Militer Israel ‘Haus Darah’ Lebanon Membara, Netanyahu Tegaskan Gencatan Senjata AS-Iran Tidak Berlaku bagi Hizbullah

Di saat dunia mengembuskan napas lega karena gencatan senjata AS-Iran, Israel justru seolah melepaskan seluruh kekuatan tempurnya untuk menggempur Lebanon tanpa ampun. Tentara Israel seperti “haus darah” tercermin jelas dari intensitas serangan yang justru meningkat tajam hari ini.
JERNIH – Dunia mungkin sedang merayakan gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran, namun bagi warga Lebanon, hari Rabu (8/4/2026) justru menjadi hari paling berdarah. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara tegas menyatakan bahwa kesepakatan damai yang dimediasi Pakistan tersebut tidak berlaku untuk operasi militer Israel di Lebanon.
Pernyataan ini diikuti dengan gelombang serangan udara masif yang meluluhlantakkan wilayah Beirut hingga Lebanon Selatan, menewaskan ratusan warga sipil dalam hitungan jam.
Sesaat setelah Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengumumkan gencatan senjata menyeluruh yang seharusnya berlaku “di mana saja termasuk Lebanon”, kantor Perdana Menteri Netanyahu langsung mengeluarkan bantahan keras.
Melalui unggahan di platform X, Netanyahu menyatakan dukungan terhadap upaya Donald Trump untuk melucuti ancaman nuklir dan teror Iran. Namun, ia memberikan catatan kaki yang fatal: “Gencatan senjata dua minggu ini tidak mencakup Lebanon.”
Langkah ini mempertegas ambisi Israel untuk terus menggempur Hizbullah dan mengamankan “zona penyangga” di wilayah selatan Lebanon, meski induk semang Hizbullah, yakni Iran, tengah dalam posisi gencatan senjata dengan AS.
Hanya selang beberapa jam setelah pernyataan Netanyahu, Pasukan Pendudukan Israel (IOF) melancarkan agresi brutal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dilaporkan terjadi sekitar 150 serangan udara hanya dalam waktu dua jam.
Serangan di Beirut mencakup wilayah padat penduduk seperti Haret Hreik, Chiah, hingga pusat kota seperti Corniche al-Mazraa dihujani bom. Sebuah gedung apartemen di Burj Abi Haidar hancur, menewaskan sedikitnya tiga orang.
Sementara di Lembah Bekaa serangan menyasar Kota Shmestar. Serangan pengecut tentara Israel ini menyasar iring-iringan jenazah (prosesi pemakaman) yang menewaskan sedikitnya 10 orang dan melukai puluhan lainnya.
Di Lebanon Selatan, di Adloun, tiga anak perempuan tewas setelah rumah mereka terkena serangan langsung. Kota Saida juga mencatat enam orang tewas dalam satu serangan di bangunan residensial.
Menteri Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa fasilitas medis di seluruh negeri kini dalam kondisi “overwhelmed” atau kewalahan. Pihak rumah sakit mengeluarkan seruan darurat untuk donor darah karena jumlah korban luka yang masuk terus membeludak.
Kondisi diperparah dengan kemacetan luar biasa akibat gelombang pengungsian dan serangan yang terus berlangsung, menghambat laju ambulans yang berusaha mengevakuasi korban dari reruntuhan. Palang Merah Lebanon mengonfirmasi bahwa jumlah korban syahid terus bertambah seiring proses evakuasi yang sulit di area yang terkena “firebelt” (sabuk api).
Analis Al Jazeera, Zeina Khodr, mencatat bahwa Lebanon kini terjebak dalam kalkulasi politik yang rumit. Hizbullah bergabung dalam perang sejak 2 Maret lalu sebagai balasan atas terbunuhnya Ayatollah Ali Khamenei, namun kini mereka harus menghadapi agresi Israel sendirian saat Iran memulai negosiasi dengan AS.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, meyakini bahwa nasib negaranya kini sepenuhnya bergantung pada apakah front Israel-Hizbullah akan ikut dibahas dalam negosiasi dua minggu ke depan di Washington. Tanpa jaminan keamanan yang jelas, Lebanon terancam terus menjadi “pelampiasan” kekuatan militer Israel.
Statistik Agresi Israel di Lebanon (Update 8 April 2026):
| Parameter | Data Terkini |
| Total Korban Tewas | > 1.500 Jiwa (Sejak 2 Maret) |
| Warga Mengungsi | > 1,2 Juta Orang |
| Intensitas Serangan | 150 Serangan Udara / 2 Jam |
| Area Terdampak | Beirut, Saida, Tyre, Bekaa, Nabatieh |






