CrispyVeritas

Misi KF-21 Boramae di Tangan Prabowo: Siasat Baru Indonesia Amankan Jet Tempur Canggih Korsel Generasi 4,5

  • KF-21 Boramae bukan sekadar pesawat tempur biasa. Bagi Indonesia (IFX), pesawat ini adalah jembatan teknologi menuju kemandirian alutsista.
  • Proyek yang sudah dirintis sejak era Presiden SBY ini memiliki nilai investasi total mencapai 8,1 triliun won atau setara Rp93 triliun.

JERNIH – Di balik kemegahan pertemuan bilateral di Blue House, terselip satu agenda vital bagi kedaulatan udara Indonesia: kelanjutan proyek jet tempur KF-21 Boramae. Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk tidak hanya melanjutkan, tetapi juga mempercepat penyelesaian isu-isu teknis dan finansial yang selama ini mengganjal.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa dalam pertemuan tersebut, Prabowo memberikan instruksi khusus untuk segera mengirim tim teknis dan engineering ke Korea Selatan. “Bapak Presiden menyampaikan akan segera mengirim tim untuk menyelesaikan isu-isu spesifikasi dan teknis lainnya,” ujar Airlangga, Rabu (1/4/2026).

Proyek yang sudah dirintis sejak era Presiden SBY ini memiliki nilai investasi total mencapai 8,1 triliun won atau setara Rp93 triliun. Sesuai kontrak, skema pembagian beban biaya (cost share) adalah Pemerintah Korea Selatan menanggung 60% biaya, Korea Aerospace Industry (KAI) 20% biaya serta Pemerintah Indonesia menanggung 20% biaya (sekitar Rp24,8 triliun).

Airlangga memberikan sinyal adanya “pembayaran proyek secara baru”. Negosiasi ini menjadi krusial karena menyangkut penyesuaian harga dan skema cicilan yang lebih fleksibel bagi APBN Indonesia, mengingat tantangan ekonomi global yang sedang dihadapi.

Jembatan Menuju Teknologi Stealth

KF-21 Boramae bukan sekadar pesawat tempur biasa. Bagi Indonesia (IFX), pesawat ini adalah jembatan teknologi menuju kemandirian alutsista. Beberapa keunggulan teknologi yang disepakati meliputi:

  • Semi-Stealth: Desain yang meminimalisir tangkapan radar, selangkah menuju jet tempur siluman murni (Generasi 5).
  • Smart Avionics & Sensor Fusion: Sistem elektronik canggih yang mampu menggabungkan data dari berbagai sensor untuk memberikan gambaran tempur yang akurat kepada pilot.
  • Beyond Visual Range (BVR): Kemampuan mengunci dan menembak sasaran bahkan sebelum terlihat oleh mata telanjang.
  • High Maneuverability: Kelincahan tinggi dalam pertempuran jarak dekat (dogfight).

Prabowo menegaskan bahwa Korea Selatan adalah mitra strategis utama di Asia Timur. Berbeda dengan membeli pesawat tempur dari negara Barat yang sering kali disertai pembatasan penggunaan (end-user certificate) yang ketat, kerja sama dengan Korea Selatan memberikan ruang bagi Indonesia untuk terlibat dalam proses manufaktur dan transfer teknologi.

“Kerja sama pertahanan dengan Korea telah berjalan baik. Kita ingin melanjutkan pembahasan mengenai harga dan skema pembiayaan agar proyek ini tuntas,” kata Prabowo dalam agenda KTT APEC sebelumnya.

Meski komitmen politik sudah bulat, tantangan teknis tetap membayangi. Tim engineering Indonesia yang dikirim ke Seoul mengemban misi berat untuk memastikan spesifikasi pesawat IFX (versi Indonesia) sesuai dengan kebutuhan geografis dan doktrin pertahanan kita.

Selain itu, transparansi mengenai transfer teknologi (Transfer of Technology/ToT) tetap menjadi poin yang harus dikawal ketat, agar dana puluhan triliun rupiah yang dikeluarkan benar-benar menghasilkan ilmu pengetahuan bagi teknisi PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Back to top button