
Krisis ini membuktikan bahwa peluru mungkin bisa menembus fisik, namun kekerasan sistematis pada akhirnya akan menghancurkan jiwa pelakunya. Itulah yang kini dialami tentara Israel yang beringas membunuh kini mengalami tekanan mental hebat.
JERNIH – Setelah dua tahun menjalankan kampanye militer yang oleh dunia internasional disebut sebagai genosida di Jalur Gaza, militer Israel kini menghadapi musuh baru yang tak bisa ditembak jatuh dengan rudal Iron Dome: nurani mereka sendiri yang hancur.
Laporan terbaru dari Kementerian Pertahanan Israel mengungkap sebuah krisis kesehatan mental yang masif. Ternyata, meratakan gedung-gedung dan menghabisi puluhan ribu nyawa tidaklah semudah membalikkan telapak tangan—setidaknya bagi kesehatan jiwa para serdadunya.
Kementerian Pertahanan Israel mencatat lonjakan kasus Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) hingga 40 persen sejak September 2023. Namun, itu baru permulaan. Para ahli memprediksi angka ini akan membengkak hingga 180 persen pada tahun 2028.
Dari 22.300 tentara yang sedang dirawat karena luka perang, 60 persennya menderita trauma psikis. Tampaknya, bagi ribuan tentara Israel, perang tidak berakhir saat mereka meletakkan senapan; perang baru justru dimulai saat mereka menutup mata untuk tidur.
Di tengah laporan tentang 71.400 warga Palestina yang tewas di Gaza dan kelaparan massal yang terjadi akibat blokade bantuan kemanusiaan, militer Israel justru sibuk memperluas anggaran untuk “terapi alternatif”.
Kini, para serdadu yang dihantui memori medan perang dikirim ke LSM seperti HaGal Sheli untuk belajar berselancar di ombak laut sebagai terapi. Ada juga yang kini harus bergantung pada anjing pelacak bukan untuk mencari musuh, melainkan sebagai anjing terapi untuk menenangkan gemetar di tangan mereka.
Ronen Sidi, seorang psikolog klinis di Emek Medical Center, menyebut fenomena ini sebagai “Moral Injury” atau luka moral. Ini adalah kerusakan pada kompas moral seseorang karena telah melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani.
“Membunuh wanita dan anak-anak ‘secara tidak sengaja’ dan hidup dengan perasaan telah membunuh orang tak berdosa… adalah perasaan yang sangat sulit. Anda tidak bisa memperbaiki apa yang telah Anda lakukan,” ujar Sidi.
Sebuah pengakuan yang ironis, mengingat blokade terhadap bantuan kemanusiaan—yang menyebabkan anak-anak Palestina mati kedinginan dan kelaparan—adalah kebijakan sadar yang terus dijalankan.
Bunuh Diri: Musuh di Dalam Selimut
Komite parlemen Israel menemukan fakta mengejutkan, sebanyak 279 tentara mencoba bunuh diri dalam periode Januari 2024 hingga Juli 2025. Yang lebih tragis (atau satir, tergantung sudut pandang Anda), 78 persen dari seluruh kasus bunuh diri di Israel pada tahun 2024 berasal dari kalangan tentara aktif.
Di saat mereka menduduki bukit-bukit di Lebanon, memperluas wilayah di Suriah, dan memicu ketegangan dengan Iran, institusi kesehatan mental di Israel justru “benar-benar kewalahan”.
Sementara spesialis kesehatan mental Palestina menggambarkan Gaza sebagai “gunung berapi” trauma psikologis bagi dua juta penduduknya yang kehilangan segalanya, tentara Israel berjuang melawan ketakutan akan kematian yang menghantui mereka bahkan saat sudah berada di rumah sendiri.
Israel mungkin masih menguasai lebih dari separuh Jalur Gaza secara fisik, namun secara psikologis, mereka tampaknya sedang kehilangan kendali atas pasukan mereka sendiri. Perang yang dirancang untuk memberikan “keamanan mutlak” justru menciptakan generasi serdadu yang ketakutan pada bayang-bayang mereka sendiri di atas papan selancar.






