Crispy

Komandan Tertinggi Al-Qassam Gugur Bersama Anak-Istri dalam Serangan Israel di Gaza

JERNIH – Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, secara resmi mengumumkan gugurnya Kepala Staf mereka, Ezzeddin al-Haddad (Abu Suhaib). Tokoh kunci perlawanan Palestina ini gugur syahid bersama istri, anak perempuannya, serta beberapa warga sipil lainnya dalam sebuah operasi pembunuhan bertarget yang dilancarkan militer Israel di pusat Kota Gaza.

Dalam sebuah pernyataan resmi, Al-Qassam mengecam keras serangan tersebut sebagai “pembunuhan pengecut” dan pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata yang sedang berjalan. Al-Qassam menegaskan bahwa kematian sang komandan senior justru akan semakin memperkuat tekad perlawanan rakyat Palestina untuk terus menghadapi pendudukan Israel.

Sebelumnya, sumber internal dari Perlawanan Palestina telah mengonfirmasi kepada jaringan media Al Mayadeen mengenai gugurnya al-Haddad dalam serangan Israel pada Jumat, 15 Mei 2026.

Pasukan pendudukan Israel melancarkan serangan udara mematikan yang menyasar sebuah bangunan tempat tinggal di lingkungan al-Rimal, Kota Gaza. Serangan di kawasan padat penduduk tersebut memicu kehancuran yang sangat masif, mengakibatkan 8 warga Palestina tewas dan lebih dari 40 orang lainnya luka-luka.

Gugurnya al-Haddad langsung direspons oleh ribuan warga Palestina yang turun ke jalan-jalan di Gaza untuk mengantarkan jenazahnya dalam prosesi pemakaman massal.

Sang “Hantu dari Jalur Gaza”

Ezzeddin al-Haddad merupakan salah satu sosok paling legendaris dan misterius di dalam struktur militer Hamas. Lahir di Gaza pada tahun 1970, al-Haddad bergabung dengan Hamas sejak awal pergerakan tersebut didirikan pada era 1980-an. Ia dijuluki sebagai “Ghost of the Gaza Strip” (Hantu dari Jalur Gaza) karena kerahasiaan operasionalnya yang sangat tinggi dan privasinya yang sangat ketat selama bergerak di lapangan.

Al-Haddad naik jabatan menjadi Kepala Staf Al-Qassam menggantikan syahid Mohammad al-Sinwar yang gugur dalam pembunuhan bertarget oleh Israel pada tahun 2025 lalu. Begitu berbahayanya sosok al-Haddad membuat militer Israel sempat mencoba membunuhnya sebanyak enam kali. Tel Aviv bahkan sempat memasang hadiah sayembara senilai $750.000 dolar AS (sekitar Rp12 miliar) bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi terkait keberadaannya.

Selama jalannya Operasi Badai Al-Aqsa (Operation al-Aqsa Flood), al-Haddad merupakan sosok yang bertanggung jawab penuh dalam memastikan keselamatan dan kesejahteraan para tawanan Israel yang ditahan di Gaza.

Beberapa tawanan Israel yang telah dibebaskan mengungkapkan kepada media Israel bahwa mereka sempat bertemu langsung dengan al-Haddad selama berada di Gaza. Mereka membeberkan fakta menarik bahwa al-Haddad selalu bersikeras berbicara dengan mereka menggunakan bahasa Ibrani dan secara langsung menanyakan apakah para tawanan memiliki kebutuhan tertentu.

Bahkan, salah satu tawanan menceritakan bahwa al-Haddad pernah menginstruksikan para pejuang perlawanan untuk mencarikan dan membawakan sebuah buku miliknya yang sempat hilang.

Meskipun kesepakatan gencatan senjata dilaporkan telah tercapai hampir setahun yang lalu, agresi militer Israel di Jalur Gaza nyatanya tetap berlangsung tanpa henti. Selain al-Rimal, serangan Israel pada hari yang sama juga menghantam kamp pengungsian Halawa di Jabalia.

Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa dalam waktu 24 jam terakhir, terdapat tambahan 13 korban jiwa dan 57 korban luka-luka. Dengan tambahan data tersebut, jumlah total korban tewas di Jalur Gaza sejak pecahnya konflik pada 7 Oktober 2023 kini telah meroket drastis mencapai 72.757 orang gugur syahid dan 172.645 orang mengalami luka-luka.

Back to top button