Jumlah Pejabat Muslim di AS Tembus 255 Orang di Tengah Lonjakan Islamofobia

JERNIH — Keterlibatan masyarakat Muslim dalam kancah politik Amerika Serikat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Dewan Hubungan Islam-Amerika (Council on American-Islamic Relations/CAIR) merilis 2026 Directory of Elected Muslim Officials yang mengonfirmasi keberadaan 255 pejabat publik Muslim terpilih yang tersebar di 26 negara bagian.
Geliat partisipasi politik ini dinilai sebagai bukti resiliensi komunitas Muslim Amerika yang menolak bungkam maupun terintimidasi di tengah maraknya sentimen Islamofobia dan serangan politik.
Direktur Eksekutif Nasional CAIR, Nihad Awad, menegaskan bahwa kehadiran ratusan pejabat publik ini menepis narasi miring kelompok ekstremis. Ekstremis anti-Muslim berusaha mendikte bahwa kita tidak memiliki tempat di kursi kekuasaan, namun para pelayan publik ini membuktikannya sebaliknya setiap hari,” tegas Nihad Awad. “Muslim Amerika tidak tinggal diam di pinggiran. Kami melayani tetangga kami, memperkuat komunitas, dan ikut membentuk masa depan bangsa.”
Berdasarkan direktori yang dirilis CAIR, kontribusi pejabat Muslim paling menonjol berada pada tingkat pemerintahan daerah dan legislatif negara bagian:
- Anggota Dewan Daerah (City Council): 98 Orang (38,4% dari total pejabat)
- Legislator Negara Bagian/Senator (DPR & Senat): 56 Orang (18%)
- Hakim: 18 Orang
- Wali Kota: 11 Orang
- Keterwakilan Perempuan: >40% (Lebih dari 4 dari 10 pejabat Muslim adalah perempuan)
Direktur Eksekutif CAIR Action, Basim Elkarra, menyebut data ini menunjukkan peta kekuatan politik komunitas Muslim yang terus mengakar dari bawah. Kendati demikian, ia mengingatkan masih ada 24 negara bagian yang belum memiliki keterwakilan pejabat Muslim terpilih.
Peningkatan partisipasi politik ini diwarnai kemenangan bersejarah di panggung federal. Senator Negara Bagian California, Aisha Wahab, diproyeksikan memenangi pemilihan khusus (special election) untuk mengamankan kursi di Kongres Amerika Serikat.
Politisi Demokrat berhaluan progresif ini berhasil melenggang ke Washington setelah menumbangkan lawannya, Melissa Hernandez, yang didukung dana kampanye fantastis sebesar USD 5 juta (sekitar Rp80 miliar) dari kelompok lobi pro-Israel, AIPAC (American Israel Public Affairs Committee), di minggu-minggu terakhir kampanye.






