Ubah Puing Perang Jadi Batako, Dua Remaja Kakak-Adik di Gaza Raih Penghargaan Lingkungan Dunia

JERNIH – Di tengah kehancuran total akibat perang, harapan baru muncul dari kreativitas generasi muda Gaza. Dua remaja perempuan bersaudara berhasil meraih penghargaan lingkungan internasional setelah menciptakan teknik inovatif untuk mendaur ulang jutaan ton puing bangunan menjadi batako siap pakai.
Farah Mousa (15) dan kakaknya, Tala Mousa (17), resmi dinobatkan sebagai pemenang regional Timur Tengah dalam ajang The Earth Prize, kompetisi lingkungan hidup terbesar di dunia untuk kategori remaja.
Seperti hampir seluruh dari 2,2 juta penduduk Jalur Gaza lainnya, Farah dan Tala telah mengungsi berkali-kali selama dua tahun agresi berlangsung. Setelah rumah mereka hancur total akibat pengeboman, kakak-adik ini kini terpaksa bertahan hidup di dalam sebuah tenda pengungsian. Namun, kehancuran yang ada di sekeliling justru memantik ide besar mereka.
“Setelah seluruh kota kami berubah menjadi puing-puing, segala hal di sekitar kami mendorong kami untuk memikirkan sebuah solusi,” ujar Tala (17) kepada BBC.
Tanpa akses ke material bangunan standar, kedua remaja ini memanfaatkan bahan-bahan mentah yang berada di dekat tenda mereka. Melalui berbagai eksperimen, mereka berhasil menciptakan formula batako kokoh dengan mencampurkan ping-puing bangunan yang telah dihancurkan (crushed rubble), abu sisa pembakaran, tanah liat (clay) dan nubuk kaca (glass powder).
Inovasi ini dinilai sangat krusial mengingat skala kehancuran di Gaza yang luar biasa. Tahun lalu, PBB bahkan mengestimasikan bahwa biaya rekonstruksi untuk membangun kembali kota-kota yang rata dengan tanah di Gaza bisa mencapai $70 miliar dolar AS.
Atas kemenangan ini, Farah dan Tala berhak membawa pulang hadiah uang tunai sebesar $12.500 dolar AS (sekitar Rp200 juta). Alih-alih menggunakannya untuk kepentingan pribadi, mereka memiliki rencana mulia demi masa depan tanah air mereka.
“Kami akan menggunakan uang hadiah ini untuk melatih sekitar 100 anak muda agar bisa membuat batako ini, sehingga mereka dapat berpartisipasi langsung dalam rekonstruksi Gaza secara mandiri, alih-alih hanya duduk diam menunggu bantuan dari luar,” tegas Farah (15).
The Earth Prize merupakan penghargaan tahunan yang dianugerahkan oleh The Earth Foundation, sebuah organisasi non-pemerintah (NGO) yang berbasis di Jenewa, Swiss. Sejak tahun 2022, yayasan ini rutin memberikan penghargaan bagi inovasi pelajar berusia 13 hingga 19 tahun.
Sejauh ini, pihak yayasan telah mengumumkan pemenang regional untuk wilayah Eropa, Afrika, dan Timur Tengah. Empat wilayah regional lainnya akan diumumkan dalam beberapa hari ke depan, sebelum nantinya pemenang utama global (overall winner) ditentukan melalui pemungutan suara masyarakat umum (public vote).






