Crispy

Lebanon Berduka Setelah Esperanza Ghandour, Kepala Sekolah Perempuan Beprestasi Gugur dalam Serangan Udara Israel

JERNIH — Suasana duka yang mendalam menyelimuti sektor pendidikan di Lebanon Selatan. Gelombang penghormatan emosional terus mengalir untuk Esperanza Ghandour, seorang kepala sekolah berdedikasi yang tewas dalam serangan udara Israel di jalanan Nabatieh al-Fawqa pada Senin lalu.

Ghandour gugur di dalam jip Cherokee miliknya bersama sang ibu, Jamal Ali Salem (seorang warga negara Suriah), serta seorang pekerja migran domestik. Tragedi ini terjadi saat mereka sedang dalam perjalanan pulang setelah meninjau rumah keluarga mereka—sebuah ritual berisiko yang kini terpaksa dilakukan warga pengungsian Lebanon di tengah kecamuk perang.

Sejawat, mantan siswa, tokoh politik, hingga organisasi guru mengenang sosoknya bukan sekadar sebagai korban konflik, melainkan sebagai pahlawan literasi yang telah mengubah wajah pendidikan di wilayahnya.

Sebelum Esperanza Ghandour mengambil alih kepemimpinan lima tahun lalu, Sekolah Resmi Youssef Shamoun di Nabatieh al-Fawqa berada di ambang keterpurukan. Prestasi akademik sekolah tersebut merosot tajam, berbanding lurus dengan jumlah murid yang terus menyusut dari tahun ke tahun.

Namun, lewat tangan dingin Ghandour, sekolah tersebut bangkit kembali secara total. Ia menginisiasi pelatihan intensif untuk para guru serta mereformasi metode pembelajaran menjadi lebih adaptif. Hasilnya, reputasi sekolah pulih sepenuhnya dan kembali memikat ratusan siswa baru untuk menuntut ilmu.

Selain dikenal luas sebagai tokoh pendidikan yang disegani, Ghandour juga merupakan istri dari Wissam Qanso, seorang anggota Dewan Tertinggi Partai Nasionalis Sosial Suriah (SSNP). Dedikasinya yang tanpa pamrih dalam mendukung para siswa menjadikannya figur yang sangat dicintai di seluruh penjuru Nabatieh.

Rekaman Suara Terakhir yang Viral

Sesaat sebelum serangan udara tersebut menghantam mobilnya, Ghandour sempat mengirimkan sebuah pesan suara (voice note) kepada salah seorang rekan sejawatnya. Rekaman emosional itu kini menyebar luas di media sosial Lebanon sebagai simbol keteguhan hati di tengah reruntuhan.

Dalam pesan suara tersebut, Ghandour mengungkapkan rasa rindunya yang mendalam karena berbulan-bulan terpaksa mengungsi dan tidak bisa menginjakkan kaki di Nabatieh akibat ofensif militer Israel. Namun, ia tetap menyelipkan pesan penguat yang begitu tegar.

“Kita harus tetap bersabar dan menjaga iman, terlepas dari segala penderitaan dan kegelapan yang sedang mengepung negara kita saat ini,” ucap Ghandour dalam rekaman terakhirnya.

Tak lama setelah pesan itu terkirim, hantaman rudal udara menyudahi langkahnya. Tim penyelamat dari Palang Merah Lebanon, Pertahanan Sipil, Asosiasi Pramuka Islam, dan Otoritas Kesehatan Islam langsung bergegas ke lokasi kejadian pasca-ledakan untuk mengevakuasi para korban ke rumah sakit terdekat di Nabatieh.

Kematian Ghandour memicu gelombang kecaman keras dari berbagai faksi politik dan asosiasi guru di Lebanon, yang menyebut insiden ini sebagai kekejaman berdarah dingin terhadap warga sipil yang dilindungi hukum internasional.

Ihab Hamadeh, anggota Komite Pendidikan Parlemen Lebanon, menegaskan bahwa pembunuhan berulang terhadap warga sipil telah melanggar kesepakatan gencatan senjata sekaligus kedaulatan Lebanon. “Entitas Zionis hari ini melakukan kejahatan mengerikan terhadap warga sipil, menambah panjang daftar pembantaian mereka,” cetusnya keras.

Biro Pendidikan Gerakan Amal menyebut Ghandour sebagai “pilar pendidikan dan ketulusan”, sementara Vera Yammine dari Biro Politik Gerakan Marada menuliskan pesan perpisahan yang menyentuh bahwa mendiang telah membesarkan generasi untuk mencintai seluruh tanah air mereka.

Tragedi yang menimpa Ghandour menjadi potret kelam dari situasi Lebanon yang kian mengerikan. Sejak konflik pecah pada Oktober 2023, serangan militer Israel telah merenggut lebih dari 8.246 nyawa di Lebanon. Horor ini semakin menjadi-jadi dalam empat bulan terakhir sejak eskalasi besar-besaran dimulai pada 2 Maret 2026, di mana lebih dari 4.300 orang gugur dalam waktu yang sangat singkat.

Gugurnya Esperanza Ghandour menegaskan bahwa perang ini tidak hanya meruntuhkan gedung-gedung beton, tetapi juga merenggut figur-figur terbaik yang bertugas merawat masa depan generasi muda Lebanon.

Back to top button