
Pengangkatan Mojtaba Khamenei yang didukung langsung oleh dua kekuatan nuklir, Rusia dan Korea Utara, menandakan terbentuknya aliansi pertahanan yang semakin solid di tengah ancaman serangan fisik.
JERNIH – Peta politik global semakin terpolarisasi. Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un, resmi mengumumkan dukungannya atas pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Dukungan ini muncul di tengah suasana duka dan ketegangan tinggi setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 lalu.
Melalui kantor berita resmi KCNA, Pyongyang menegaskan solidaritasnya terhadap Teheran dan mengecam apa yang mereka sebut sebagai “perilaku gangster” Barat di Timur Tengah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyatakan bahwa terpilihnya Mojtaba Khamenei oleh Majelis Pakar Iran adalah hak kedaulatan yang mutlak. Pyongyang memandang transisi kepemimpinan ini sebagai langkah penting untuk menjaga stabilitas Revolusi Islam di tengah agresi militer asing.
“Kami menghormati hak dan pilihan rakyat Iran dalam memilih Pemimpin Tertinggi mereka,” ujar juru bicara tersebut seperti dilansir Al Jazeera, Rabu (11/3/2026). Korea Utara juga mengutuk keras serangan AS-Israel yang dianggap merusak integritas teritorial dan fondasi perdamaian regional.
Putin Kirim Pesan Solidaritas
Dukungan untuk Mojtaba tidak hanya datang dari Asia Timur. Presiden Rusia, Vladimir Putin, juga telah mengirimkan ucapan selamat dan pesan dukungan kuat dari Kremlin.
Putin mengakui bahwa Mojtaba memegang tampuk kekuasaan di masa yang paling sulit dalam sejarah Iran. “Pekerjaan Anda di jabatan tinggi ini membutuhkan keberanian besar. Saya yakin Anda akan melanjutkan perjuangan ayah Anda dengan terhormat,” tulis pernyataan resmi Kremlin. Putin menegaskan bahwa Moskow akan tetap menjadi mitra strategis yang tak tergoyahkan bagi Teheran dalam menghadapi “cobaan berat” ini.
Di saat yang bersamaan dengan pengumuman diplomatik tersebut, Kim Jong-Un mengirimkan sinyal kekuatan militer yang nyata. Ia dilaporkan memantau langsung uji tembak rudal jelajah strategis dari kapal perusak terbaru dan terbesar milik Korea Utara, Choe Hyon.
Langkah ini dipandang sebagai pesan peringatan kepada sekutu Barat. Dalam inspeksi tersebut, Kim menekankan pentingnya memperluas pencegah perang nuklir yang kuat dan andal sebagai tugas strategis utama negaranya.
Pengangkatan Mojtaba Khamenei yang didukung langsung oleh dua kekuatan nuklir, Rusia dan Korea Utara, menandakan terbentuknya aliansi pertahanan yang semakin solid di tengah ancaman serangan fisik. Sementara uji rudal Korea Utara di tengah krisis Iran menunjukkan adanya potensi bantuan militer atau tekanan pengalihan fokus (distraction) terhadap Amerika Serikat di Pasifik.






