Laba Bank BRI 2025 Rp 57,13 Triliun, Turun Dibanding 2024

Sejak 2023 laba Bank BRI turun terus. Tahun 2025 bahkan menembus minus 5,26%. Toh, Bank BRI masih tertinggi dibanding Bank Himbara lain.
WWW.JERNIH.CO – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. resmi merilis laporan keuangan tahun penuh (Full Year) 2025 dengan capaian yang tetap kokoh di puncak industri perbankan nasional, meski menghadapi dinamika ekonomi global yang menantang.
BRI berhasil membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp57,13 triliun. Walaupun angka ini menunjukkan penurunan tipis sekitar 5,26% dibandingkan dengan perolehan tahun 2024 yang mencapai Rp60,30 triliun, BRI tetap menunjukkan fundamental yang sangat resilien, terutama didorong oleh ekspansi kredit di sektor UMKM.
Pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) tetap menjadi mesin utama pertumbuhan BRI. Sepanjang tahun 2025, NII BRI tumbuh 5,54% secara tahunan menjadi Rp151,8 triliun. Pertumbuhan ini berakar dari penyaluran kredit yang sangat ekspansif, di mana total kredit mencapai Rp1.521,5 triliun atau tumbuh 12,3% (yoy), jauh di atas pertumbuhan industri perbankan nasional yang rata-rata berada di angka 9,6%.
Segmen Mikro tetap menjadi tulang punggung utama. Melalui integrasi Holding Ultra Mikro (bersama Pegadaian dan PNM), BRI terus memperdalam penetrasi ke masyarakat bawah. Kontribusi kredit UMKM terhadap total portofolio BRI mencapai lebih dari 80%, mengukuhkan posisi mereka sebagai bank penyalur kredit rakyat terbesar.
Selain pendapatan bunga, Fee-Based Income (FBI) juga melonjak signifikan berkat transformasi digital lewat aplikasi BRImo dan keberadaan agen BRILink yang kini jumlahnya melampaui 1,1 juta agen di seluruh Indonesia.
Jika dibandingkan dengan kinerja historisnya, tahun 2025 menjadi periode “konsolidasi kualitas” bagi BRI, di mana perusahaan lebih memprioritaskan penguatan fundamental dan manajemen risiko dibandingkan sekadar mengejar angka pertumbuhan laba yang agresif.
Berdasarkan data tiga tahun terakhir, laba bersih BRI menunjukkan tren yang cukup dinamis, dimulai dari pencapaian tertinggi pada tahun 2023 sebesar Rp60,40 triliun (tumbuh 17,5%), kemudian mengalami stagnasi tipis pada 2024 di angka Rp60,30 triliun (-0,16%), hingga akhirnya terkoreksi menjadi Rp57,13 triliun (-5,26%) pada tahun 2025 akibat peningkatan alokasi pencadangan untuk menjaga kualitas aset di tengah tantangan ekonomi makro.
Penurunan laba bersih di tahun 2025 utamanya disebabkan oleh peningkatan beban pencadangan (impairment) guna menjaga kualitas aset. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross BRI tercatat merangkak naik ke level 3,29% dari sebelumnya 2,94% di tahun 2024. Manajemen memilih untuk lebih konservatif dengan mempertebal cadangan kerugian guna mengantisipasi risiko di segmen mikro, yang mengakibatkan laba bersih sedikit tertekan meski pendapatan bunga terus tumbuh.
BRI masih memegang gelar sebagai bank dengan laba terbesar di antara Himbara, meskipun selisihnya dengan Bank Mandiri semakin menipis. Keunggulan BRI terletak pada skala asetnya yang telah menembus Rp2.135 triliun, sementara Bank Mandiri unggul dalam efisiensi operasional dan biaya dana (Cost of Fund) yang lebih rendah.
Kinerja BRI pada tahun 2025 mencerminkan sikap kehati-hatian (prudence) manajemen dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi. Meski laba bersih mengalami koreksi, kemampuan BRI untuk tetap mencetak angka di atas Rp50 triliun membuktikan bahwa model bisnis pemberdayaan UMKM mereka masih sangat relevan dan menguntungkan.
Fokus pada digitalisasi melalui BRImo dan penguatan ekosistem ultra mikro diprediksi akan kembali mendongkrak profitabilitas di tahun-tahun mendatang seiring dengan normalisasi biaya pencadangan.(*)
BACA JUGA: Ini Dia 15 Daerah dengan Simpanan Dana Terbanyak di Bank






