Bursa Gading yang Membusuk

Badai keserakahan merobohkan benteng kebenaran, membakar sisa-sisa kesucian yang dulu diagungkan.
Candi ilmu pengetahuan telah runtuh, bertransformasi menjadi pasar tempat moralitas diperdagangkan.
Para penguasa mimbar memelihara sarang tikus, menukar marwah akademis dengan tumpukan rupiah.
Mahkota ketaatan sang pemimpin luntur, bertukar dengan jubah kerakusan yang haus akan amplop emas.
Gedung-gedung kuliah kini berdiri sebagai pabrik, memproduksi ijazah bagaikan komoditas di rak jualan.
Gelar-gelar kehormatan dipajang di etalase, siap dibeli oleh penawar tertinggi tanpa memandang nurani.
Gerbang kampus membuka lebar dadanya, khusus menyambut anak-anak raja tanah dan penguasa modal.
Jalan tol dibangun di atas penderitaan, meloloskan pewaris tahta kaya tanpa usah menanjak terjal.
Jurusan terfavorit menjadi mahkota emas, dipatoki harga ratusan juta bagai perhiasan mewah di etalase.
Timbangan seleksi tak lagi mengukur kejelian otak, melainkan tebalnya dompet yang disodorkan.
Pendidikan diubah menjadi ladang saham, tempat para orang tua menanam modal demi panen kejayaan.
Rumah-rumah dijaminkan dan ternak dijual, demi menebus tiket masuk yang harganya membakar langit.
Pikiran suci tersapu oleh logika dagang, bahwa modal besar harus menghasilkan untung yang berlipat.
Cita-cita mulia mencerdaskan bangsa tercekik, digantikan kalkulasi laba rugi di atas meja transaksi.
Sementara di luar benteng megah itu, pemuda cerdas terpaku menatap gerbang yang terkunci rapat.
Anak-anak keringat hanya mampu menggigit jari, menyaksikan impian mereka terkubur oleh kemiskinan.
Buku-buku tebal yang mereka baca menjadi sia-sia, kalah telak oleh selembar cek yang ditandatangani.
Kecerdasan kini telah menjadi barang asing, terusir oleh keperkasaan uang yang menguasai panggung.
Pena bertinta kebenaran telah patah, digantikan oleh mesin hitung yang tak berjiwa.
Lembaga yang dulu menyalakan pelita, kini menjadi kegelapan yang memadamkan masa depan anak bangsa. (*)
*) Ditulis lewat kemarahan yang meradang atas ulah oknum profesor yang mendagangkan bangku kuliah demi cuan.






