
Senin pagi ini, antrean kendaraan masih mengular di berbagai SPBU dari Jabodetabek hingga Kupang demi berburu Pertalite. Benarkah stok sengaja dibatasi pasca-kenaikan harga Pertamax, atau sekadar kendala distribusi?
WWW.JERNIH.CO – Memasuki Senin pagi, 15 Juni 2026, pemandangan antrean panjang kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kembali menjadi fenomena umum di berbagai daerah di Indonesia.
Bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite (RON 90) dilaporkan sulit didapat, memicu kekhawatiran masyarakat akan adanya pembatasan terselubung atau pengurangan kuota secara mendadak.
Hingga Senin pagi ini, kelangkaan dan antrean ekstrem Pertalite terjadi secara masif di berbagai titik strategis. Selain wilayah Kota Kupang (NTT) dan Palangka Raya (Kalteng) yang telah dilaporkan mengalami krisis stok sebelumnya, perluasan kelangkaan kini melanda wilayah-wilayah berikut:
Di Jabodetabek (Bogor & Tangerang): Di SPBU Baranangsiang dan Cibuluh, Kota Bogor, antrean kendaraan roda empat meluber hingga keluar area SPBU. Di Kota Tangerang, warga bahkan mengeluhkan harus berkeliling hingga ke 6 SPBU berbeda hanya untuk menemukan stok Pertalite yang tersedia. Pengelola SPBU menyebut pasokan cepat habis karena konsumsi meningkat tajam.
Jalur Provinsi Subang – Pamanukan (Jawa Barat): Sejumlah SPBU di sepanjang jalur utama ini melaporkan kehabisan pasokan total sejak akhir pekan, membuat kendaraan logistik dan warga lokal kesulitan mendapatkan BBM murah.
Jawa Timur (Surabaya, Gresik, & Pamekasan): Di Surabaya dan wilayah Manyar (Gresik), dispenser Pertamax terlihat lengang, sementara jalur Pertalite diserbu antrean motor dan mobil pribadi tanpa putus. Di Pamekasan, antrean di tiga SPBU utama dilaporkan mengular hingga mengganggu kelancaran arus lalu lintas jalan raya.
BACA JUGA: Jalan Keluar Menurunkan Pertamax ke Rp 12.300; Opini Analitis Berbasis Indikator Makro
Para pengamat energi dan pengelola SPBU di lapangan mengonfirmasi bahwa situasi ini dipicu oleh dua faktor utama. Pertama efek domino kenaikan harga Pertamax. Per 10 Juni 2026, harga Pertamax resmi naik menjadi Rp16.250 per liter.
Kenaikan yang cukup signifikan ini memicu “migrasi massal” pengguna mobil pribadi dari Pertamax kembali ke Pertalite yang masih bertahan di harga Rp10.000 per liter. Pihak SPBU di Tangerang mencatat adanya penurunan penjualan Pertamax hingga 20% yang langsung berpindah membebani kuota Pertalite.
Kedua, keterlambatan distribusi dan pengurangan ritase. Beberapa pengawas SPBU mengakui adanya kendala pengiriman dari depot. Pasokan yang biasanya dikirim penuh sebesar 16 kiloliter (KL) sekaligus, kini sering kali dipecah menjadi dua kali pengiriman masing-masing 8 KL dengan jeda keterlambatan hingga setengah hari. Akibatnya, stok sering kali sudah kosong melompong pada pukul 10 pagi sebelum kloter pengiriman berikutnya tiba.
Menanggapi kegaduhan nasional ini, PT Pertamina Patra Niaga melalui Corporate Secretary, Roberth MV Dumatubun, memberikan klarifikasi tegas. Pertamina menjamin bahwa stok Pertalite secara nasional dalam kondisi aman dan mencukupi.
“Kami pastikan distribusi ke seluruh jaringan SPBU berjalan normal. Monitoring stok dilakukan secara real-time melalui sistem terintegrasi. Kelangkaan di beberapa titik lebih disebabkan oleh lonjakan konsumsi yang dinamis dan pergeseran perilaku konsumen pasca-penyesuaian harga Pertamax,” ujar pihak Pertamina dalam keterangan resminya.
Masalahnya kondisi ini sudah berlangsung lebih dari tiga hari. Pertamina terlalu lama mengantisipasi. Pertamina mengklaim terus berkoordinasi dengan 8 Kantor Wilayah (Regional 1-8) di seluruh Indonesia untuk melakukan langkah antisipatif dan mempercepat suplai ke daerah-daerah yang mengalami kekosongan tangki pendam, guna mengurai antrean panjang sesegera mungkin.(*)





