Lamine Yamal, Bendera Palestina, dan Ketakutan Ben-Gvir

Dengan bendera Palestina di tangannya, bintang muda ini membawa pesan kemanusiaan yang melampaui batas lapangan hijau. Mengapa aksi tulus ini membuat politisi seperti Itamar Ben-Gvir “kebakaran jenggot”.
WWW.JERNIH.CO – Pesta arak-arakan tim Barcelona setelah memastikan menjadi juara La Liga diwarnai dengan pengibaran bendera Palestina oleh bintang mreka, Lamine Yamal.
Sebagai talenta muda paling bersinar di jagat sepak bola saat ini, setiap gerak-gerik Yamal di bawah sorotan kamera selalu menjadi buah bibir. Namun, ketika olahraga bersinggungan dengan isu geopolitik yang sensitif, reaksi yang muncul sering kali membelah opini publik secara ekstrem.
Aksi Lamine Yamal mengibarkan bendera Palestina sebenarnya berakar pada identitas personal dan rasa solidaritas kemanusiaan. Yamal lahir di Spanyol, namun ia memiliki darah keturunan Afrika yang kuat; ayahnya berasal dari Maroko dan ibunya dari Guinea Khatulistiwa.
Di komunitas Arab dan Afrika Utara, isu Palestina bukan sekadar isu politik jarak jauh, melainkan bagian dari identitas kolektif dan perjuangan moral yang mendalam.
Pada sisi lain sikap pemerintah Spanyol saat ini merupakan salah satu yang paling vokal dan progresif di Eropa dalam mendukung kedaulatan Palestina. Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Pedro Sánchez, Spanyol telah mengambil langkah-langkah diplomatik bersejarah yang membedakannya dari banyak negara Barat lainnya.
Malah pada Pada 28 Mei 2024, Spanyol secara resmi mengakui Palestina sebagai sebuah negara merdeka.
Kembali ke Yamal, mengibarkan bendera tersebut sering kali dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap hak asasi manusia dan bentuk empati terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza. Dalam budaya sepak bola modern, banyak pemain keturunan Arab (seperti para pemain timnas Maroko di Piala Dunia 2022) menggunakan panggung besar untuk menunjukkan dukungan serupa. Bagi mereka, bendera tersebut adalah simbol ketahanan dan pengingat bagi dunia tentang konflik yang belum usai.
Aksi ini memicu kemarahan hebat dari Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir. Tokoh politik sayap kanan ekstrem ini dikenal memiliki kebijakan garis keras terhadap simbol-simbol Palestina.
Bagi Ben-Gvir yang kebakaran jenggot dan kelompok kanan di Israel, pengibaran bendera Palestina di ruang publik—terlebih oleh figur global—dianggap sebagai bentuk provokasi politik dan dukungan terhadap narasi yang menentang keberadaan negara Israel.
Lamine Yamal adalah ikon bagi generasi muda di seluruh dunia. Ben-Gvir menyadari bahwa ketika seorang bintang dengan jutaan pengikut melakukan aksi simbolis, hal itu memperkuat dukungan internasional bagi Palestina, yang secara diplomatis merugikan posisi Israel di mata publik dunia.
Ben-Gvir secara konsisten mengusulkan pelarangan bendera Palestina di wilayah Israel. Baginya, melihat bendera tersebut “menang” di panggung olahraga internasional adalah sebuah kekalahan ideologis yang harus ia lawan dengan retorika keras demi menjaga basis konstituennya.
Yamil seperti tak mempedulikan reaksi Ben-Gvir. Meskipun aksi ini menuai kecaman keras dari tokoh seperti Ben-Gvir, bagi banyak penggemarnya di seluruh dunia, keberanian Yamal justru dianggap sebagai bentuk integritas dari seorang atlet muda yang tidak lupa akan akar dan nilai-nilai kemanusiaannya.(*)
BACA JUGA: Pujian Ronaldinho untuk Lamine Yamal dan Estafet Nomor 10 Barcelona






