Warga Gaza Gelar Pernikahan sebagai Manifestasi Pembangkangan Perang Genosida Israel

Pilihan melanjutkan pernikahan adalah tindakan pembangkangan untuk melanjutkan kehidupan normal di tengah kehancuran besar-besaran yang disebabkan perang genosida Israel selama dua tahun.
JERNIH – Setelah lebih dari dua tahun perang dan pengungsian, pernikahan kembali digelar di Gaza. Meskipun upacara berlangsung sederhana, warga Palestina mengatakan pilihan melanjutkan pernikahan adalah tindakan pembangkangan untuk melanjutkan kehidupan normal di tengah kehancuran besar-besaran yang disebabkan perang genosida Israel selama dua tahun.
Ahmed Sobeh, seorang warga Palestina berusia 27 tahun dari Gaza, mengatakan kepada Al-Araby Al-Jadeed, publikasi saudara dari The New Arab (TNA), bahwa ia terpaksa menunda pernikahannya selama lebih dari dua tahun. “Dulu bermimpi tentang pernikahan besar seperti orang lain, tetapi perang telah merenggut semuanya,” katanya.
Sebelum Oktober 2023, pernikahan di Gaza merupakan acara sosial yang ditandai dengan pesta besar, perayaan musik, pertemuan di jalanan, dan jamuan makan keluarga yang berlimpah. Karena sebagian besar infrastruktur Gaza hancur dan puluhan ribu orang tinggal di tenda-tenda darurat, upacara pun diadakan di rumah-rumah atau aula kecil jika tersedia.
Perkiraan menunjukkan bahwa 93% hotel, fasilitas wisata, dan gedung pernikahan di Gaza telah hancur akibat bombardir Israel, dengan sebagian besar wilayah Gaza timur tetap tidak dapat diakses oleh warga Palestina karena pendudukan berkelanjutan oleh tentara Israel.
Situasi ekonomi yang buruk di wilayah yang terkepung itu juga menjadi faktor yang menghalangi pasangan untuk mengadakan acara besar, karena harga-harga sangat mahal dan pilihan makanan yang terbatas. “Kami kehilangan rumah dan sumber penghasilan kami,” kata Ahmed, seraya menambahkan bahwa hal ini menyebabkan penundaan pernikahannya yang berkelanjutan.
Banyak pasangan pengantin baru tidak memiliki rumah yang aman atau kemampuan membeli rumah baru guna memulai hidup bersama. Beberapa di antaranya telah kehilangan seluruh pendapatan dan menggunakan sedikit tabungan yang mungkin tersisa untuk membeli kebutuhan pokok dengan harga yang melambung tinggi.
Ekonomi Gaza runtuh sekitar 83% pada tahun 2024, menurut perkiraan Persatuan Bangsa-bangsa (PBB), dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita turun menjadi hanya US$161 per tahun, setara dengan kurang dari 50 sen per hari.
Dalam sebuah laporan yang dirilis November 2025, badan perdagangan dan pembangunan PBB menempatkan Gaza sebagai salah satu tempat dengan PDB terendah di dunia, karena perang telah mendorong seluruh 2,3 juta penduduk di sana ke bawah garis kemiskinan.
Banyak juga yang memilih mengadakan pernikahan sederhana yang hanya dihadiri anggota keluarga dekat sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang tewas selama genosida, dengan kementerian kesehatan mengatakan setidaknya 72.000 warga Palestina telah tewas sejak Oktober 2023.
Rida A’rab, ayah dari seorang mempelai pria yang baru saja menikah di Gaza, mengatakan kepada Al-Araby Al-Jadeed bahwa pernikahan putranya berlangsung sederhana dan terbatas, sebagai bentuk penghormatan terhadap penderitaan masyarakat dan situasi ekonomi.
Meskipun demikian, seperti keluarga Ahmed dan Rida yang memilih tetap melanjutkan perayaan pernikahan, tetap menentang situasi yang sedang berlangsung. Pernikahan Ahmed “sederhana”, katanya, “tetapi penting karena membawa pesan bahwa kita masih berpegang teguh pada kehidupan meskipun ada semua kepahitan dan kehilangan”.
Rida juga mengatakan bahwa “melihat putra saya memulai hidupnya di tengah semua kehancuran ini adalah sebuah kebahagiaan tersendiri, sebuah pesan yang jelas bahwa perang belum berhasil merampas harapan kami”.






