Stok Rudal Patriot dan THAAD Kritis: Di Balik Keputusan AS-Israel Tunda Serangan ke Iran

JERNIH – Penghentian mendadak gelombang serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran ternyata menyimpan krisis sistemik di tubuh militer Washington. Laporan terbaru dari lembaga pemikir Center for Strategic and International Studies (CSIS) membongkar fakta mengagetkan: stok rudal pencegat (interceptor) sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD milik AS mengalami kemerosotan tajam hingga batas kritis.
Awalnya diproyeksi Presiden Donald Trump hanya berlangsung beberapa hari sejak dimulai pada Februari 2026, Operation Epic Fury justru terseret ke dalam perang berlarut selama lima bulan yang menguras persenjataan taktis paling vital milik Pentagon.
Laporan CSIS berjudul “Renewed Iran War Would Test Diminished Interceptor Inventories” yang ditulis oleh Mark F. Cancian dan Chris H. Park mengungkapkan bahwa perang pertahanan udara telah menyedot cadangan rudal AS hingga ke titik berbahaya.
Persediaan rudal Patriot AS dilaporkan telah merosot hingga 65 persen sejak perang dimulai. Saat ini, jumlah yang tersisa berada di bawah 1.000 unit (diperkirakan hanya tersisa 759–827 unit). Cadangan pencegat THAAD diperkirakan hanya menyisa 234–278 unit di seluruh armada global AS.
Intensitas tinggi gempuran rudal balistik, rudal jelajah, dan drone Iran ke pangkalan militer AS, sekutu Teluk, dan Israel memaksa penggunaan rudal pencegat secara masif.
Laporan dari NBC mengonfirmasi bahwa akibat minimnya stok, komandan militer AS di lapangan kini terpaksa mengambil taktik yang sangat berisiko: membiarkan proyektil Iran menghantam area kosong atau tak berpenghuni di pangkalan AS demi menghemat amunisi.
Situasi ini kian mengkhawatirkan lantaran kapasitas produksi industri pertahanan AS jauh ketinggalan dibanding kecepatan konsumsi amunisi di medan perang. Lockheed Martin hanya mampu memproduksi sekitar 600 unit PAC-3 MSE pada tahun 2025. Kapasitas pabrik untuk rudal THAAD bahkan hanya mencapai 96 unit per tahun.
Analis menilai, kelangkaan amunisi defensif ini menjadi alasan utama di balik kesediaan pemerintahan Trump menerima jeda serangan dan menjajaki diplomasi, selain adanya tekanan politik dari Arab Saudi, Pakistan, dan Turki.
Anjloknya cadangan amunisi strategis ini menciptakan efek domino geopolitik yang sangat serius. Para pakar militer memperingatkan bahwa terkurasnya stok rudal Patriot dan THAAD secara mendadak mengikis kesiapan tempur (combat readiness) AS untuk menghadapi potensi konflik berskala besar dengan China di Pasifik Barat.
Washington juga dipastikan tidak akan mampu membagi alokasi sistem Patriot ke Kyiv. Vakumnya sistem pertahanan udara ini langsung dimanfaatkan Rusia untuk menggempur fasilitas vital di Ukraina menggunakan rudal balistik dan hipersonik.
Guna menutup jurang kelangkaan ini, Pentagon mengaktifkan Acquisition Transformation Strategy dengan menggelontorkan dana jumbo. Pada akhir Juli 2026, Angkatan Darat AS menganugerahkan kontrak jangka panjang hingga 2032 sebesar 58,6 Miliar Dolar AS kepada Lockheed Martin guna menggenjot target produksi tahunan PAC-3 MSE dari 600 menjadi 2.000 unit.
Pentagon juga menandatangani kesepakatan kerangka kerja senilai 35 miliar dolar AS untuk melipatgandakan produksi harian THAAD hingga empat kali lipat (menjadi 400 unit per tahun). AS juga memberikan lisensi produksi rudal Patriot kepada Ukraina serta memperkenalkan varian baru PAC-3 Adapted Capability Effector (PAC-3 ACE)—rudal pencegat murah dengan biaya kurang dari separuh harga standar PAC-3 MSE.






