POTPOURRIVeritas

Dari Dendang Keadilan ke Penyapu Jalan Radial: Puisi Marlin Dinamikanto

mati hanya sekali

takut berkali-kali

tajamkan kuku panasi tulang

robek segala pantang

Marlin Dinamikanto

Dendang Keadilan

keadilan berwarna ungu

namun sayang dia bermukim

di wilayah hukum abu-abu

wajahnya pucat

seperti langit yang dicat

mendung kelabu

dewi keadilan – wajahnya  muram

bertikam gelap sepanjang abad

marwahnya laksana pedang tumpul

sebab kerap bercakap di ruang gelap

kantor-kantor para pengepul

alih-alih terbuat dari baja

pedang keadilan terbuat dari seng

mudah karatan – tak bisa lagi diasah

atau digenggam dewi keadilan

yang matanya tidak lagi buta

sebab senyum manis Benjamin Franklin

dalam pecahan dolar Amerika

masih bisa dilihatnya

tapi mendadak buta

saat bocah 10 tahun di Manggarai

bunuh diri hanya karena mamanya

tak bisa beli buku – tampaknya

dewi keadilan enggan bermukim

di gubuknya orang miskin

seperti kata Bung Karno

melainkan di panggung tonil

tempat orang-orang gagah

bertitah laksana bandit

saat merampok rumahnya

dendang keadilan bukan lagi ode

melainkan musik berdentam liar

tanpa irama – bukan lagi ekspresi

keagungan jiwa yang dititipkan Tuhan

kepada sosok bertoga

Yang Mulia, orang-orang memanggilnya

Benjamin Franklin pun tersenyum mesra

dari dalam pikirannya

   —-Tugu Proklamasi, 22 Februari 2026

NAMRUD

gerus saja luka

dari dinding kaca

sebelum Namrud datang

di garis batas petang

duka tidak boleh dipajang

jadi etalase kemiskinan

berserak abadi sepanjang

fase-fase kekuasaan

lupakan otak kiri otak kanan

juga doa yang tidak lagi mujarab

singkirkan Namrud dari kekuasaan

bergerak lah sebelum gelap

tapi apakah itu bisa

saat kalian sibuk di jagat maya

bukan mengepung istana Namrud

yang titahnya begitu jumud

lenyapkan pedih peri

laksana Chairil Anwar berlari

tak peduli lagi binatang jalang

hingga kelak Namrud berpulang

mati hanya sekali

takut berkali-kali

tajamkan kuku panasi tulang

robek segala pantang

Hai anak muda, jadilah Ibrahim

Musa Yesus Muhammad atau siapa saja

sebelum Namrud bertunas dalam rahim

kemanusiaan yang kita jaga

—-Dusun Tanen, 25 Juli 2026

PENYAPU JALAN RADIAL

pagi terlihat datar

trotoar hening senyap

penyapu jalan lincah

bertekun riang basmi sampah

barangkali saja duit dari brangkas

terbang jauh ke radial?

oh, jangan berpikir cak itu

tekuni saja pekerjaanmu

kata penyapu jalan senior

sambil elap keringat yang dingin

mengendap di baju oranye

sedikit dekil tak apa

asal jalan radial bersih

dari sampah tentunya

bukan dari koruptor

yang membercak jiwa

para pemimpin di atas sana

terlihat semakin kotor

oh, jangan berpikir cak itu

tekuni saja pekerjaanmu

kata penyapu yang lebih senior

biasa tekuni sampah-sampah kotor

tapi bukan koruptor

——–Palembang, 13 Juli 2026

Back to top button