Peduli Anak-anak Yatim, PKS Programkan Poligami Kader Mampu dengan Janda

Syarat mutlak untuk kader yang siap itu adalah kemampuan secara moril dan materiil, serta niat yang tulus. “Mampu secara moril dan materiil. Demi memuliakan anak yatim,” kata dia.
JERNIH— Peduli akan nasib anak-anak yatim, terutama di masa pandemi, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) membuat program agar kader-kadernya yang mampu melakukan poligami dengan janda-janda.
Aturan itu tercantum dalam program Unit Pembinaan Anggota (UPA) pada poin 8, yang berbunyi: anggota laki-laki yang mampu dan siap beristri lebih dari satu mengutamakan pilihannya kepada aromil dan awanis.
Tentang hal tersebut, Ketua Dewan Syariah Pusat PKS, Surahman Hidayat, membenarkan aturan tersebut. Menurut Surahman, poligami sudah diatur dalam agama dan dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Program itu, kata dia, dianjurkan kepada kader yang mampu secara moril dan materiil demi memuliakan anak yatim.
“(Dengan adanya) kebolehan ini, serta agar maslahat, perlu etika dan aturan, makanya kita bikin etikanya. Intinya kan keinginan untuk samawa, sakinah-mawaddah-warahmah. Itu bagi yang punya kemampuan membantu para fakir miskin, membantu anak yatim, dan seterusnya,”kata Surahman.
Tentang poligami tersebut, Surahman menegaskan bahwa kader-kader PKS yangb mampu itu harus menyesuaikan aturan yang telah dibuat tersebut. “Melaksanakan agama dalam masalah keluarga, yaitu untuk mewujudkan visi sakinah-mawaddah-warahmah, salah satunya sarana poligami itu. Jadi, (buat) mereka yang memang ada kemampuan dan ada hasrat, persyaratan itu sangat ketat,”kata dia, menambahkan.
Syarat yang mutlak ada, kata Surahman, adalah kemampuan secara moril dan materiil, serta niat yang tulus. “Mampu secara moril dan materiil. Demi memuliakan anak yatim,” kata dia.
Suharman mengatakan aturan yang disebutnya ‘sudah melalui kajian mendalam’ itu sudah disepakati oleh Presiden PKS hingga pimpinan partai. “Sudah (disepakati), saya sebagai ketua sudah tanda tangan, ibu-ibu sudah melakukan kajian, sudah koordinasi dengan Presiden PKS dan ada masukan-masukan,” ujarnya.
Ia juga menyatakan, dalam PKS sudah terbentuk Komisi Keluarga Sakinah. Mayoritas anggora dalam komisi itu perempuan dan sudah disosialisasi ke seluruh kader di daerah.
“Bahkan dibuat tim yang disebut Komisi Keluarga Sakinah, dengan mayoritas anggota komisi perempuan. Mereka yang menggelar konsinyering, mereka yang berdiskusi, mereka juga mengomunikasikan ke bagian perempuan di NTT, diundang supaya dikaji.” [ ]