
Bagi negara-negara Teluk, kehancuran negara Iran jauh lebih menakutkan daripada permusuhan dengan Iran yang masih berfungsi. Mereka khawatir implosinya Iran akan melepaskan gelombang ketidakstabilan permanen—mulai dari krisis pengungsi besar-besaran.
JERNIH – Di tengah gempuran udara Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran, negara-negara tetangga di kawasan Teluk kini berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Meski kerap berselisih dengan Teheran, negara-negara Arab di sekitarnya justru menunjukkan sikap menahan diri yang tidak terduga.
Bukan karena mendukung rezim Iran, namun mereka didorong oleh kalkulasi strategis yang dingin: ketakutan bahwa kehancuran Iran akan memicu kiamat ekonomi dan keamanan di seluruh kawasan.
Wacana penggulingan rezim di Teheran yang sering digaungkan di Washington dan Tel Aviv justru ditanggapi dengan skeptis oleh para pembuat kebijakan di Teluk. Pengalaman pahit di Afghanistan dan Irak menjadi pelajaran berharga bagi mereka.
“Strategi regime change (penggantian rezim) telah dicoba di Afghanistan dan Irak, dan terbukti gagal. Apakah Anda pikir negara berpenduduk 90 juta jiwa akan jatuh begitu saja dengan mudah?” ujar Bader Al-Saif, profesor dari Universitas Kuwait kepada Le Monde.
Bagi negara-negara Teluk, kehancuran negara Iran jauh lebih menakutkan daripada permusuhan dengan Iran yang masih berfungsi. Mereka khawatir implosinya Iran akan melepaskan gelombang ketidakstabilan permanen—mulai dari krisis pengungsi besar-besaran, tumpahan milisi ke negara tetangga, hingga perang proksi yang tak terkendali.
Faktor lain yang membuat negara-negara Teluk memilih menahan diri adalah sikap dari Washington sendiri. Dalam wawancara terbaru dengan The New York Times, Presiden Donald Trump mengisyaratkan bahwa ia tidak merasa perlu bagi negara-negara Arab untuk bergabung secara langsung dalam serangan fisik terhadap Iran.
Pesan ini memberikan “napas lega” bagi ibu kota negara-negara Teluk. Mereka tidak lagi merasa ditekan untuk membuktikan loyalitas melalui tindakan ofensif. Alhasil, mereka lebih memilih mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk serangan Iran, sembari membatasi diri pada koordinasi pertahanan kolektif tanpa melakukan operasi pembalasan mandiri.
Eskalasi terbaru menunjukkan bahwa rudal-rudal Iran tidak lagi hanya mengincar fasilitas militer, tetapi mulai menyasar zona industri, bandara, dan area perkotaan. Bagi negara-negara Teluk, membalas serangan Iran secara langsung sama saja dengan mengundang “hujan rudal” yang lebih berat ke arah urat nadi ekonomi mereka.
Pengamat mencatat bahwa kapasitas Iran untuk meluncurkan gelombang rudal dan drone secara berulang melampaui kedalaman sistem pertahanan yang dimiliki sebagian besar negara Teluk. Dalam konteks ini, menahan diri bukanlah bentuk kepasifan, melainkan perhitungan strategis untuk bertahan hidup.
Saat ini, meskipun tetap menampung pasukan AS dan bersekutu dengan Washington, negara-negara Teluk memilih untuk menjadi “penyerap” dampak serangan (absorber) daripada menjadi garis depan baru dalam perang terbuka.
Mereka bertaruh bahwa kebijakan penahanan (containment), pertahanan kolektif, dan de-eskalasi adalah jalur yang jauh lebih aman daripada melewati ambang batas menuju perang langsung dengan tetangga mereka yang kuat namun berbahaya.






