CrispyVeritas

Membedah Nalar Kritis dalam Buku “Menggugat Republik”

Dr. Syahganda Nainggolan merilis buku ketiganya berjudul Menggungat Republik, yang merupakan buah pikirannya yang pernah dituangkan di berbagai media maupun podcast.

WWW.JERNIH.CO – Dalam lanskap politik Indonesia yang dinamis, kehadiran intelektual organik yang berani bersuara di luar batas kenyamanan kekuasaan adalah sebuah keniscayaan bagi kesehatan demokrasi. Dr. Syahganda Nainggolan, melalui karya terbarunya yang bertajuk “Menggugat Republik (Politik, Keadilan Sosial, dan Kemandirian Bangsa)”, hadir mengisi ruang diskursus tersebut.

 Sebagai Ketua Dewan Direktur Great Institute dan aktivis kawakan, Syahganda tidak sekadar menyajikan teori-teori akademis yang kering, melainkan sebuah dialektika yang tajam antara keresahan sosial dan analisis kebijakan yang mendalam.

Buku ini merupakan antologi gagasan yang terbagi ke dalam sepuluh bab komprehensif. Syahganda memotret berbagai fenomena krusial, mulai dari arah ekonomi baru yang ia sebut sebagai Prabowonomics, urgensi ekonomi koperasi, hingga karut-marut demokrasi hukum dan politik di tanah air.

Tidak berhenti di sana, ia juga memberikan kritik pedas terhadap era pemerintahan Jokowi, menyoroti gurita korupsi dan oligarki, hingga memperluas cakrawala pembaca pada isu-isu kemanusiaan global seperti Palestina serta peran Islam dan manajemen bencana.

BACA JUGA: Syahganda : Muhammadiyah Seharusnya Ambil Peran dalam Kampanye Anti Islamofobia

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada keberaniannya menempatkan rakyat sebagai subjek utama, bukan sekadar objek pembangunan. Sebagaimana dikutip dari pengantar Prof. Dr. Ir. H. Sufmi Dasco Ahmad, buku ini adalah kontribusi intelektual yang mengingatkan bahwa demokrasi yang sehat membutuhkan keberanian untuk membuka ruang koreksi.

Syahganda melihat bahwa tanpa keseimbangan dan kontrol yang kuat, negara berisiko kehilangan arah dalam menyejahterakan rakyatnya.

Pembahasan mengenai Prabowonomics dan ekonomi koperasi menarik untuk disimak. Di sini, Syahganda mencoba menawarkan jalan keluar dari ketergantungan pada model pembangunan yang terlalu liberal dengan mendorong kemandirian bangsa. Ia berargumen bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengabaikan keadilan sosial.

Hal ini senada dengan pandangan Prof. Brian Yuliarto, Menteri Sains, Teknologi, dan Inovasi RI, yang menyebut tulisan Syahganda sebagai “teguran moral” bagi bangsa yang berlari cepat secara material namun sering kali meninggalkan aspek manusiawi.

Bab-bab yang membahas tentang buruh dan kritik terhadap oligarki menunjukkan keberpihakan Syahganda yang konsisten. Sebagai intelektual yang besar di medan gerakan, ia memahami betul struktur kekuasaan yang sering kali menindas kelas pekerja.

Dr. Moh Jumhur Hidayat, Ketua Umum KSPSI, dengan tepat menggambarkan bahwa bagi Syahganda, kata-kata adalah alat perlawanan dan analisis adalah kompas zaman. Buku ini menjadi dokumen penting yang merekam perjuangan gagasan dalam membela hak-hak rakyat kecil di tengah kepungan kepentingan modal.

Menariknya, buku ini tidak hanya berkutat pada isu domestik. Pandangan Syahganda mengenai Palestina dan politik luar negeri menunjukkan bahwa konsep “Republik” yang ia gugat adalah sebuah entitas yang harus memiliki integritas moral di mata dunia. Ia menuntut Indonesia untuk tetap konsisten pada konstitusi yang menjunjung tinggi penghapusan penjajahan di atas dunia.

Secara keseluruhan, “Menggugat Republik” adalah bacaan wajib bagi para akademisi, aktivis, praktisi hukum, hingga pembuat kebijakan yang ingin melihat Indonesia dari kacamata yang berbeda—kacamata yang kritis, jujur, dan berpihak pada kebenaran. Syahganda berhasil merajut berbagai isu yang tampak terfragmentasi menjadi satu narasi besar tentang bagaimana seharusnya sebuah negara dijalankan.

Meski berisi kritik yang tajam, buku ini tidak bermaksud meruntuhkan, melainkan “menggugat” dalam arti mengajak kembali ke khitah bernegara yang benar. Melalui gaya bahasa yang lugas namun berisi, Syahganda Nainggolan membuktikan bahwa intelektualitas sejati adalah ia yang berani bersaksi di tengah badai perubahan. Buku ini bukan hanya sekadar kumpulan tulisan, melainkan sebuah rambu moral yang mengingatkan kita semua tentang wajah Indonesia yang seharusnya: mandiri, adil, dan bermartabat.(*)

BACA JUGA: Syahganda Nainggolan: Lahat Bagian dari Sejarah Palestina Merdeka

Back to top button