
Komuni mengingatkan kita akan air anggur dalam satu piala, yang berasal dari banyak buah anggur yang diperas dan disatukan, lalu dibagi sebagai minuman banyak orang. Melalui roti dan anggur kita kenangkan Yesus yang rela mati agar bisa menjadi makanan rohani bagi setiap orang.
Penulis: P. Kimy Ndelo, CSsR
JERNIH-“Kamu harus memberi mereka makan!”.
Kalimat singkat dan tegas Yesus dalam bacaan Injil hari ini mengingatkan kita akan “koinonia”.
Istilah ini punya dua makna yang dalam. Sederhananya, “communio” di dalam Ekaristi dan “communio” di luar Ekaristi. Atau berbagi makanan rohani dan berbagi kemakmuran jasmani.

Ketika kita menyebut ‘komuni’ yang dibayangkan adalah menerima hosti kudus dan memakannya. Dengannya kita mengalami kesatuan dengan Kristus yang menyerahkan diri menjadi santapan rohani bagi kita. Namun bukan hanya itu.
Kenyataannya kata ‘komuni’ mempunyai makna yang lebih banyak. Komuni mengingatkan kita akan roti yang dikumpulkan dari banyak butir gandum, yang diolah menjadi satu roti yang kemudian dipecah-pecah menjadi santapan banyak orang.
Komuni juga mengingatkan kita akan air anggur dalam satu piala, yang berasal dari banyak buah anggur yang diperas dan disatukan, lalu dibagi sebagai minuman banyak orang. Melalui roti dan anggur kita kenangkan Yesus yang rela mati agar bisa menjadi makanan rohani bagi setiap orang.
Ada unsur PENGORBANAN sekaligus BERBAGI. Ekaristi tanpa dua aspek ini tak berarti apa-apa. Menerima Kristus dan bersatu dengan Dia mesti menghasilkan buah yakni semangat seperti Kristus, berbagi apa yang dimiliki.
Mukjizat memperbanyak roti dan ikan justru terjadi ketika orang-orang rela berbagi dari yang sedikit yang mereka miliki. Komunio dalam ekaristi terjadi ketika kita berbagi makanan rohani dari altar yang sama. Mukjizat ini sangat istimewa dan penting sekali sehingga dikisahkan dalam empat injil sekaligus.
Jika kita menjadi saudara di dalam ekaristi karena berbagi dari satu roti kudus, maka di luar ekaristi kita tetap satu saudara yang selalu berbagi: kegembiraan, dukacita, keberhasilan, ilmu, pengalaman, bahkan harta materi.
Gereja perdana atau gereja awal mempunyai dasar dan ciri hidup koinonia atau berbagi. Semestinya ini juga tetap menjadi semangat gereja masa kini. Mereka yang sudah bersatu dengan Kristus melalui ekaristi akan menjadi orang yang selalu siap berbagi.
Tidak ada orang yang sedemikian miskin sehingga tidak mampu berbagi, dan tidak ada orang yang sedemikian kaya sehingga tidak bisa menerima.
*
Seorang pencuri dibawa ke hadapan hakim untuk diadili. Pencuri itu membela diri bahwa dia mencuri makanan di toko makanan untuk memberi makan anak dan dirinya sendiri sementara dia tidak mempunyai pekerjaan. Dia terpaksa melakukan itu agar tidak mati.
Hakim yang bijak itu mengatakan: “Karena saudara sudah mencuri dan melanggar hukum maka saudara dihukum membayar harga makanan itu seratus ribu rupiah.” Hakim lalu membuka dompetnya dan memberi dia uang seratus ribu rupiah untuk membayar denda. “Dan kepada semua yang hadir di ruang sidang ini, saya menghukum kalian dengan denda lima ribu rupiah karena membiarkan orang ini hampir mati kelaparan di kota kita. Tok! “ Lalu kotak kolekte diedarkan dan semua uang itu diserahkan kepada pria yang dihukum tadi.
(SETETES EMBUN, by P. Kimy Ndelo, CSsR, ditulis di Biara Santo Alfonsus-Konventu Redemptoris Weetebula, Sumba tanpa Wa).






