Crispy

Poros Jakarta-Kuala Lumpur Menggebrak: Minta Dunia Hentikan Cara Lama, Tawarkan 5 Langkah Konkret untuk Palestina

JERNIH – Indonesia dan Malaysia mengambil langkah ofensif dalam Pertemuan Tingkat Menteri di Amman, Yordania. Kedua negara kawasan Asia Tenggara tersebut secara tegas mendesak masyarakat internasional untuk menghentikan “cara-cara lama” yang terpecah dan mandul dalam menghadapi pelanggaran hukum internasional oleh Zionis Israel di Palestina, khususnya di wilayah Baitul Maqdis (Yerusalem) Timur dan kompleks Masjid Al-Aqsa.

Mewakili Menteri Luar Negeri Sugiono, Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arrmanatha Nasir menegaskan bahwa perpecahan di antara negara-negara pendukung Palestina selama ini menjadi celah utama yang dimanfaatkan Israel untuk melanggengkan kekerasan dan pendudukan ilegal.

“Indonesia mendorong agar komunitas internasional tidak lagi menggunakan cara-cara lama, tidak lagi membiarkan pelanggaran Israel, dan tidak lagi menghadapinya secara terpecah. Perpecahan adalah celah yang selalu dimanfaatkan oleh Israel,” tegas Arrmanatha Nasir dalam forum diplomatik di Amman.

Guna menggeser diplomasi global dari sekadar ‘retorika kecaman’ menjadi tindakan nyata yang terkoordinasi, Pemerintah Indonesia menyodorkan lima formulasi strategis:

  1. Konsolidasi Strategi Bersama: Mengakhiri aksi terpisah-pisah di antara negara-negara pendukung Palestina guna membangun Poros Tekanan Kolektif.
  2. Penegakan Keputusan Mahkamah Internasional (ICJ): Mengubah instrumen hukum internasional dari rujukan normatif menjadi sanksi eksekutif atas pelanggaran Israel.
  3. Ekspansi Pengakuan Negara Palestina: Memperluas pengakuan kedaulatan Palestina di panggung global untuk memperkuat posisi politik (right to self-determination).
  4. Perlindungan Riil Kompleks Al-Aqsa: Menghentikan kekerasan pemukim ilegal dan perubahan status historis/hukum (Status Quo) Yerusalem Timur.
  5. Dukungan Rekonstruksi Gaza & UNRWA: Mendorong persatuan nasional Palestina, pemulihan kemanusiaan, serta penyokongan penuh terhadap mandat lembaga bantuan PBB (UNRWA).

Langkah diplomasi Indonesia mendapat sokongan penuh dari Malaysia. Menteri Luar Negeri Malaysia menegaskan bahwa Yerusalem merupakan bagian yang tak terpisahkan dari wilayah Palestina yang diduduki, menolak keras upaya demografi maupun keagamaan yang dipaksakan oleh Israel.

Pertemuan di Amman yang dihadiri oleh delegasi tingkat tinggi dari Aljazair, Arab Saudi, Irak, Mesir, Turki, Tunisia, Somalia, Pakistan, Maroko, Qatar, hingga Sekretaris Jenderal Liga Arab ini berhasil melahirkan Joint Statement yang kuat.

Sinergi kuat antara Indonesia dan Malaysia membuktikan bahwa negara-negara Asia Tenggara tidak lagi sekadar menjadi penonton, melainkan motor penggerak yang siap mentransformasikannya menjadi konsensus hukum, perlindungan Al-Aqsa, serta pemulihan fisik dan politik bagi Gaza.

Back to top button