Depth

Misteri Level Bahaya Virus Corona Wuhan

Sebagaimana saat virus SARS menyerang, pemerintah Cina kali ini pun dicurigai menutup-nutupi data valid jumlah korban

WUHAN—Setelah hanya menyerang kota Wuhan di Cina, wabah mematikan itu kini telah mencapai tiga negara di luar Cina. Yang lebih mengkhawatirkan, seberapa luas penyebaran wabah masih ditutup-tutupi pemerintah setempat.

Virus baru yang relatif tak dikenal itu pertama kali dilaporkan di kota Wuhan,  Cina, 31 Desember 2019, dalam katagori sangat mengkhawatirkan para pakar kesehatan global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan Senin 20 Januari lalu, mereka akan mengadakan pertemuan darurat tentang virus jenis coronavirus, spesies yang biasa ditemukan pada hewan yang sesekali melompat ke manusia tersebut.

Di Cina, kasus-kasus virus di masa lalu yang menular dari hewan ke manusia relatif umum terjadi karena dekatnya kontak antara manusia dengan hewan peliharaan seperti ayam, konsumsi hewan liar seperti luwak. Tekanan populasi dan menipisnya sumber daya telah mendorong warga untuk masuk lebih dalam ke hutan, memakan segala yang mereka temui.

SARS, virus corona yang pertama kali dilaporkan pada 2003, membunuh lebih dari 800 orang dan menginfeksi sekitar 8.000 orang. Saat itu pemerintah Cina disalahkan karena menutup-nutupi penyebaran SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). Bahkan Jiang Yanyong, pensiunan ahli bedah yang sempat dihukum penjara karena mengungkapkan penyebaran virus itu, sebelum akhirnya dipuji sebagai pahlawan, mengungkapkan betapa lambannya pemerintah Cina.

Seberaoa mematikan?

James Palmer dalam tulisannya di Foreign Policy, sulit untuk memastikan dengan pasti tingkat bahaya virus tersebut. Pasalnya, informasi yang dikeluarkan oleh pemerintah Cina sama sekali tidak bisa divalidasi. Wuhan sendiri adalah kota yang berpenduduk 11 juta orang, dan di Cina yang padat, virus ini dipastikan telah mencapai kota-kota besar seperti Beijing dan Shanghai, bahkan telah menjelajah hingga selatan ke Shenzhen, yang berbatasan dengan Hong Kong.

Di luar Cina, Jepang, Thailand, dan Korea Selatan memiliki kasus tercatat yang sama, dan semua yang kena merupakan pelancong ke Cina. Walaupun awalnya diklaim hanya merupakan hasil penularan dari hewan ke manusia, dokter baru saja mengkonfirmasi penularan dari manusia ke manusia: 14 petugas kesehatan juga telah dilaporkan terinfeksi.

Virus itu menyebabkan pneumonia, mengakibatkan kesulitan bernafas. Sejauh ini empat orang dilaporkan tewas, dengan puluhan pasien tengah dalam kondisi serius atau kritis. Mayoritas korban hanya memiliki gejala ringan, dan beberapa sudah dipulangkan.

Pertanyaan seberapa buruk suatu virus baru selalu menjadi pertanyaan terbuka. Metode pengendalian penyakit modern telah meningkat secara dramatis sejak wabah influenza pada 1918-19 membunuh lebih banyak orang daripada Perang Dunia I, dan populasi global lebih sehat dan lebih tahan. Saat ini, kekhawatiran utama adalah di Cina sendiri, terutama penanganan kasus oleh pemerintah.

Ada banyak unggahan cerita di media sosial yang mengklaim rumah sakit Wuhan dipenuhi dengan korban atau yang menunjukkan staf rumah sakit dengan peralatan perlindungan penuh. Itu mungkin hanya rumor, tetapi data yang disediakan pemerintah masih mencurigakan, terutama dengan adanya kenaikan tiba-tiba jumlah korban selama akhir pekan. Selama berhari-hari, pihak berwenang menyatakan jumlah korban yang terinfeksi adalah 41 orang; kemudian, angka itu tiba-tiba melonjak akhir pekan ini, mencapai 218 orang.

Di Wuhan, pihak berwenang telah melakukan survei dari pintu ke pintu, melakukan pengerahan seluruh staf medis dan pemeriksaan transportasi untuk orang-orang yang menunjukkan gejala infeksi. Ada juga pengumuman publik, termasuk pernyataan oleh Presiden Cina Xi Jinping dan ahli epidemologi Zhong Nanshan.

Hong Kong, yang sangat terpukul oleh virus SARS, telah menerapkan rencana kesehatan masyarakat; kota-kota di Cina lainnya lebih lambat untuk bertindak, meskipun pihak berwenang telah berjanji untuk memeriksa pasar hewan.

Namun tantangan sebenarnya datang pada akhir pekan ini, saat Tahun Baru Imlek. Di Tahun Baru Imlek, sebagian besar warga Cina mudik ke kampung halaman mereka, yang dikenal sebagai “perjalanan musim semi” (chunyun). Mudik ini merupakan migrasi massal terbesar di dunia, ratusan juta orang pulang untuk berkumpul dengan keluarga mereka.

Kereta dan bandara yang penuh sesak oleh orang-orang adalah cawan petri untuk penyakit. Begitu juga festival perayaan kembang api atau pameran kuil yang pasti dihadiri banyak orang. Makan bersama keluarga besar, yang juga merupakan bagian dari perayaan Tahun Baru Imlek, menjadi kemungkinan cara penularan lainnya.

Namun, wabah di liburan yang akan datang ini memberikan motivasi yang kuat bagi para pejabat pemerintah untuk meremehkan penyakit itu.

Tahun Baru Imlek adalah salah satu periode konsumsi besar yang membantu pejabat pemerintah menjaga angka PDB mereka tetap tinggi. PDB adalah salah satu metrik utama yang digunakan untuk menilai kinerja pejabat, yang mengarah pada distorsi statistik reguler, terutama dalam ekonomi yang melambat.

SARS juga awalnya pecah tepat sebelum Tahun Baru Imlek, dan ketakutan akan tekanan ekonomi menjadi motivasi yang kuat untuk merahasiakannya, yang akhirnya justru memperparah penyebarannya.

Ahli epidemi Laurie Garrett menilai, ada tanda-tanda yang menunjukkan krisis ini akan terulang, sementara spesialis medis lainnya mengatakan penanganannya jauh lebih baik kali ini. Namun, bahkan jika ada lebih banyak kemauan untuk menangani krisis dengan baik di tingkat pusat, ada banyak cara yang bisa menggagalkan sistem ini.

Salah satu masalah utama dalam setiap skenario bencana, mulai dari gempa bumi hingga epidemi, adalah buramnya informasi dari pemerintah Cina. Informasi dalam lingkungan politik yang sangat kompetitif menjadi komoditas untuk diperdagangkan, bukan untuk dibagikan. Misalnya, kolega secara teratur menyembunyikan jadwal mereka dari satu sama lain, sementara di setiap tingkatan para pejabat mengubah angka untuk membuat diri mereka terlihat lebih baik.

Tanpa kebebasan pers, dan masyarakat sipil yang lemah, Cina tidak memiliki lembaga statistik selain lembaga intrapartai untuk menjaga segala sesuatu tetap objektif dan valid. [foreignpolicy]

[foreignpolicy]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close