Crispy

Museum Marsinah, Menolak Lupa Perjuangan Pahlawan Buruh Nasional

Diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo, Museum Ibu Marsinah di Nganjuk resmi berdiri sebagai simbol perlawanan dan keadilan sosial.

WWW.JERNIH.CO –  Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, kini memiliki destinasi wisata edukasi sejarah baru yang sarat akan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Tepat pada Sabtu, 16 Mei 2026, Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah yang terletak di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro.

Pembangunan museum ini menjadi bentuk penghormatan tertinggi negara bagi Marsinah—seorang aktivis buruh perempuan yang gugur pada tahun 1993 demi memperjuangkan hak-hak pekerja, dan telah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada November 2025 lalu.

Berdiri di atas lahan seluas 938,6 meter persegi, kompleks memori ini terbagi menjadi dua bangunan utama: gedung museum modern di bagian depan serta bangunan rumah singgah asli di bagian belakang. Kehadiran museum ini diharapkan mampu menjaga api semangat perjuangan buruh agar tetap menyala di hati generasi muda Indonesia.

Museum Marsinah menyajikan rekam jejak kehidupan sang aktivis secara intim dan menyentuh. Memasuki area dalam, pengunjung akan disuguhkan atmosfer yang membawa ingatan kembali ke masa awal tahun 1990-an. Beberapa memorabilia penting yang dipamerkan di dalam lemari kaca meliputi:

 Pakaian Terakhir dan Seragam Pabrik: Baju terakhir yang dikenakan Marsinah beserta seragam pabrik arloji tempatnya bekerja di Sidoarjo tersimpan lengkap dengan tas dan dompet pribadinya.

Sepeda Ontel: Sepeda kayu kayuh yang digunakan Marsinah sehari-hari untuk berangkat mencari nafkah sejak pagi buta.

 Dokumen Pendidikan dan Foto Masa Kecil: Deretan ijazah asli mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) serta dokumentasi foto masa kecilnya terpajang rapi di dinding museum.

Kamar Tidur yang Autentik: Bagian paling menyedot perhatian adalah replika kamar masa kecil Marsinah. Kamar berdinding triplek cokelat kusam, lengkap dengan ranjang kayu sederhana dan kelambu tua, dipertahankan dalam kondisi aslinya untuk merekam kesederhanaan hidup kaum buruh jelata.

Demi menjaga nilai sejarah dan kedekatan emosionalnya, pengelolaan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah ini dipercayakan langsung kepada pihak keluarga besar Marsinah.

Langkah ini diambil agar perawatan barang-barang peninggalan tersebut tetap dilakukan dengan penuh rasa hormat. Meski dikelola oleh keluarga, operasionalnya tetap mendapat dukungan penuh dari elemen gerakan buruh nasional—khususnya Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI)—serta pemerintah daerah setempat demi memastikan fasilitas edukasi ini dapat diakses secara luas oleh masyarakat dan para pekerja dari berbagai penjuru tanah air.

Dalam pidato peresmiannya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rasa prihatin dan penyesalan mendalam atas tragedi pembunuhan keji yang menimpa Marsinah di masa lalu. Ia menegaskan bahwa kejadian kelam seperti itu seharusnya tidak boleh terjadi di bumi Indonesia.

  “Sesungguhnya peristiwa Marsinah yang dibunuh secara keji karena memperjuangkan kaum buruh pabrik suatu perusahaan, sesungguhnya sama sekali tidak perlu terjadi, karena negara kita, kita dirikan dengan falsafah dasar Pancasila,” ujar Presiden Prabowo. 

Lebih lanjut, Presiden mengingatkan para pengusaha dan birokrat bahwa buruh, petani, dan nelayan adalah anak-anak bangsa yang haknya dilindungi oleh Pasal 33 UUD 1945 berasaskan kekeluargaan. Beliau juga menambahkan bahwa museum ini merupakan sebuah momen langka dan bernilai historis tinggi.

 “Saya kira, mungkin peristiwa yang langka. Mungkin di seluruh dunia, luar biasa. Jadi rupanya, mungkin di seluruh dunia baru sekarang ada museum buruh. Tapi tolong dicek, ya. Mungkin pasti adalah, tapi kita ini peristiwa langka,” pungkasnya.  (*)

BACA JUGA: Marsinah Pahlawan Nasional Buruh yang Tak Terbayar

Back to top button