Kapan Berlangsung Cuaca ‘Panas’ Akibat El Nino di Indonesia?

WMO menyebut kondisi El Nino berpeluang muncul pada periode Mei hingga Juli, dengan indikasi awal menuju fase yang lebih kuat.
Sementara BMKG ingatkan masyarakat Indonesia mewaspadai potensi dampak El Nino, terutama memasuki pertengahan hingga akhir 2026
JERNIH-Mulai April 2026 fenomena iklim El Nino diperkirakan mulai memengaruhi Indonesia. Hal tersebut disampaikan prakirawan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Rira Damanik, yang menyebut kondisi El Nino sudah terindikasi muncul dalam kategori lemah.
“Terindikasi El Nino mulai masuk pada bulan April dalam kategori lemah dan berdasarkan prediksi BMKG pada periode Mei hingga Oktober 2026, El Nino berada pada kategori lemah hingga sedang,” kata Rira beberapa waktu lalu.
Lembaga internasional World Meteorological Organization (WMO) di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa juga memperkirakan El Nino akan kembali berkembang pada pertengahan 2026.
WMO menyebut kondisi El Nino berpeluang muncul pada periode Mei hingga Juli, dengan indikasi awal menuju fase yang lebih kuat.
“Setelah periode netral di awal tahun, terdapat keyakinan tinggi akan munculnya El Nino yang kemudian dapat menguat,” kata Kepala Prediksi Iklim WMO, Wilfran Moufouma Okia, dilansir CAN.
WMO juga mencatat El Nino sebelumnya berkontribusi terhadap peningkatan suhu global yang signifikan. Tahun 2023 tercatat sebagai salah satu tahun terpanas, sementara 2024 bahkan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Dalam pembaruan iklim global terbarunya, WMO melihat adanya kenaikan cepat suhu permukaan laut di wilayah Pasifik ekuator, indikasi kuat kembalinya El Nino.
Berikut penjelasan apakah El Nino dan dampaknya.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang memengaruhi pola angin, tekanan udara, dan curah hujan di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.
Di Indonesia, El Nino umumnya dikaitkan dengan:
– Penurunan curah hujan
– Musim kemarau lebih Panjang
– Peningkatan risiko kekeringan dan kebakaran hutan
Fenomena ini terjadi secara alami setiap 2 hingga 7 tahun dan biasanya berlangsung sekitar 9 hingga 12 bulan, bergantian dengan fase kebalikannya, yakni La Nina. Dengan berbagai indikator tersebut, masyarakat Indonesia diimbau mulai mewaspadai potensi dampak El Nino, terutama memasuki pertengahan hingga akhir 2026. (tvl)






