Perang Lima Bulan Melawan Iran Kuras Habis Rudal Jarak Jauh AS

JERNIH – Perang selama lima bulan melawan Iran yang dilancarkan pemerintahan Donald Trump mulai menggerogoti urat nadi kekuatan militer Amerika Serikat. Laporan eksklusif Reuters mengungkapkan bahwa Pentagon telah menghabiskan “hampir seluruh” cadangan rudal presisi jarak jauh milik Angkatan Darat AS, memicu keprihatinan mendalam terkait kesiapan tempur Washington dalam menghadapi potensi konflik masa depan—khususnya dengan China.
Menurut tiga sumber internal yang mengetahui data arsenal militer AS, amunisi yang terkuras drastis meliputi Army Tactical Missile Systems (ATACMS) dan Precision Strike Missiles (PrSM). Senjata darat-ke-darat berakurasi tinggi seharga lebih dari US$1 juta (sekitar Rp16,2 miliar) per unit ini merupakan tulang punggung doktrin serangan jarak jauh AS tanpa harus mengorbankan jet tempur berawak.
Kondisi gawatnya stok persenjataan ini memicu perdebatan sengit di internal pemerintahan Trump terkait sejauh mana AS dapat melanjutkan pemboman ke Iran tanpa melumpuhkan kemampuan respons krisis globalnya.
Pengurasan masif rudal ATACMS dan PrSM dipicu oleh keputusan strategis Gedung Putih untuk meminimalkan risiko terhadap personel militer. Dibanding mengirim jet tempur berawak untuk menerobos ruang udara Iran yang dijaga ketat, Pentagon memilih memberondong target strategis Iran dari jarak aman menggunakan rudal jarak jauh.
Namun, strategi ini memakan korban pada kesiapan tempur global AS. Stok PrSM (generasi baru) sejak awal sangat terbatas karena baru diproduksi, sementara pesanan skala besar baru dijadwalkan tiba pada 2027.
AS dilaporkan telah membakar hampir separuh (sekitar 50%) dari total pasokan global rudal jelajah Tomahawk berbasis kapal perang dan kapal selam ini. Menurut analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS), AS telah menembakkan sekitar 65% amunisi pencegat Patriot dan menguras setidaknya 38% stok rudal pencegat THAAD sejak Februari hingga Juli 2026.
Analis militer memperingatkan bahwa kelangkaan sistem serang dan pertahanan udara ini menempatkan AS dalam posisi rentan. Rudal-rudal tersebut merupakan instrumen krusial dalam skenario deterensi terhadap ancaman China di kawasan Indo-Pasifik maupun penahanan agresivitas Rusia di Eropa.
Menanggapi laporan krisis stok persenjataan ini, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan tegas dan membantah adanya ancaman kelangkaan.
“Amerika Serikat memiliki jauh lebih banyak amunisi daripada siapa pun di dunia, dan jauh lebih banyak dari yang kita butuhkan,” tegas Trump. “Perusahaan pertahanan kita saat ini memproduksi amunisi dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya dan memperluas pabrik mereka di tingkat rekor.”
Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, turut menepis kekhawatiran tersebut dengan menyatakan bahwa militer AS tetap menjadi kekuatan paling ampuh di dunia dan memiliki cadangan amunisi yang dalam untuk mengeksekusi perintah Presiden.
Meski demikian, para petinggi militer dilaporkan telah berminggu-minggu memberi peringatan tertutup kepada Presiden Trump. Menipisnya sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD menjadi salah satu faktor kunci yang membuat Trump menunda serangan ofensif berskala besar berikutnya ke jantung Iran pekan lalu—meski pejabat lain mengklaim penundaan tersebut akibat tekanan diplomasi dari negara-negara Teluk.
Meskipun produsen raksasa seperti Lockheed Martin (pembuat ATACMS, PrSM, dan THAAD) serta Raytheon/RTX (pembuat Tomahawk dan Patriot) memacu kapasitas produksi ke level tertinggi, para analis memperingatkan bahwa pemulihan stok amunisi butuh waktu bertahun-tahun.
Kesenjangan antara laju konsumsi amunisi di medan tempur Iran dan kapasitas manufaktur darat kini menjadi bukti nyata bahwa perang berkepanjangan dapat melumpuhkan postur militer AS, bahkan sebelum konflik berskala besar dengan kekuatan seimbang seperti China benar-benar pecah.






