Liverpool vs Como; Beda Kelas di Anfield

Pertandingan ini tak hanya menunjukkan dominasi taktis pasukan Andoni Iraola, tetapi juga memberi pelajaran berharga bagi tim asuhan Cesc Fàbregas tentang jurang kualitas level elite Eropa.
WWW.JERNIH.CO – Liverpool menutup rangkaian pramusim 2026 dengan performa meyakinkan usai menaklukkan Como 1907 lewat skor 2-0 di Stadion Anfield. Meski skor akhir tidak terlampau mencolok, jalannya laga memperlihatkan jurang kualitas dan kelas yang sangat nyata di antara kedua kesebelasan.
Laga penutup pramusim ini diawali dengan kontrol dominan anak asuh Andoni Iraola sejak peluit pertama. Kebuntuan pecah pada menit ke-23 berawal dari skema serangan cepat di sisi kanan, ketika Jeremie Frimpong melepaskan umpan silang akurat ke tiang jauh yang diterima Cody Gakpo. Dengan tenang, Gakpo melepaskan tembakan terukur menggunakan kaki kirinya untuk membobol gawang Como.
Menjelang babak pertama usai pada menit ke-44, situasi sepak pojok memicu kemelut di pertahanan Como, di mana bola liar berhasil dimanfaatkan Gakpo untuk mengirim umpan matang di muka gawang yang kemudian disambar langsung oleh bek anyar Jérémy Jacquet untuk mencetak gol debutnya di Anfield.
Memasuki babak kedua, Como yang dibesut Cesc Fàbregas mencoba bangkit dan tampil lebih berani menyerang, namun pertahanan rapat Virgil van Dijk dan kawan-kawan berhasil mematahkan setiap ancaman hingga laga usai.
Pertandingan ini menampilkan artikulasi taktikal tingkat tinggi dari Liverpool, di mana The Reds menekan lawan asal Italia tersebut dengan intensitas merata, mengisolasi lini tengah Como, serta mendominasi transisi posisi. Kemampuan individu pemain utama seperti Florian Wirtz, Alexander Isak, dan Ryan Gravenberch mampu menarik perhatian barisan bek lawan sehingga menciptakan ruang bebas bagi lini kedua.
Tingkat presisi umpan dan kecepatan pengembalian bola Liverpool membuat Como terkurung sepanjang babak pertama. Sebaliknya, kekalahan 0-2 ini menelanjangi beberapa celah krusial dalam skuad asuhan Fàbregas, terutama pada antisipasi bola mati dan kemelut di mana gol kedua Liverpool menegaskan rapuhnya koordinasi serta keputusan bek yang lambat merespons bola liar di kotak penalti.
Selain itu, area flank Como kerap terbuka saat menghadapi overlapping agresif dari Jeremie Frimpong sehingga umpan silang mudah masuk tanpa kawalan ketat di tiang jauh. Kerentanan tersebut makin diperparah oleh ketajaman serta ketenangan penyelesaian akhir Como yang kurang optimal ketika mendapat celah tembak di babak kedua, sehingga Alisson Becker hanya perlu mengamankan beberapa peluang tanpa kesulitan berarti.
Secara keseluruhan, laga ini menjadi pelajaran berharga bagi Como mengenai intensitas level elite Eropa, sementara Liverpool melangkah mantap menuju laga pembuka Liga Inggris.
Usai laga di Anfield tersebut, Cesc Fàbregas memberikan penilaian jujur dengan mengakui adanya perbedaan level yang menjadi pengingat jelas mengenai standar sepak bola kelas atas dunia, di mana intensitas dan kecepatan keputusan pemain Liverpool diakui sangat sulit ditandingi.
“Bermain di Anfield melawan tim sekelas Liverpool menunjukkan secara langsung di mana posisi kami dan sejauh mana kami harus berkembang. Ini adalah tolok ukur terbaik untuk menguji nyali dan taktik para pemain,” ujarnya. (*)
BACA JUGA: Tangan Dingin Mirwan Suwarso Bawa Como 1907 Cetak Sejarah Lolos ke Liga Champions






