Crispy

Konten Medsos Prajurit AS Bantu Iran Petakan Target Serangan

JERNIH – Di tengah eskalasi perang yang kian membara di Timur Tengah, komando tertinggi militer Amerika Serikat merilis peringatan darurat yakni video dan foto ponsel yang diunggah prajurit AS di media sosial kini menjadi instrumen intelijen gratisan bagi Iran untuk mengarahkan rudal dan drone mereka secara presisi.

Dalam memo internal tertanggal 28 Juli 2026 yang bocor ke publik, Laksamana Brad Cooper, Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), mengungkapkan bahwa Tehran memanfaatkan laporan media massa dan konten Open-Source Intelligence (OSINT) dari ponsel prajurit untuk mengevaluasi efektivitas serangan (Battle Damage Assessment/BDA) secara real-time.

“Dampak langsung yang tak terhindarkan dari kebebasan informasi intelijen ini diukur dengan nyawa personel militer AS dan warga sipil di negara-negara Teluk yang menjadi target,” tulis Cooper. Sebagai tindakan korektif cepat, sejumlah pasukan AS yang ditempatkan di Yordania dilaporkan mulai diperintahkan untuk menyerahkan ponsel pintar mereka.

Satu contoh krusial yang disorot Cooper adalah rekaman kacamata pintar (smart glasses) buatan Meta milik seorang prajurit yang diunggah ke Instagram saat serangan rudal dan drone Iran berlangsung. Video tersebut memperlihatkan lokasi spesifik serta rute evakuasi pasukan menuju bunker perlindungan.

Padahal, menurut Cooper, taktik jamming elektronik dan sistem pertahanan udara AS di lapangan kerap berhasil menyesatkan navigasi senjata lawan. Tanpa rekaman visual dari dalam pangkalan, Iran sebenarnya tidak tahu apakah rudal mereka meleset puluhan meter, menghantam landasan kosong, atau sukses meremukkan fasilitas berpenghuni.

“Iran tahu senjata telah ditembakkan; namun pasukan mereka tidak tahu apakah misil itu meleset 50 meter atau menghantam target,” jelas Cooper. “Analisis dan rincian kerusakan yang dipublikasikan secara terbuka pada dasarnya melakukan fungsi BDA untuk kepentingan Iran secara cuma-cuma.”

Kecerobohan digital ini dinilai memberi “lampu hijau” bagi Iran untuk melancarkan gelombang serangan susulan yang jauh lebih mematikan. Peringatan ini mengemuka setelah konflik yang pecah sejak akhir Februari 2026 tersebut telah menewaskan sedikitnya 18 prajurit AS dan melukai lebih dari 600 personil lainnya.

Guna melengkapi ancaman OSINT, laporan Financial Times mengungkapkan jaringan seluler di seluruh Timur Tengah juga sempat dihantam gelombang serangan siber yang bertujuan meretas koordinat lokasi pasukan serta kontraktor AS.

Di sisi lain, medan tempur konvensional terus memanas. CENTCOM mengonfirmasi bahwa militer AS baru saja melancarkan gelombang serangan berat (heavy wave of strikes) menyasar puluhan target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran, termasuk pusat komando militer, sebagai respons atas penembakan rudal Tehran ke pangkalan AS di Yordania.

Di Irak, operasi udara gabungan AS-Arab Saudi menggempur fasilitas logistik dan persenjataan milik milisi pro-Iran yang dituduh menyerang instalasi minyak Saudi. Aliansi paramiliter Irak, Hashed al-Shaabi, mengonfirmasi serangan tersebut tewas membunuh sedikitnya 20 anggotanya—termasuk lima penasihat militer asal Iran.

Pemerintah Irak mengutuk keras serangan AS-Saudi sebagai pelanggaran kedaulatan yang berbahaya, meski Trump mengklaim operasi militer tersebut telah dikoordinasikan langsung dengan Baghdad.

Back to top button