekolah jadul (Circle Game), organisasi Fare Network mendesak pencopotannya karena simbol tersebut kerap disalahgunakan oleh kelompok supremasi kulit putih. Akibat insiden ganjil ini, FIFA dilaporkan langsung menghentikan sesi pengenalan visual panel VAR di laga-laga berikutnya.
Kebocoran Video Spionase Sesi Latihan Afrika Selatan
Privasi taktik timnas Afrika Selatan (Bafana Bafana) hancur berantakan menjelang laga mereka. Sesi latihan tertutup mereka saat bersiap melawan Jamaika ternyata diam-diam dimata-matai oleh oknum tidak dikenal. Rekaman video taktik dan skema permainan mereka bocor dan menyebar luas di internet, memicu kecaman atas buruknya sistem pengamanan privasi di sekitar fasilitas latihan yang disediakan panitia.
Ancaman Mogok Massal Buruh Stadion SoFi menjelang Kick-off
Stadion megah SoFi di Los Angeles, yang dijadwalkan menggelar delapan pertandingan termasuk laga pembuka timnas AS, nyaris lumpuh total akibat isu ketenagakerjaan. Sekitar 2.000 pekerja logistik dan makanan yang tergabung dalam serikat Unite Here Local 11 memberikan votum 96% untuk melakukan mogok kerja massal tepat sebelum turnamen dimulai.
Selain masalah upah, buruh menuntut proteksi keamanan dari pemeriksaan imigrasi (ICE) di dalam stadion. Kesepakatan darurat akhirnya baru tercapai tanggal 8 Juni—hanya tiga hari sebelum laga perdana dimulai.
Paspor Suporter Nakal Inggris yang Ditahan Paksa
Di Inggris, pihak kepolisian menerapkan aturan hukum domestik yang sangat ketat di luar wilayah tuan rumah. Unit Kepolisian Sepak Bola Inggris (UKFPU) mengeluarkan perintah pelarangan bepergian dan mewajibkan 2.439 orang suporter yang memiliki rekam jejak kriminalitas sepak bola (hooliganisme) untuk menyerahkan paspor mereka selama turnamen berlangsung.
Suporter yang nekat tidak mengumpulkan paspor diburu dan datanya langsung dibagikan kepada otoritas keamanan perbatasan Amerika Serikat agar dideportasi jika mencoba menyusup ke bandara.(*)
BACA JUGA: [JERNIH PIALA DUNIA 2026] Timnas Iran Gelar Latihan Terbuka Perdana di Perbatasan Tijuana






