Crispy

Obituari James F Sundah, Menelusuri Kejeniusan di Balik “Lilin-Lilin Kecil”

Lebih dari 40 tahun berlalu, namun bara “Lilin-Lilin Kecil” tetap menyala di hati sanubari pecinta musik tanah air. Apa rahasia di balik kecerdasan James F. Sundah dalam meramu metafora harapan yang begitu nirkala?

WWW.JERNIH.CO –  Harus diakui tembang “Lilin-Lilin Kecil” adalah monumen dalam sejarah musik Indonesia. Diciptakan oleh James F. Sundah untuk Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Prambors tahun 1977, lagu ini berhasil melampaui batas zaman.

Kekuatannya terletak pada harmoni antara kesederhanaan melodi dan kedalaman filosofis yang tetap relevan meski industri musik telah berganti rupa berkali-kali.

Salah satu aspek paling brilian dari lagu ini adalah pemilihan metafora “Lilin Kecil”. James tidak memilih matahari yang megah atau lampu pijar yang benderang, melainkan lilin—sebuah benda yang memberikan cahaya dengan cara mengorbankan dirinya sendiri (meleleh).

Secara puitis, lilin menggambarkan harapan yang rapuh namun gigih di tengah kegelapan yang luas. Penggunaan diksi yang sederhana membuat lagu ini bisa diinterpretasikan secara luas tergantung bagaimana Anda memaknai. Secara personal bisa merupakan harapan bagi seseorang yang sedang terpuruk. Bicara tentang sosial malah bisa bermakna lebih luas lagi dan relevan dengan beragam situasi dan kondisi hari ini  di tengah karut-marut dunia. Sementara secara spiritual dapat berarti cahaya iman yang menuntun langkah manusia.

Kemampuan James untuk menulis lirik yang timeless (nirkala) memastikan bahwa pendengar di tahun 1977 maupun 2026 tetap bisa merasakan resonansi emosional yang sama.

Tak heran kalau Lagu “Lilin-Lilin Kecil” telah menjadi semacam “standar” dalam musik Indonesia. Karena kekuatan lirik dan melodinya, banyak musisi lintas generasi dan lintas genre yang membawakan kembali lagu ini setelah versi ikonik almarhum Chrisye.

Tercatat sejumlah diva tanah air kerap membawakan tembang ini baik lewat recording maupun live. Beberapa band pop pun tak ketinggalan bahkan sampai genre jazz yang mengaransemen menjadi lebih jazzy.

Kecerdasan sebuah komposisi diuji dari seberapa baik ia bertahan ketika diaransemen ulang. Fakta bahwa esensi lagunya tetap terjaga membuktikan bahwa “tulang punggung” atau fondasi lagu ini sangat kuat. James berhasil menciptakan sebuah “standar” musik Indonesia yang memiliki identitas kuat namun tetap fleksibel.

James F. Sundah menunjukkan kecerdasan musikal yang luar biasa melalui struktur lagu yang tidak terburu-buru. Lagu ini diawali dengan intro yang melankolis namun stabil, memberikan ruang bagi pendengar untuk masuk ke dalam suasana kontemplatif.

Penggunaan akor yang cenderung major namun dibalut dengan nuansa ballad menciptakan perasaan “sedih yang optimis”. Ini adalah paradoks musikal yang sulit dicapai; lagu ini tidak membuat pendengar putus asa, melainkan merasa ditemani dalam kesunyian.

Melodinya mengalir secara organik, tidak memiliki lompatan nada yang terlalu ekstrem, sehingga sangat mudah diingat (earworm) dan dinyanyikan oleh siapa saja, dari penyanyi profesional sekelas Chrisye hingga orang awam.

Setelah hampir 50 tahun, lagu ini tetap relevan karena ia menyentuh aspek fundamental manusia: kebutuhan akan harapan. Di era digital yang serba cepat dan penuh tekanan mental seperti sekarang, pesan untuk “tetap bersinar meski kecil” menjadi sangat krusial.

Lagu ini sering diputar dalam momen-momen refleksi, duka cita, maupun peringatan kemanusiaan. James F. Sundah tidak hanya membuat lagu untuk tangga lagu mingguan, ia membuat sebuah “himne kehidupan”. Ia memahami bahwa musik yang bagus bukan yang paling rumit tekniknya, melainkan yang paling mampu memanusiakan pendengarnya. Itulah James.(*)

BACA JUGA: James F. Sundah Berpulang di New York

Back to top button