Crispy

Mayoritas Publik Inggris Tuding Israel Lakukan Genosida, Desak Sanksi Total

JERNIH — Sebuah jajak pendapat terbaru yang dirilis lembaga survei terkemuka YouGov memicu tekanan politik hebat bagi pemerintahan baru Inggris yang diprediksi akan dipimpin oleh Andy Burnham. Survei nasional ini menunjukkan bahwa opini publik Inggris kini berada di kutub yang berlawanan dengan kebijakan luar negeri resmi pemerintah mereka terkait konflik di Gaza.

Jajak pendapat yang dimandatkan oleh Dewan Pemahaman Arab-Inggris (CAABU) tersebut mengungkapkan fakta mengejutkan: setengah dari total populasi Inggris (50%) meyakini bahwa kampanye militer Israel di Jalur Gaza merupakan sebuah tindakan genosida. Angka tersebut berbanding terbalik dengan hanya sekitar 17% responden warga yang menolak tudingan tersebut.

Ketidakpuasan publik Inggris tidak berhenti pada pelabelan status konflik. Mayoritas warga Britania Raya kini menuntut tindakan nyata yang jauh lebih agresif dari pemerintah mereka untuk menghentikan aksi militer Israel.

Dalam survei yang melibatkan lebih dari dua ribu responden dewasa pada awal Juli 2026 ini, sebanyak 57% warga Inggris mendesak pemerintah untuk menghentikan total ekspor senjata ke Israel. Dukungan publik juga meluas ke ranah ekonomi, di mana sekitar 45% responden menyetujui pemberlakuan embargo perdagangan total, 48% mendukung pembatasan impor atau tarif, hingga 48% meminta pembekuan aset finansial terhadap individu-individu yang memiliki hubungan dengan Israel.

Sentimen anti-permukiman ilegal Israel di Tepi Barat juga menguat tajam di Inggris. Sebanyak 48% warga mendukung pelarangan perdagangan dengan wilayah permukiman tersebut serta 49% mendukung pemboikotan pameran properti Israel di dalam negeri Inggris—sebuah isu yang belakangan memicu demonstrasi besar di wilayah Edgware, London.

Direktur CAABU, Chris Doyle, menegaskan bahwa hasil survei ini menjadi sinyal merah bagi para penguasa di London. Menurutnya, meskipun pemerintah Inggris sempat menjatuhkan sanksi terbatas kepada dua menteri Israel dan beberapa kelompok pemukim ekstremis, langkah tersebut dinilai masih sangat jauh dari ekspektasi riil masyarakat.

“Kesimpulan utamanya sangat sederhana: opini publik Inggris dan posisi resmi pemerintah saat ini adalah dua hal yang bertolak belakang,” ujar Chris Doyle kepada The New Arab.

Doyle juga mengkritik keras sikap keras kepala berturut-turut dari otoritas Westminster yang menolak terlibat dalam debat hukum mengenai status genosida, padahal berbagai lembaga PBB, pakar hukum internasional, dan akademisi dunia telah mengeluarkan laporan senada. Bahkan, survei mencatatkan bahwa 55% warga Inggris merasa London sudah sepatutnya memutuskan hubungan aliansi dengan Israel, dan hanya 15% yang ingin aliansi itu tetap berjalan.

Sinyal Bahaya untuk Andy Burnham

Jika dibedah berdasarkan kepatuhan partai, isu Gaza ini berpotensi memicu keretakan di dalam tubuh internal partai penguasa. Di kalangan pemilih Partai Buruh (Labour), angka penudingan genosida melonjak tajam hingga mencapai 67%. Angka yang hampir serupa juga ditemukan pada pemilih Partai Libdem (66%) dan Partai Hijau (65%).

Bahkan di internal Partai Konservatif yang dikenal condong ke Israel, sepertiga pemilihnya (33%) sepakat bahwa aksi Israel adalah genosida, mengalahkan jumlah pemilih mereka sendiri yang tidak setuju (26%). Satu-satunya partai besar yang mayoritas pendukungnya membela Israel hanyalah Reform UK, dengan 42% menolak label genosida dan 25% menerimanya.

Doyle menambahkan, dinamika ini membawa implikasi mendalam bagi Andy Burnham yang digadang-gadang akan menggantikan posisi Keir Starmer sebagai Perdana Menteri Inggris pasca-mundurnya Starmer. “Burnham harus menghadapi kenyataan bahwa sebagian besar pemilih Partai Buruh menganggap situasi ini sebagai genosida,” tambah Doyle.

Jika Burnham memilih mengabaikan suara mayoritas ini, ia tidak hanya menantang arus opini publik, melainkan juga harus siap menghadapi gelombang perlawanan dari barisan anggota parlemen faksi kiri (backbench MPs) di internal partainya sendiri yang terus mendesak sanksi keras terhadap Tel Aviv.

Back to top button