Puisi

Sajak Para Penjilat: Di Meja Perjamuan Kekuasaan

Kutuliskan puisi ini padamu. Mengalir dari batinku yang terluka oleh kemunafikan dan kebongohan. Dan kemudian menjadi bait-bait peringatan, bahwa kau telah salah jalan, kawan.

Di teras zaman yang kian pengap ini,

Mereka datang membawa senyum yang dideretkan di depan kamera,

Para selebritas yang menukar tepuk tangan penonton dengan keriuhan kursi empuk,

Artis-artis yang dulu dipuja karena bakat, kini sibuk memulas bedak di wajah kekuasaan.

Lalu di sana, para politisi yang lidahnya telah bercabang dua,

Mengunyah janji-janji manis sembari melirik saku yang mulai menganga,

Dan lihatlah mantan aktivis yang dulu berteriak lantang di jalanan berdebu,

Kini tenggelam dalam keheningan AC ruang rapat, idealismenya telah mati di ujung sepatu.

Para pengusaha yang limbung dan hampir bangkrut datang merapat,

Mencari pelampung di antara kolam susu dan genangan keringat rakyat,

Mereka menggadaikan harga diri demi setetes laba yang tersisa,

Menjadi anjing penjaga bagi tuan yang menjanjikan sisa-sisa harta.

Tampak pula oknum pemerintah dan aparat yang semestinya menjaga arah,

Justru sibuk memoles cermin agar noda di tangannya tak tampak merah,

Para oportunis ini bergerak lincah seperti belut di air keruh,

Memilih berkhianat pada kawan lama demi posisi yang lebih teduh.

Mereka melacurkan nurani di pasar gelap kepentingan,

Menanggalkan jubah kejujuran demi seragam kemunafikan,

Idealisme yang dulu dibanggakan kini dianggap sampah yang mengganggu,

Ditukar dengan lembaran uang dan kuasa yang membuat mereka membatu.

Dulu mereka bicara tentang keadilan dengan suara yang menggetarkan dada,

Namun kini, ketika kekuasaan sudah di genggaman, mereka menjadi manusia berbeda,

Wajahnya berubah menjadi bunglon yang pandai menyesuaikan warna,

Hanya peduli pada diri sendiri dan bagaimana cara tetap menjadi kaya.

Perilaku mereka sungguh menjijikkan di mata nurani yang belum buta,

Menari-nari di atas luka rakyat yang selama ini mereka jadikan senjata,

Lupa akan janji-janji yang dulu diucapkan dengan linangan air mata palsu,

Sebab nafsu berkuasa telah membuat mereka kehilangan rasa malu.

Di meja perjamuan ini, mereka tertawa sambil saling memuji semu,

Tak sadar bahwa sejarah sedang mencatat setiap langkah yang keliru,

Mereka adalah gerombolan pemburu yang rakus akan kemewahan dunia,

Menghalalkan segala cara demi duduk di puncak singgasana yang fana.

Wahai para penjilat yang bangga akan kemegahan dari hasil khianat,

Suatu saat nanti rakyat akan menagih janji dalam setiap keringat,

Kalian hanyalah bayang-bayang hitam di bawah cahaya matahari,

Yang akan lenyap ketika waktu menuntut balas atas semua janji.(*)

Andra Nuryadi

Back to top button