
Haruskah kita berharap korporasi global yang menguasai rantai pasok akan sadar dan rela mengurangi keuntungan mereka? Atau, kita berharap pemerintah tiba-tiba mengubah seluruh regulasi dan menutup keran impor dalam semalam? Sayangnya, jika hanya saling lempar tanggung jawab, kita seperti menunggu kereta di stasiun yang sudah dibongkar. Sistem yang rakus tidak akan pernah memperbaiki dirinya sendiri. Kita butuh sebuah gebrakan nyata yang bisa dimulai detik ini juga.
Oleh : Widiana Safaat*

JERNIH– Kita telah melihat bagaimana piring kita dijajah oleh produk impor, bagaimana petani kita dimiskinkan oleh sistem “jam pasir” global, dan bagaimana makanan kita memperparah pemanasan bumi. Ketika dihadapkan pada masalah sebesar ini, kita biasanya akan melontarkan satu pertanyaan klasik: “Lalu, siapa yang harus berubah duluan?”
Kita mungkin berharap korporasi global yang menguasai rantai pasok itu akan sadar dan rela mengurangi keuntungan mereka. Atau, kita berharap pemerintah tiba-tiba mengubah seluruh regulasi dan menutup keran impor dalam semalam. Sayangnya, jika kita hanya saling lempar tanggung jawab, kita seperti menunggu kereta di stasiun yang sudah dibongkar. Sistem yang rakus tidak akan pernah memperbaiki dirinya sendiri. Kita butuh sebuah gebrakan nyata yang bisa dimulai detik ini juga.
Pangan: Hak Asasi, Bukan Barang Dagangan
Untuk menemukan jalan keluar, kita perlu menengok sejarah gerakan akar rumput global bernama La Vía Campesina . Pada pertengahan era 1990-an, federasi petani dunia ini menggemakan sebuah konsep revolusioner yang disebut ” Kedaulatan Pangan “. Inti ajaran mereka sangat menohok sekaligus menyadarkan: makanan adalah hak asasi manusia, bukan sekadar komoditas atau barang dagangan untuk meraup profit.
Menurut La Vía Campesina , kedaulatan pangan berarti rakyat memiliki hak penuh untuk menentukan sendiri sistem pertanian dan makanannya. Sistem ini harus menempatkan mereka yang memproduksi dan mengonsumsi makanan—yaitu petani dan kita semua—sebagai jantung dari sistem pangan, bukan malah tunduk pada tuntutan pasar bebas. Kedaulatan ini tidak akan terwujud jika kita menyerahkan kendali perut kita kepada perusahaan-perusahaan raksasa antarbenua.
Dari Konsumen Menjadi “Patriot Pangan”
Jika kedaulatan ada di tangan rakyat, itu artinya perubahan harus dimulai dari kita. Selama ini, kita telah dicuci otaknya untuk hanya menjadi “konsumen pasif”. Kita dididik untuk hanya peduli pada harga murah dan kemasan praktis, tanpa mau tahu apakah makanan tersebut merusak bumi atau menindas petani. Pola pikir inilah yang sebenarnya menghidupi ” rezim pangan global ” tersebut.
Gerakan Locavore mengajak Anda untuk berhenti menjadi konsumen pasif, dan bertransformasi menjadi ” Patriot Pangan “. Perlawanan paling nyata terhadap sistem impor yang merugikan ini tidak selalu harus dilakukan dengan berdemonstrasi di jalanan. Perlawanan itu bisa dilakukan di lorong pasar, di supermarket, dan di atas piring makan Anda sendiri. Ketika Anda memilih untuk membeli ubi lokal daripada roti gandum, atau membeli sayur langsung dari tetangga petani Anda, Anda sedang memutus aliran dana ke korporasi transnasional.
Kedaulatan Dimulai di Depan Cermin
Setiap rupiah yang Anda belanjakan untuk pangan lokal adalah suara “voting” (pemilihan) untuk dunia yang lebih adil. Anda memberikan kehidupan bagi petani kecil, memangkas jejak karbon karena memendekkan jarak distribusi, dan merawat kearifan budaya leluhur Nusantara.
Perubahan sistemik yang raksasa tidak melulu harus dimulai dari ruang sidang parlemen atau konferensi iklim global. Ia sering kali berawal dari keputusan-keputusan kecil dan sederhana yang Anda buat tiga kali sehari saat jam makan tiba. Jadi, jika kita kembali pada pertanyaan ” Siapa yang harus berubah duluan ?”, cobalah tatap cermin di hadapan Anda. Jawabannya selalu ada di sana. []
*Pemerhati Human Centered Design & Systemic Design






