
- Di saat tim media sosial Washington sibuk memoles “banger memes”, realitas di lapangan tetaplah debu, reruntuhan, dan duka yang tak bisa diwakili filter TikTok mana pun.
- Gaya komunikasi yang menyerupai obrolan grup WhatsApp atau komunitas gaming ini menuai kritik tajam dari para veteran militer.
JERNIH – Pemerintahan Donald Trump dilaporkan telah meninggalkan pakem komunikasi perang tradisional. Alih-alih konferensi pers yang kaku dan formal, Gedung Putih kini beralih ke strategi digital agresif menggunakan video viral, estetika video game, hingga “meme” untuk mempromosikan perang melawan Iran.
Laporan dari Politico mengungkapkan bahwa tim komunikasi Trump secara rutin menyebarkan klip pendek yang mencampurkan rekaman asli operasi militer dengan adegan film aksi Hollywood, cuplikan olahraga, hingga elemen visual video game. Strategi ini dirancang khusus untuk memikat audiens muda di platform seperti TikTok.
Hasilnya? Secara statistik, sangat mencengangkan. “Dalam empat hari, video yang kami rilis mendapatkan lebih dari 3 miliar impresi,” ujar seorang pejabat senior Gedung Putih yang enggan disebutkan namanya. “Angka itu jauh melampaui apa pun yang pernah kami lakukan di periode kedua ini.”
Staf digital Gedung Putih menyebut strategi ini sebagai upaya “menjemput bola” di mana audiens berada. Namun, gaya komunikasi yang menyerupai obrolan grup WhatsApp atau komunitas gaming ini menuai kritik tajam dari para veteran militer.
“Saya rasa kinerja putra-putri kita yang berseragam tidak butuh polesan Hollywood atau gim komputer,” kritik Joe Votel, mantan Panglima Komando Pusat AS (CENTCOM). Ia menilai penggunaan efek sinematik justru meremehkan keseriusan operasi militer yang sedang berlangsung.
Inkompetensi atau Strategi Jenius?
Kritik juga datang dari Letjen (Purn) Ben Hodges. Ia menyebut sekutu-sekutu AS mulai bingung melihat cara Washington mengomunikasikan perang. “Ini tampak terputus dari realitas. Sekutu kita melihat ini dan bertanya-tanya, ‘Apa yang sebenarnya terjadi?’. Kita tidak terlihat serius,” tegasnya.
Namun, Gedung Putih tetap bergeming. Mereka berargumen bahwa jajak pendapat menunjukkan banyak anak muda mendukung langkah militer ini justru karena konten yang “menawan”.
“Kami menggunakan setiap alat yang ada. Ini zaman yang berbeda, audiensnya pun berbeda,” tambah pejabat tersebut, sambil menyindir era Bush yang dianggap gagal dengan slogan “Mission Accomplished“-nya yang kuno.
Seorang staf lain yang terlibat dalam produksi konten ini bahkan berkomentar dengan bahasa yang sangat informal: “We’re over here just grinding away on banger memes, dude” (Kami di sini cuma sibuk bikin meme yang asyik, bung).
Lauren Kapp, seorang pakar strategi digital, menilai pemerintah hanya mengejar angka engagement tanpa mempedulikan substansi. “Strategi mereka adalah rage bait (konten pancingan amarah). Mereka ingin video ini dilihat oleh sebanyak mungkin anak muda yang mudah dipengaruhi,” ujarnya.
Sejarawan militer Tom Ricks menyebut duet kepemimpinan Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth sebagai perpaduan antara “inkompetensi dan keangkuhan (hubris)”.
Meskipun video-video tersebut viral, dukungan publik di dunia nyata justru goyah. Jajak pendapat terbaru menunjukkan mayoritas warga Amerika tidak setuju dengan cara Trump menangani perang di Iran. Bahkan, tokoh seperti Joe Rogan secara blak-blakan menyebut perang ini sebagai hal yang “gila” dan merasa dikhianati oleh pergeseran kebijakan Trump ke arah aksi militer.
Sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, serangan terkoordinasi AS dan Israel telah merenggut nyawa lebih dari 1.300 warga sipil. Di saat tim media sosial Washington sibuk memoles “banger memes”, realitas di lapangan tetaplah debu, reruntuhan, dan duka yang tak bisa diwakili oleh filter TikTok mana pun.






