CrispyVeritas

Tumbuh 5,61 Persen Tapi Rapuh: Menteng Kleb Ingatkan “Dualitas Ekonomi” di Balik Optimisme Kuartal I-2026

Di titik ini, narasi pertumbuhan mulai retak. Apa yang tampak solid dari kejauhan, menjadi lebih rapuh ketika dilihat dari dekat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melesat 1,22 persen ke level 7.057, mencerminkan kepercayaan investor terhadap kinerja emiten. Namun di saat yang sama, nilai tukar rupiah bergerak ke arah berlawanan—melemah hingga Rp17.424 per dolar AS. Selisih ini menciptakan apa yang disebut Kusfiardi sebagai “celah kredibilitas” terhadap asumsi APBN yang mematok kurs di Rp16.500.

JERNIH– Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 memang tampak meyakinkan. Namun di balik itu, tersimpan keganjilan yang tak bisa diabaikan. Menteng Kleb melalui analis ekonominya, Kusfiardi, mengingatkan munculnya fenomena yang ia sebut sebagai “dualisme ekonomi”—situasi ketika optimisme di satu sisi justru bertabrakan dengan sinyal bahaya di sisi lain.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year) pada Kuartal I-2026, sedikit melampaui target APBN. Namun angka itu tak berdiri utuh. Secara kuartalan (quarter-to-quarter), ekonomi justru terkontraksi 0,77 persen.

Kusfiardi melihat ini bukan sekadar fluktuasi biasa. “Pertumbuhan tahunan yang berdampingan dengan kontraksi kuartalan menunjukkan adanya perlambatan aktivitas ekonomi pasca-siklus musiman. Momentum ini rentan hilang pada Kuartal II,” kata dia.

Di titik ini, narasi pertumbuhan mulai retak. Apa yang tampak solid dari kejauhan, menjadi lebih rapuh ketika dilihat dari dekat.

Pasar keuangan memberi respons yang tidak seragam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melesat 1,22 persen ke level 7.057, mencerminkan kepercayaan investor terhadap kinerja emiten. Namun di saat yang sama, nilai tukar rupiah bergerak ke arah berlawanan—melemah hingga Rp17.424 per dolar AS.

Selisih ini menciptakan apa yang disebut Kusfiardi sebagai “celah kredibilitas” terhadap asumsi APBN yang mematok kurs di Rp16.500. Dalam bahasa sederhana: pasar saham bersorak, tetapi pasar valuta asing justru memberi peringatan.

Menurut Kusfiardi, pelemahan rupiah di tengah klaim pertumbuhan yang kuat menjadi sinyal bahwa faktor global masih jauh lebih dominan dibanding narasi domestik. Risiko inflasi di negara berkembang, ditambah perlambatan ekonomi global yang diperkirakan hanya tumbuh sekitar 3 persen, menjadi tekanan yang nyata.

“Ini menunjukkan bahwa pasar tidak sepenuhnya percaya pada kekuatan fundamental domestik,” kata dia.

Dari sini, implikasinya menjalar ke banyak sisi. Kusfiardi mengingatkan setidaknya tiga risiko utama yang mulai terbentuk. Pertama, imported inflation. Pelemahan rupiah akan mendorong kenaikan harga bahan baku impor, yang pada akhirnya menekan harga barang di dalam negeri. Target inflasi 2,5 persen menjadi semakin sulit dijaga.

Kedua, tekanan terhadap APBN. Dengan defisit yang sudah berada di kisaran 2,48 persen, pelemahan kurs berpotensi memperbesar beban subsidi energi sekaligus bunga utang luar negeri.

Ketiga, yang paling krusial: daya beli masyarakat. Ketika harga naik, konsumsi rumah tangga—yang selama ini menjadi mesin utama pertumbuhan—akan mulai tergerus.

Dalam logika ekonomi Indonesia, ini titik yang paling sensitif. Ketika konsumsi melemah, seluruh struktur pertumbuhan ikut goyah.

Di ujung analisisnya, Kusfiardi menempatkan kondisi saat ini sebagai fase rawan. Pertumbuhan ekonomi yang terlihat tinggi di awal tahun belum cukup kuat untuk menjadi jangkar stabilitas. “Diperlukan sinkronisasi kebijakan yang lebih agresif antara intervensi moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal pemerintah,” katanya.

Ia menegaskan, tanpa langkah cepat untuk menstabilkan nilai tukar, capaian pertumbuhan pada awal tahun hanya akan menjadi “puncak semu”—sebuah ilusi kekuatan yang mudah runtuh ketika tekanan biaya hidup mulai terasa luas di masyarakat. Di situlah paradoks ekonomi Indonesia hari ini berdiri: tumbuh, tetapi rapuh. [rls]

Back to top button