
Iran mampu memproduksi massal drone serangan satu arah dengan biaya ribuan dolar. Sebaliknya, satu rudal pencegat THAAD atau Patriot menelan biaya ratusan ribu hingga jutaan dolar per unit.
JERNIH – Di tengah gemuruh ledakan yang mengguncang Teheran dan pembalasan rudal Iran yang menyasar pangkalan Amerika Serikat (AS) di seluruh Timur Tengah, sebuah pertanyaan krusial muncul dari balik dinding Pentagon, berapa lama stok senjata AS bisa bertahan?
Kebocoran dokumen Pentagon pekan lalu memberikan sinyal peringatan yang mengkhawatirkan. Jika intensitas serangan terhadap Iran berlanjut lebih dari 10 hari, stok misil kritis Washington dilaporkan akan mulai menipis.
Presiden Donald Trump menampik kekhawatiran tersebut dengan gaya khasnya. Melalui Truth Social, ia mengeklaim bahwa pasokan amunisi AS berada pada level tertinggi sepanjang sejarah.
“Kita memiliki pasokan senjata yang secara virtual tidak terbatas. Perang bisa diperjuangkan ‘selamanya’ dan dengan sangat sukses hanya dengan pasokan ini,” tulis Trump, Selasa (2/3/2026), mengutip laporan Al Jazeera.
Namun, para analis dan pejabat militer memberikan gambaran yang jauh lebih suram. Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, dikabarkan telah memperingatkan Trump bahwa kampanye militer yang berkepanjangan membawa risiko serius, terutama biaya selangit untuk mengisi kembali gudang senjata yang sudah terkuras akibat dukungan ke Israel dan Ukraina.
Salah satu titik lemah utama AS bukanlah jumlah pesawat tempur, melainkan stok misil pencegat (interseptor). Saat Iran meluncurkan rentetan drone dan rudal balistik, AS harus menggunakan sistem pertahanan canggih seperti THAAD dan Patriot.
Iran mampu memproduksi massal drone serangan satu arah dengan biaya ribuan dolar. Sebaliknya, satu rudal pencegat THAAD atau Patriot menelan biaya ratusan ribu hingga jutaan dolar per unit.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengakui adanya ketimpangan output. “Iran diperkirakan memproduksi lebih dari 100 rudal per bulan. Bandingkan dengan kita yang hanya bisa memproduksi enam atau tujuh pencegat per bulan,” ungkap Rubio.
Sebagai gambaran, dalam perang singkat 12 hari tahun 2025 lalu, AS harus menghabiskan 150 misil THAAD—sekitar 25% dari total stok globalnya saat itu—hanya untuk membendung serangan Iran.
CENTCOM (Komando Pusat AS) melaporkan telah menggunakan lebih dari 20 sistem senjata dalam operasi ini, termasuk:
- Pesawat Siluman: Pembom B-2, jet tempur F-35 Lightning II, dan F-22 Raptor.
- Sistem Serang Jarak Jauh: Misil jelajah Tomahawk dan roket HIMARS.
- Drone Canggih: MQ-9 Reaper dan sistem nirawak berbiaya rendah (LUCAS).
- Gugus Tempur Laut: Dua kapal induk, USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford, sudah bersiaga di perairan Timur Tengah.
Christopher Preble, peneliti senior dari Stimson Center, menjelaskan bahwa masalah utama bukanlah uang, melainkan keterbatasan fisik stok. Jika AS terus menguras interseptornya di Timur Tengah, maka wilayah lain akan menjadi rawan.
“Senjata-senjata ini seharusnya dikirim ke Ukraina atau disimpan di kawasan Indo-Pasifik sebagai antisipasi konflik di sana. Memindahkan mereka ke Timur Tengah akan menciptakan celah pertahanan di teater lain,” jelas Preble kepada Al Jazeera.
Meskipun angka resmi belum dirilis, estimasi menunjukkan biaya yang sangat fantastis:
- 24 Jam Pertama: Operasi di Iran menelan biaya sekitar US$779 juta.
- Mobilisasi Awal: Persiapan pengerahan kapal induk dan pesawat memakan biaya US$630 juta.
- Operasional Harian: Mengoperasikan satu gugus tempur kapal induk seperti USS Gerald R. Ford membutuhkan dana sekitar US$6,5 juta per hari.
Meskipun AS memiliki anggaran pertahanan triliunan dolar, perang melawan Iran membuktikan bahwa teknologi canggih memiliki batas pada skala produksi dan ketahanan stok. Jika Teheran mampu terus menghujani wilayah tersebut dengan rudal murah dalam beberapa minggu ke depan, Washington mungkin akan menghadapi pilihan sulit: membiarkan pangkalan mereka tanpa perlindungan atau menguras cadangan yang seharusnya digunakan untuk mencegah konflik global yang lebih besar.






