Krisis Gaza Makin Parah, Antrean Roti Mengular Imbas Israel Cekik Pasokan Tepung dan Minyak Generator

- Saat ini kebutuhan Gaza sekitar 450 ton tepung terigu per hari namun realisasi yang diizinkan masuk hanya 200 ton per hari atau kurang dari separuh kebutuhan riil.
- Masyarakat Gaza kini dicekam ketakutan luar biasa akan kembalinya bencana kelaparan hebat tahun lalu, yang sempat mereda setelah adanya kesepakatan gencatan senjata pada Oktober.
JERNIH – Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kembali memasuki fase kritis. Kelangkaan roti kini meluas secara drastis setelah Israel memperketat pembatasan masuknya komoditas tepung terigu dan bahan bakar ke wilayah kantong yang luluh lantak akibat perang tersebut.
Warga Palestina kini harus bertaruh nyawa dan tenaga, mengantre hingga belasan jam di bawah terik matahari yang menyengat demi mendapatkan seplastik roti untuk bertahan hidup.
Bagi keluarga-keluarga di Gaza yang mayoritas hidup terlantar di pengungsian, roti bukan lagi sekadar makanan pendamping, melainkan penyambung nyawa utama di tengah lenyapnya bahan pangan lain.
Muhammed al-Roubi, seorang remaja berusia 14 tahun, harus berbagi tugas dengan sepupunya agar peluang membawa pulang roti menjadi lebih besar. “Keluarga paman saya dan keluarga kami tinggal di rumah yang sama. Kami butuh roti dalam jumlah banyak setiap hari. Itu alasan saya dan sepupu sengaja berdiri di dua jalur antrean yang berbeda,” ujar al-Roubi mengutip laporan Al Jazeera. “Sering kali kami pulang dengan tangan kosong karena roti habis dan jumlah orang terlalu banyak.”
Nasib lebih tragis menimpa Maysar Abu Rekab (72), seorang janda yang harus menghidupi tiga anggota keluarga dengan disabilitas. “Dulu kami mendapat jatah roti dari Program Pangan Dunia (WFP), tapi sekarang sangat sulit. Harus mengantre sangat panjang dan tidak ada satu pun anggota keluarga kami yang mampu berdiri fisik di sana,” ratap Maysar.
Kelangkaan akut ini terjadi akibat kebijakan sepihak Israel pasca pecahnya perang gabungan dengan Amerika Serikat melawan Iran pada 28 Februari lalu. Israel menutup seluruh pintu perbatasan, dan meskipun sempat dibuka parsial beberapa hari kemudian, jumlah truk logistik yang diizinkan masuk sangat dibatasi.
Saat ini kebutuhan Gaza sekitar 450 ton tepung terigu per hari namun realisasi yang diizinkan masuk hanya 200 ton per hari atau kurang dari separuh kebutuhan riil.
Lebih dari sepertiga penduduk Gaza menggantungkan hidup pada roti bersubsidi dari toko-toko binaan WFP, di mana satu paket berisi 8–9 lembar roti pita dijual seharga US$1 (sekitar Rp16.000). Namun, karena pasokan gandum dari WFP terus dicekik oleh blokade Israel, harga roti di pasar gelap melambung tinggi hingga mencapai 10–15 shekel (US$3,45 hingga US$5,17) per paket—sebuah angka yang mustahil dijangkau oleh warga berpenghasilan rendah.
Penyebab lumpuhnya toko-toko roti di Gaza tidak hanya karena absennya gandum, melainkan juga krisis energi yang gila-gilaan. Sejak satu-satunya pembangkit listrik Gaza hancur di awal perang, seluruh toko roti bergantung penuh pada generator mandiri.
Kini, Israel melarang masuknya minyak pelumas (oil) yang sangat dibutuhkan untuk merawat mesin-mesin generator tersebut. Dampaknya, harga di pasar gelap meledak di luar nalar.
“Kerja kami bergantung pada generator listrik yang butuh ganti oli rutin. Hari ini, harga 1 liter oli mesin telah menyentuh 2.000 shekel (sekitar US$689 atau setara Rp11 Juta!). Ini angka yang sangat gila, padahal kami butuh puluhan liter, bukan cuma satu liter,” keluh Shadi Abu Gharqoud, seorang pekerja toko roti.
Selain urusan roti, warga Gaza juga dihantam krisis berlapis yang membuat aktivitas domestik lumpuh total. Distribusi gas untuk memasak yang dikelola Kementerian Ekonomi kini melambat drastis, dari yang biasanya didapat sekali per 6 minggu, kini menjadi sekali per 3 bulan imbas pembatasan kuota oleh Israel. Karena tidak ada gas dan listrik, warga beralih menggunakan kayu bakar untuk memasak di rumah, yang seketika membuat harga komoditas kayu ikut melambung tinggi.
Masyarakat Gaza kini dicekam ketakutan luar biasa akan kembalinya bencana kelaparan hebat tahun lalu, yang sempat mereda setelah adanya kesepakatan gencatan senjata pada Oktober.
Ironisnya, laporan media Israel menyebutkan bahwa Dewan Perdamaian yang dipimpin AS tidak akan menekan atau menuntut pertanggungjawaban Israel atas pelanggaran poin-poin gencatan senjata ini, kecuali jika kelompok Hamas bersedia melucuti seluruh senjatanya terlebih dahulu.
“Saat kelaparan terakhir terjadi, orang-orang mati di jalanan hanya demi sepotong roti. Apakah dunia tidak melihat itu? Krisis ini harus diselesaikan sebelum semuanya terlambat,” pungkas Maysar dengan penuh keputusasaan.






