CrispyVeritas

Tiga Pemimpin Dunia Datang Bergantian, Yuddy: Indonesia Sedang Menjadi Titik Temu Geopolitik Asia

Guru Besar Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas) dan mantan Duta Besar RI untuk Ukraina, Georgia, dan Armenia, Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, menyatakan dalam beberapa hari terakhir Jakarta menjelma menjadi titik temu kepentingan strategis berbagai kawasan dunia. “Yang terjadi pekan ini bukan sekadar kunjungan protokoler yang berhenti pada foto bersama dan jamuan kenegaraan. Dalam hitungan hari, Indonesia menerima mitra strategis dari Eurasia, ASEAN, dan Asia Selatan. Itu menunjukkan Jakarta sedang menjadi titik temu diplomasi, bukan sekadar tamu di forum negara lain,” kata Yuddy.

JERNIH– Dalam hitungan sepekan, Istana Kepresidenan di Jakarta nyaris tak pernah sepi dari tamu negara. Satu demi satu pemimpin dunia datang, mewakili kawasan yang berbeda: Eropa Timur, Asia Tenggara, hingga Asia Selatan. Di tengah rivalitas geopolitik global yang kian tajam, rangkaian kunjungan itu dinilai bukan sekadar agenda diplomatik rutin, melainkan mencerminkan semakin pentingnya posisi Indonesia dalam percaturan kawasan.

Penilaian itu disampaikan Guru Besar Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas), Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi. Menurut mantan Duta Besar RI untuk Ukraina, Georgia, dan Armenia itu, dalam beberapa hari terakhir Jakarta menjelma menjadi titik temu kepentingan strategis berbagai kawasan dunia.

“Yang terjadi pekan ini bukan sekadar kunjungan protokoler yang berhenti pada foto bersama dan jamuan kenegaraan. Dalam hitungan hari, Indonesia menerima mitra strategis dari Eurasia, ASEAN, dan Asia Selatan. Itu menunjukkan Jakarta sedang menjadi titik temu diplomasi, bukan sekadar tamu di forum negara lain,” kata Yuddy.

Rangkaian itu diawali kunjungan kenegaraan Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko pada 1–2 Juli. Kunjungan tersebut menghasilkan peluncuran Peta Jalan Kerja Sama Bilateral Indonesia–Belarus 2026–2030, yang mencakup kerja sama di bidang ketahanan pangan, energi, pupuk, dan industri. Lukashenko juga tercatat sebagai kepala negara sahabat pertama yang bermalam di Istana Negara.

Bagi Yuddy, kerja sama tersebut memiliki arti yang lebih luas daripada hubungan bilateral semata. Belarus, katanya, merupakan salah satu pintu masuk menuju pasar Uni Ekonomi Eurasia, kawasan yang semakin penting dalam konfigurasi perdagangan global.

“Belarus adalah salah satu mitra strategis Indonesia untuk menjangkau pasar Eurasia. Ini bukan sekadar diplomasi simbolik, tetapi membuka peluang ekonomi yang nyata,” ujarnya.

Tak lama berselang, Presiden Prabowo menerima Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dalam pertemuan tahunan Leaders’ Retreat di Istana Merdeka. Pertemuan itu menghasilkan 26 kesepakatan di berbagai bidang, mulai dari ekonomi digital, perdagangan listrik lintas batas, pengembangan kredit karbon, kerja sama lingkungan, hingga penguatan keamanan Selat Malaka.

Menurut Yuddy, capaian tersebut menunjukkan hubungan Indonesia-Singapura tidak lagi semata bertumpu pada perdagangan, tetapi mulai berkembang ke isu-isu strategis yang menentukan masa depan kawasan. “Menjaga Selat Malaka tetap aman merupakan kepentingan bersama. Pada saat yang sama, kedua negara juga memperluas kerja sama ekonomi baru yang akan menjadi mesin pertumbuhan pada masa depan,” ujarnya.

Pekan diplomasi itu kemudian ditutup dengan kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi pada 6–8 Juli. Dalam pertemuan bilateral, kedua negara menyepakati 14 nota kesepahaman dan enam inisiatif strategis di bidang pertahanan, keamanan maritim, energi, hingga ekonomi digital.

Di luar kerja sama ekonomi dan pertahanan, Yuddy menaruh perhatian pada komitmen India membantu restorasi Candi Prambanan melalui Archaeological Survey of India. Menurutnya, langkah tersebut memiliki nilai simbolik yang jauh melampaui kerja sama teknis.

“Prambanan adalah jejak panjang hubungan peradaban Indonesia dan India. Ketika kedua negara bekerja sama merawat warisan budaya itu, yang dibangun bukan hanya hubungan antar-pemerintah, tetapi juga jembatan persahabatan antarsivilisasi,” katanya.

Yuddy menilai, rangkaian kunjungan tiga pemimpin dunia dari kawasan yang berbeda dalam waktu hampir bersamaan menjadi sinyal bahwa Indonesia semakin diperhitungkan sebagai mitra strategis di kawasan Indo-Pasifik.

Di tengah meningkatnya rivalitas berbagai kekuatan besar dunia, kata dia, negara-negara sahabat membutuhkan Indonesia sebagai mitra yang mampu menjaga keseimbangan hubungan internasional sekaligus menjadi kekuatan penengah di kawasan.

“Indonesia adalah negara terbesar di ASEAN. Wajar apabila Jakarta semakin sering menjadi tujuan para pemimpin dunia untuk membangun komunikasi dan kerja sama strategis. Ini menunjukkan posisi Indonesia semakin diperhitungkan dalam percaturan geopolitik regional maupun global,” ujar Yuddy.

Menurut dia, tantangan berikutnya adalah memastikan intensitas diplomasi tersebut benar-benar menghasilkan manfaat nyata bagi kepentingan nasional, baik dalam bentuk investasi, perdagangan, transfer teknologi, maupun penguatan posisi Indonesia di tengah perubahan tatanan dunia yang terus berlangsung. [dsy]

Back to top button