Siapa yang akan Menginvasi Iran untuk Mengubah Rezim? Ini Kemungkinannya

- Peshmerga, milisi Kurdi di Irak, menjadi satu-satunya kekuatan yang bisa digerakan AS untuk mengubah rezim di Iran.
- Peshmerga punya banyak pasukan, tapi miskin senjata berat dan berisiko digebuk militer Irak.
JERNIH — Israel dan AS memperluas serangannya ke Iran, tapi tidak ada tanda-tanda Tehran akan menyerah. Yang terjadi adalah Iran melawan, dan publik AS bertanya-tanya ke mana kapal induk USS Abraham Lincoln.
Iran bukan Venezuela. Iran bukan lalat kecil yang tumbang sekali pukul. Washington dan Tel Aviv kini menghadapi pertanyaan jika operasi berlanjut sampai perubahan rezim, siapa yang akan menginvasi Iran? AS dan Israel tahu mereka akan menghadapi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang militan.
Berikut kemungkinan kekuatan darat yang akan digunakan AS jika terjadi invasi darat.
Kurdi Irak dan Iran
Iran, Jumat 6 Maret, memperingatkan Kurdi Irak — lebih tepatnya Kurdistan Irak — untuk tidak ikut campur dalam konflik ini dan mengancam akan mengambil tindakan jika terjadi pengerahan pasukan ke perbatasan. Ancaman berikut, Iran akan menembak semua fasilitas di wilaiah Kurdistan Irak jika militan kurdi memasuki Iran.
Kabar di atas memperkuat analisis Sergey Poletaev, analis informasi dan publisitas asal Rusia, yang menempatkan Kurdi Irak dan Iran di tempat pertama sebagai kekuatan yang akan digunakan AS-Israel untuk memasuki Tehran.
Setelah keruntuhan Kekaisaran Ottoman, Kurdi adalah ‘bangsa’ tanpa negara tapi bikin repot banyak negara. Mereka tersebar di Suriah, Turkiye, Iran, Irak, dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Di empat negara pertama mereka angkat senjata untuk merdeka.
Sebagai minoritas teraniaya, perjuangan Kurdi di Turkiye, Irak, Iran, dan Suriah, berkelanjutan. Namun, perjuangan mereka sering dieksploitasi pihak-pihak yang menjanjikan kemerdekaan tapi tak pernah bosan dikhianati setelah jasa mereka tak diperlukan lagi.
Kurdi Irak paling dekat dengan kemerdekaan. Mereka memperkuat kendali atas Irak utara setelah Perang Irak. Peshmerga, milisi mereka, mandiri. Merka punya kekuatan eonomi yang penting dan menghidupi.
Di perbatasan Iran-Irak, komunitas kecil Kurdi berafiliasi ke Peshmerga, menjadikannya kandidat paling mungkin mengivasi Tehran. Indikasinya sudah terlihat, ketegangan meningkat di wilayah Kurdi Iran dan Irak, dan Iran telah melancarkan sarangan pendahuluan ke dekat Erbil di Irak. Tidak satu pun serangan Israel dan AS menargetkan kota-kota Kurdi di perbatasan Irak-Iran.
Namun, ada masalah serius dengan Peshmerga. Meski berkekuatan 12 batalion, dengan masing-masing 3.000 sampai 5.000 pasukan dan sejumlah besar pendukung, Peshmerga adalah milisi heterogen yang bersenjatakan beberapa tank buatan Uni Soviet. Ada keraguan mereka mampu menerobos perbatasan Irak-Iran, meski Kurdi Iran menyambut mereka.
Jadi potensi serangan Peshmerga diyakini tidak akan sukses dalam skala luas, apalagi mencapai Tehran.
Kemungkinan lain, angkatan bersenjata Irak — yang bersitegang dengan Peshmerga selama belasan tahun — tidak akan diam saat Peshmerga menerobos perbatasan dan memasuki Iran
Azerbaijan
Israel melakukan operasi bendera palsu di banyak tempat dalam beberapa hari terakhir. Mereka menyerang pangkalan AL Inggris di Siprus menggunakan drone mirip Shahed buatan Iran. Tujuannya, agar Tehran dianggap menyerang kekuatan Barat non-AS. Israel juga menyerang kilang minyak terbesar di dunia milik Saudi Aramco, agar Arab Saudi memiliki kesan Iran menyerang semua sekutu AS di Timur Tengah.
Israel juga menyerang Turki dan Azerbaijan untuk tujuan serupa. Khusus ke Azerbaijan, Israel mengarahkan serangan ke Bandara Nakhchivan. Tujuan serangan adalah menggoda Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengerahkan pasukan ke wilayah Iran yang dihuni etnis Azeri d dekat Laut Kaspia.
Itu tak mungkin terjadi. Ayatollah Ali Khamenei berdarah Azeri. Sebagian etnis Azeri penganut Shiah dan menghormati Khamenei. Sunni Azeri tidak punya masalah apa pun dengan Shiah Azeri.
Bagi Azerbaijan, keterlibatan langsung dalam perang melawan Iran tidak dapat diterima karena menimbulkan risiko besar. Minyak, sumber pendapatan Azerbaijan, akan terhenti. Sumber minyak Azerbaijan terletak di Laut Kaspia, berbatasan dengan Iran.
Yang kemungkinan terjadi adalah operasi lokal di sepanjang perbatasan keua negara untuk mengamankan kendali atas koridor darat ke Nakhchivan — enclave Azeri yang terpisah oleh Armenia dan Iran.
Pakistan?
Pakistan juga mengincar Iran, tapi keduanya terikat janji tidak terlibat dalam konflik. Maklum, Iran dan Pakistan berasal dari rumpun bangsa yang sama, yaitu Parsi.
Negara-negara Arab berkepentingan menyerang Iran, tapi mereka kemungkinan hanya akan menunggu, terutama menunggu Israel dan AS mengepung Iran dengan serangan udara sampai entah kapan. Jadi, Pehsmerga yang paling mungkin aktif, atau diaktifkan, untuk menyerang Iran. Sedangkan Azerbaijan, Pakistan, dan negara-negara Teluk lebih suka menunggu.
Apakah ini akan berhasil? AS dan Israel bisa saja terus menggempur Iran dari udara, tapi tidak ada jaminan serangan itu akan memaksa Iran membuka Selat Hormuz. Satu hal yang harus diingat adalah pembukaan Selat Hormuz akan menjadi kekalahan strategis bagi Iran, dan Tehran akan menghindarinya.
Menunggu Cina dan Rusia
Cina dan Rusia berpotensi turun tangan. Beijing memberikan bantuan keuangan sampai batas tertentu dan pasokan militer. Rusia menyuplai logistik dan menawarkan keahlian tingkat lanjut, plus persenjataan tambahan.
Jika ini terjadi, Iran akan jadi proxy Beijing dan Moskwa, yang berfungsi menyerang AS — seperti yang dilakukan Washington memanfaatkan Ukraina untuk menyerang Rusia. Namun skenario ini menimbulkan banyak pertanyaan, terutama dalam hal Iran dan Tiongkok.
Sejauh ini tidak ada indikasi Iran secara resmi meminta bantuan Rusia. Dmitry Peskov, juru bicara Kremlin, menyatakan hal itu. Jika demikian, Tehran mungkin masih harus memilih pemimpin baru. Ingat, hanya pemimpin tertinggi yang memutuskan kebijakan politik tingkat tinggi Iran.
Beijing ragu membantu Iran sepenuhnya dalam perang ini. Alasannya, jika bantuan mereka gagal menghentikan ulah AS, pasokan minyak dari Timur Tengah ke Cina di masa depan akan terganggu. Cina adalah pembeli terbesar minyak Iran.
Cina tidak menghendaki perang ini berkepanjangan. Ekonomi Cina sangat tergantung pada minyak Iran, dan Beijing tampaknya menghindari konfrontasi langsung.
Kesimpulannya?
Jika AS dan Israel tidak mampu mengerahkan pasukan darat untuk memaksa pergantian rezim di Tehran, perang ini akan menjadi konflik kedua terbesar di era multipolar setelah Ukraina.






