CrispyVeritas

Sejarah Kebrutalan Belanda di Bali: Menghancurkan Perlawanan di Kamp Penyiksaan

  • Terdapat 50 kamp penyiksaan di sekujur Bali, tapi Arsip Belanda tak mencatatnya
  • Kebrutalan Belanda antara 1945-1949 tidak bersifat insidental, tapi terstruktur.
  • Di Bali, Belanda berusaha mengangkat kembali mitor Bali yang Setia. Mereka lupa zaman telah berubah.

JERNIH — Yang kita ketahui tentang kronik Perang Kemerdekaan, atau Perang Dekolonisasi, di Bali mungkin terbatas pada Pertempuran Puputan Margarana yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai. Jurnalis dan sejarawan Anne-Lot Hoek mengungkap lebih dalam tentang semua yang terjadi di Bali antara 1945-1949 dalam buku De strijd om Bali, atau Pertempuran untuk Bali.

Dalam tinjauan atas buku ini di situs Javapost.nl, Jeroen van der Kris menulis; “Ada banyak cerita mengerikan dalam buku ini.” Jurnalis Tonny Van Der Mee, dalam tulisannya di situs bndestem.nl, mengatakan di balik citra Bali sebagai surga yang damai terdapat sejarah kolonial paling kejam.”

De strijd om Bali ditulis berdasarkan kesaksian pelaku, yaitu prajurit Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL), keluarga tentara yang tinggak di kamp, dan penduduk Bali yang masih menyimpan cerita kekejaman itu.

Feddy Poeteray, mantan serdadu KNIL, berkisah tentang diri dan rekan-rekannya bertemu orang-orang Bali yang mengenakan pin merah-putih Indonesia di bajunya. “Apa itu? Makan….,” kenang Feddy. “Kemudian orang-orang Bali itu menelan pin logam.”

Baca Juga:
Dari Pinggiran Paris, Sejarah Kekejaman Belanda di Bali Terungkap

Pin logam tak sampai masuk ke perut, karena jarum menancap di tenggorokan. Serdadu KNIL membiarkan orang-orang itu tersiksa tak bisa bernafas, sekarat, dan meregang nyawa.

“Jika mereka tak menelan pin itu, kami tembak mereka,” ujar Feddy. “Kami tahu mereka mungkin warga sipil tak bersalah.”

Nyonya Van der Zee punya kesaksian lain. Sebagai putri prajurit KNIL, ia tinggal di kamp militer di Bali. Kamp terdiri dari dua bagian; asrama tentara dan rumah-rumah untuk keluarga. Ada juga bagian kamp yang digunakan untuk tahanan, dan keluarga tentara tak diijinkan pergi ke tempat itu.

Van der Zee masih berusia tujuh tahun saat tinggal di salah satu kamp militer di Bali. Ia diam-diam mendatangi penjara, dan melihat tahanan berwajah hitam dan biru. Di belakang kamp terdapat makam, tapi tidak ada gundukan tanah.

“Di malam hari, saya sering mendengar suara plop, lalu bunyi tubuh jatuh,” kenang Van der Zee. “Saya lihat ibu menangis dan berkata; Oh, ada satu lagi.”

Yang juga tak bisa dilupakan Van der Zee adalah ketika dia menyaksikan ayahnya dan rekan rekan prajurit KNIL berangkat patroli rutin. Beberapa jam kemudian sang ayah kembali dengan sebuah truk.

“Truk itu berisi mayat orang Bali, yang akan dibuang ke suatu tempat entah di mana,” kata Van der Zee. “Saya memperkirakan ada 50 mayat di truk itu.

Dalam satu kesempatan, Van der Zee menyaksikan mayat-mayat korban penyiksaan digeletakan berbaris di lapangan. Keluarga korban datang dan mengambil mayat-mayat itu.

“Saya masih menderita dengan pemandangan mengerikan itu,” kata Van der Zee.

Bukan Aksi Polisionil

Di kalangan sejarawan Belanda, citra dekolonisasi Indonesia telah banyak berubah dalam beberapa tahun terakhir. Mereka sampai pada kesimpulan betapa yang dilakukan Belanda pada periode 1945-1949 bukan aksi polisionil seperti yang tertera dalam buku-buku sejarah di sekolah-sekolah Belanda, tapi perang. Kesalahan yang dilakukan Belanda bukan ekses, tapi kejahatan perang.

Sejarawan Swiss Remy Limpach, dalam buku De Brandende kampongs van generaal Spoor yang dirilis tahun 2016, menunjukan kekerasan Belanda antara 1945-1949 tidak bersifat insidental tapi struktural. Namun, rasa bersalah kolektif belum berkembang dengan baik.

Sejarawan Belgia David Van Reybrouck tahun lalu menerbitkan dakwaan kepada pemerintah Belanda setebal 500 halaman yang berjudul Revolusi. Dalam dakwaan itu, Van Reybrouck mengutip penelitian yang mempertanyakan orang Eropa macam apa yang bangga dengan masa lalu kolonial mereka.

Disebutkan, lebih 50 persen orang Belanda masih bangga akan masa lalu kolonial mereka dan hanya enam persen yang malu atas penjahan yang dilakukan di Indonesia. Bandingkan dengan Belgia, yang bangga dengan masa lalu kolonial hanya 23 persen.

Menurut Van Reybrouck, dalam kaitan inilah buku karya Lot Hoek sangat penting.

Bali Era Hindia-Belanda

Bali, menurut Lot Hoek, telah menjadi destinasi wisata sebelum Perang Dunia II. Orang-orang dari berbagai negara berkunjung dan menghabiskan berhari-hari di Bali. Bagi pemerintah Hindia-Belanda, Bali adalah penghasil devisa.

Bali yang damai dan indah telah dilalui revolusi. Remy Limpach menunjukan betapa banyak pertempuran di Pulau Dewata antara 1945-1949. Lebih menarik lagi, Bali memainkan peran penting dalam dekolonisasi Indonesia.

Tahun 1946, menurut catatan Belanda, Bali dihuni 1,5 juta jiwa. Penduduk terkonsentrasi dan sepanjang pantai, dan sedikit ke arah pedalaman.

Dibanding Pulau Jawa, yang saat itu berpenduduk 50 juta jiwa, perlawanan Bali terhadap Belanda seharusnya relatif kecil. Yang terjadi justru sebaliknya. Di Bali, Belanda menjalankan perang teror untuk melemahkan perlawanan dengan membangun banyak kamp-kamp penyiksaan.

Seperti Van Reybrouck, Lot Hoek melakukan kerja lapangan bertahun-tahun untuk menulis buku ini. Tidak hanya berbicara dengan mantan prajurit KNIL dan kerabatnya, tapi juga dengan para algojo, orang-orang yang diperintah melikuidasi orang Bali dan bekerja sama dengan Belanda.

Seperti di semua perang, kekerasan tidak hanya dilakukan satu tapi kedua pihak. Lot Hoek juga memaparkan kekerasan yang dilakukan pihak Indonesia. Yang lebih menarik adalah Lot Hoek mengambil memoar tidak diterbitkan dan surat-surat pribadi prajurit KNIL yang ditemukan.

Kekerasan di Tangsi

Ketika berbicara dengan orang Bali, Lot Hoek mendapat gambaran menarik tentang kekerasan di tangsi. Lot Hoek memulai cerita ini dengan penjelasan tentang tangsi. Menurutnya, tangsi adalah kata yang digunakan KNIL untuk menyebut detasemen tentara.

Bagi orang Bali, tangsi adalah penjara. Arsip Belanda tidak menyebut apa pun tentang tangsi di Bali. Padahal, menurut penelitian, terdapat sekitar 50 tangsi di sekujur Bali yang membentuk struktur kekerasan tersembunyi. Di tangsi, penyiksaan dan eksekusi tahanan adalah fenomena sistematis yang tersebar luas.

Veteran Ketut Meregeg, yang menerbitkan memoarnya secara lokal, bercerita tentang tangsi Jatiluwih. “Penjaga kamp, sebutan lain untuk tangsi, mencukur sampai botak para tahanan. Kemudian tahanan menjalani kerja paksa, mengangkut batu untuk memperkeras jalan di bawah terik matahari dan hujan lebat.”

“Makanannya sangat sedikit. Terkadang, penjaga kamp memberikan sisa roti yang dimakan anjing kepada tahanan. Atau, memberikan sisa makanan babi. Saat kerja, dan menemukan tumbuhan bisa dimakan, tahanan menyempatkan diri memakan tanaman itu.”

“Penjaga kamp sangat kejam. Gampang memukul tahanan dengan bambu. Saya tidak bisa tidur di malam hari akibat luka memar terkena pukulan di sekujur tubuh. Siapa pun yang dipanggil malam hari dipastikan tidak akan kembali.”

Pada pertengahan 1947, sekitar 10 ribu penduduk Bali ditahan karena alasan politik. Lot Hoek tidak berani mengatakan berapa dari jumlah itu yang selamat. Sebab, berdasarkan kesaksian mantan prajurit KNIL bernama Don Sweebe, tentara secara teratur menyuruh tahanan buang air kecil.

“Pergi sana buang air kecil. Tahanan lari menjauh ke bawah pohon atau semak, dan tentara menembak dari belakang,” kata Sweebe.

Itu bukan eksekusi untuk tahanan yang dinyatakan bersalah, tapi mekanisme pengurangan jumlah tahanan. “Penjara penuh sesak, dan penjaga sangat sedikit.”

Seluruh buku Lot Hoek seolah tentang kekejaman tak terperi, kebrutalan KNIL di luar batas kemanusiaan. Dalam buku ini kita bisa menemukan cerita tentang tahanan yang dimasukan ke dalam tong, dan digelindingkan menuruni bukit. Atau tentang sersan Angkatan Darat Republik Indonesia yang merangkak di atas bara api, menyebabkan kulit dadanya terkelupas seperti babi panggang.

Mitos Bali

Namun De strijd om Bali tidak sekedar tentang kekerasan tapi juga tentang cara Belanda yang enggan mengucap selamat tinggal kepada koloninya di Timur. Khusus Bali, kekerasan berkaitan dengan negosiasi diplomatik; Konferensi Hoge Valuwe, Perjanjian Linggarjati, Konferensi Denpasar, dan Perjanjian Renville.

Gagasan yang hendak diwujudkan Belanda adalah mendirikan Republik Bali, Belanda yakin punya banyak pendukung, dan punya alasan menjaga perdamaian dan ketertiban dengan kekeraan. Belanda melakukan apa yang dilakukan selama berabad-abad, yaitu memecah dan menguasai.

Pangeran yang ramah dipersenjatai untuk memburu orang-orang anti-Belanda dengan tentaranya. Mitos Bali yang setia harus dimunculkan kembali dan dibadikan dengan segala cara.

Mitos Bali yang setia itu terdapat pada Anak Agung, seorang raja Bali yang memiliki tentara. Ia mengejar orang-orang anti-Belanda, menyiksa, dan membunuhnya dengan sepengetahuan KNIL.

Ketika negara Republik Indonesia Timur diproklamirkan, Anak Agung menjadi perdana menteri. Bertahun-tahun kemudian, Anak Agung datang ke Belanda untuk mengambil gelar PhD dan diterima dengan segala hormat.

Tidak ada penyesalan kolektif sama sekali di kalangan prajurit KNIL yang melakukan semua kebrutalan itu, karena sejarah tidak pernah terungkap.

Back to top button