Crispy

Misteri Selat Hormuz, Kapal Tanker Pertamina Belum Bisa Melintas Meski Gencatan Senjata Dimulai

Isu tertahannya kapal tanker Pertamina kini menjadi sorotan tajam, apalagi setelah negara tetangga seperti Malaysia mengeklaim kapal mereka sudah mendapat “lampu hijau” untuk melintas.

JERNIH – Di tengah euforia gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, sebuah tanya besar muncul dari industri energi tanah air, mengapa dua kapal tanker raksasa milik PT Pertamina International Shipping (PIS) masih tertahan di kawasan Teluk?

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) akhirnya angkat bicara pada Rabu (8/4/2026), mengakui adanya hambatan yang membuat kapal-kapal kebanggaan Indonesia tersebut belum bisa bernapas lega melewati Selat Hormuz.

Meski Menteri Luar Negeri Sugiono telah melakukan koordinasi langsung dengan pihak Teheran, Juru Bicara Kemlu, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, mengungkapkan bahwa masih ada ganjalan teknis yang sangat krusial di lapangan.

Hambatan tersebut meliputi jaminan keselamatan yakni prosedur ketat untuk memastikan kapal tidak terjebak dalam sisa-sisa blokade atau ancaman militer. Selain itu juga masalah re-negosiasi premi dan cakupan asuransi pengiriman di zona yang baru saja berstatus gencatan senjata.

Faktor lainnya adalah memastikan kondisi fisik dan mental awak kapal siap melakukan pelayaran di jalur paling berisiko di dunia. “Ini betul-betul tingkat teknis yang harus dibahas dengan melibatkan Pertamina. Tidak sepenuhnya merupakan isu politis,” tegas Vahd dalam media briefing di Jakarta.

Publik mulai membandingkan posisi Indonesia dengan negara-negara tetangga. Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, melalui platform X pada Selasa (7/4), telah mengeklaim bahwa kapal-kapal Malaysia sudah diperbolehkan melintas setelah pertemuan diplomatik dengan pihak Iran. Begitu pula dengan Pakistan, India, dan Filipina yang armadanya dilaporkan sudah bergerak.

Namun, Kemlu meminta publik tidak membanding-bandingkan situasi tersebut. Menurut Vahd, setiap negara memiliki kepentingan dan upaya yang sama, namun dinamika teknis di lapangan bisa berbeda bagi setiap operator kapal.

Berdasarkan data terbaru, dua kapal tanker Pertamina saat ini berada di posisi strategis namun masih “terkunci” di dalam area Teluk Arab. Kapal Gamsunoro masih berada di Khor al-Zubair, Irak sementara Pertamina Pride masih melakukan proses loading (pemuatan) di Ras Tanura, Arab Saudi.

Kedua kapal ini sangat krusial bagi ketahanan energi nasional. Tertahannya mereka di Selat Hormuz bukan hanya soal logistik, tapi juga soal kepastian stok bahan baku minyak untuk kilang-kilang di dalam negeri.

Back to top button