Joao Angelo De Sousa Mota, Bos Agrinas dan Polemik Pikap India

Keputusannya membeli armada impor untuk Koperasi Merah Putih memicu kritik tajam. Ia pernah mengundurkan diri dari Dirut Agrinas. Siapa Joao?
WWW.JERNIH.CO – Keputusan pembelian mobil produksi India untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih menjadi salah satu episode yang menonjol dalam perjalanan kepemimpinan Joao Angelo De Sousa Mota. Kebijakan tersebut memicu beragam respons publik. Sebagian memandangnya sebagai langkah percepatan distribusi pangan hingga tingkat desa, sementara sebagian lain mempertanyakan aspek efisiensi anggaran, transparansi pengadaan, dan implikasinya terhadap industri otomotif nasional.
Dalam konteks ini, kebijakan tersebut bukan sekadar soal kendaraan operasional, melainkan cerminan kompleksitas pengambilan keputusan di sektor strategis.
Pengunduran Diri
Sejak Februari 2025, Joao Mota menjabat sebagai Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, memimpin transformasi perusahaan menjadi BUMN yang difokuskan pada penguatan ketahanan pangan nasional. Transformasi ini menempatkan Agrinas sebagai salah satu instrumen negara dalam membangun sistem agribisnis terintegrasi, dari produksi hingga distribusi dan pengelolaan cadangan logistik. Dalam kerangka tersebut, modernisasi distribusi menjadi salah satu prioritas, mengingat hambatan logistik kerap menjadi faktor yang menekan harga di tingkat petani maupun konsumen.
Namun, dinamika kepemimpinan Joao Mota pada 2025 tidak hanya ditandai oleh kebijakan logistik. Pada pertengahan tahun yang sama, ia sempat mengajukan pengunduran diri dari jabatannya sebagai Direktur Utama Agrinas.
Langkah tersebut mengejutkan sejumlah pihak karena dilakukan di tengah fase konsolidasi dan penguatan peran perusahaan dalam struktur pangan nasional. Informasi yang berkembang saat itu menyebutkan adanya pertimbangan internal organisasi serta keinginan untuk kembali fokus pada aktivitas pemberdayaan petani dan gerakan sosial di daerah, khususnya di Nusa Tenggara Timur.
Pengunduran diri tersebut memunculkan spekulasi mengenai arah kebijakan perusahaan ke depan. Mengingat Agrinas tengah menjalankan proyek strategis seperti pengembangan food estate, penguatan komoditas jagung dan padi, serta modernisasi sistem produksi, perubahan kepemimpinan dinilai berpotensi memengaruhi ritme implementasi program. Di BUMN strategis, kesinambungan manajemen sering kali menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas perencanaan jangka panjang.
Beberapa waktu setelah pengunduran diri itu disampaikan, terjadi dinamika lanjutan di tingkat pemegang saham dan otoritas terkait. Pada akhirnya, Joao Mota kembali dipercaya untuk melanjutkan kepemimpinannya. Keputusan tersebut dapat dibaca sebagai bentuk pertimbangan atas kebutuhan kontinuitas organisasi di tengah fase transisi. Di sisi lain, peristiwa itu juga memperlihatkan bahwa proses pengelolaan BUMN tidak terlepas dari dinamika internal dan evaluasi berkelanjutan.
Latar Belakang
Secara profesional, Joao Mota memiliki latar belakang yang cukup beragam. Ia pernah berkecimpung di sektor swasta dalam bidang konstruksi, pertanian, peternakan, dan industri kreatif. Pengalaman tersebut membentuk pendekatan manajerial yang menekankan integrasi hulu-hilir dalam agribisnis. Di bawah kepemimpinannya, Agrinas mendorong pengembangan pusat bibit unggul, mekanisasi pertanian, serta penguatan fasilitas pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah produk.
Dalam tataran kebijakan nasional, agenda ketahanan pangan juga selaras dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pangan sebagai bagian dari stabilitas pertahanan negara. Posisi Agrinas dalam ekosistem tersebut menjadikan setiap keputusan perusahaan memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar pertimbangan bisnis. Kebijakan seperti pengadaan armada koperasi atau restrukturisasi manajemen menjadi bagian dari diskursus publik mengenai arah pembangunan pangan.
Di luar jabatan korporasi, Joao Mota juga dikenal memiliki latar belakang aktivisme pro-integrasi Timor Timur dengan NKRI dan pernah menerima penghargaan Dharma Pertahanan Madya pada 2025 atas kontribusinya di bidang pertahanan. Dimensi ini memperlihatkan keterkaitan antara pengalaman personal dan narasi kedaulatan nasional yang kerap menyertai agenda pangan strategis.
Keputusan membeli langsung tanpa mekanisme LPSE yang ia anggap lebih efisien nyatanya justru menuai pertanyaan. Bahkan DPR pun ambil langkah lantaran berkaitan dengan penggunaan anggaran sekitar Rp 24 triliun, yang bahkan telah terbayarkan 30%-nya ke produsen kendaraan.(*)
BACA JUGA: Agrinas Terlanjur DP Rp 7,39 Triliun untuk Mobil India



