Washington Perintahkan Evakuasi Wajib Diplomat AS dari Arab Saudi Saat Perang Memanas

JERNIH – Situasi di Timur Tengah telah mencapai titik didih baru. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) secara resmi mengeluarkan perintah evakuasi wajib (mandatory evacuation) bagi sebagian besar diplomat dan pegawai pemerintahannya di Arab Saudi, Senin (9/3/2026).
Keputusan drastis ini diambil setelah kompleks diplomatik AS di Riyadh menjadi sasaran serangan drone langsung, menandai babak paling berbahaya bagi personel Amerika sejak perang melawan Iran pecah pada 28 Februari lalu.
Hanya dalam hitungan hari, kebijakan Washington berubah drastis. Jika pada 3 Maret lalu staf non-esensial hanya diberi opsi pulang secara sukarela, kini Departemen Luar Negeri AS mewajibkan mereka dan seluruh anggota keluarga untuk segera meninggalkan wilayah Arab Saudi.
“Langkah untuk mengurangi kehadiran personel menjadi hanya staf yang benar-benar esensial adalah keputusan yang bijaksana,” ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS. Meski demikian, Kedutaan Besar AS di Riyadh dipastikan tetap beroperasi dengan “staf inti” untuk menjaga jalur komunikasi diplomatik tetap terbuka.
Evakuasi massal ini dipicu oleh serangan dua pesawat nirawak (drone) Iran yang menghantam area Kedubes AS di Riyadh pada Selasa lalu. Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi serangan tersebut sebagai bagian dari gelombang rudal dan drone yang terus menghujani negara-negara Teluk Persia.
Di sisi lain, eskalasi militer kian mengerikan. Militer Israel dilaporkan telah menghantam depot bahan bakar di Teheran dan membidik jaringan listrik utama Iran. Serangan terhadap fasilitas industri dan energi ini memicu kekhawatiran global akan munculnya hujan asam beracun di kawasan tersebut. Sementara Iran tetap tangguh, Teheran mengklaim memiliki kapasitas militer untuk mempertahankan perang ini hingga berbulan-bulan ke depan.
Trump: “Menyerah Tanpa Syarat!”
Di tengah kekacauan ini, Presiden Donald Trump justru memperkeras retorikanya. Melalui unggahan di media sosial, Trump menuntut “penyerahan tanpa syarat” dari pihak Iran—sebuah pernyataan yang menutup pintu negosiasi damai dalam waktu dekat.
Dampak dari “perang saraf” dan fisik ini langsung menghantam jantung ekonomi dunia. Pasar saham global merosot tajam sementara harga minyak mentah terus meroket, mencerminkan ketakutan investor akan konflik berkepanjangan yang tak terkendali.
Bandara-bandara di Arab Saudi diperkirakan akan sangat sibuk dalam 24 jam ke depan karena proses pemulangan personel AS dan warga asing lainnya. Dunia kini menunggu apakah evakuasi ini adalah sinyal bahwa AS bersiap melancarkan serangan yang jauh lebih besar ke jantung pertahanan Iran.






