CrispyVeritas

Ketika Pancasila Bicara dengan Bahasa Gen Z

Gun Gun K. Adilaga meluncurkan buku terbarunya, “Ikan Busuk Mulai dari Kepala: Politik Historiografi Pancasila”, sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-59 Fakultas Filsafat UGM. Dengan gaya bercanda, ia menyebut peluncuran itu sebagai sebuah “agresi” ke markas para pemikir Pancasila. Istilah itu bukan tanpa alasan. Fakultas Filsafat UGM selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pusat lahirnya pemikiran-pemikiran penting tentang filsafat, kebangsaan, dan Pancasila.

JERNIH– Pancasila selama ini lebih sering hadir dalam ruang kuliah, pidato resmi, atau buku-buku akademik yang tebal. Tidak sedikit anak muda menganggapnya penting, tetapi terasa jauh. Di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (30/7/2026), jarak itu dicoba dipersempit.

Penulis independen Gun Gun K. Adilaga meluncurkan buku terbarunya, “Ikan Busuk Mulai dari Kepala: Politik Historiografi Pancasila”, sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-59 Fakultas Filsafat UGM. Dengan gaya bercanda, ia menyebut peluncuran itu sebagai sebuah “agresi” ke markas para pemikir Pancasila.

Istilah itu bukan tanpa alasan. Fakultas Filsafat UGM selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pusat lahirnya pemikiran-pemikiran penting tentang filsafat, kebangsaan, dan Pancasila. Karena itu, menghadirkan sebuah buku sejarah politik dengan bahasa khas Generasi Z di ruang tersebut terasa seperti sebuah eksperimen intelektual yang menarik.

Alih-alih menggunakan bahasa akademik yang kaku, Gun Gun memilih diksi yang ringan, lugas, bahkan sesekali meminjam ungkapan-ungkapan populer yang akrab di media sosial. Ia ingin menunjukkan bahwa membicarakan Pancasila tidak harus selalu terasa berat, apalagi membosankan.

Pilihan itu mendapat sambutan positif dari Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum.

Menurutnya, pendekatan semacam itu justru menjadi tantangan baru bagi kalangan akademisi. Gagasan besar mengenai Pancasila dan filsafat perlu terus diterjemahkan ke dalam bahasa yang mampu menjangkau generasi muda tanpa kehilangan kedalaman berpikirnya.

“Boleh jadi, sudah saatnya lebih banyak buku filsafat dan Pancasila ditulis dengan bahasa yang akrab bagi Gen Z,” demikian kira-kira semangat yang disampaikan dalam diskusi tersebut.

Suasana diskusi berlangsung cair. Tidak terasa seperti seminar formal yang penuh jarak antara pembicara dan peserta. Hadir pula Prof. Dr. Lasiyo, M.A., M.M., dosen Fakultas Filsafat UGM sekaligus mantan Ketua Pusat Studi Wayang UGM, yang selama ini dikenal luas sebagai salah satu pengajar senior di bidang filsafat.

Momentum itu sekaligus menjadi penghormatan bagi Prof. Lasiyo yang memasuki masa purna tugas setelah puluhan tahun mengabdikan diri di Universitas Gadjah Mada.

Semula acara juga dijadwalkan dihadiri Wakil Menteri Komunikasi dan Digital. Namun karena berhalangan, ia menyampaikan pesan melalui rekaman video yang diputar sebelum diskusi dimulai. Dalam pesannya, ia mengapresiasi lahirnya karya-karya kreatif yang berusaha mempertemukan gagasan kebangsaan dengan bahasa generasi digital.

Peserta diskusi berasal dari berbagai kalangan. Mahasiswa Fakultas Filsafat tampak memenuhi ruangan. Hadir pula anggota Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB) Fakultas Ilmu Budaya UGM, serta sejumlah aktivis organisasi kemahasiswaan yang tengah mempersiapkan kegiatan PIONIR bagi mahasiswa baru.

Menariknya, meski tahun akademik belum sepenuhnya berjalan, antusiasme mahasiswa cukup terasa. Sebagian peserta telah membawa buku tersebut sebelum acara dimulai. Seusai diskusi, mereka mengantre meminta tanda tangan penulis sambil melanjutkan perbincangan tentang isi buku.

Fenomena itu menunjukkan satu hal. Di tengah derasnya arus konten digital yang serba singkat, buku ternyata belum kehilangan daya tariknya—asal mampu berbicara dengan bahasa zamannya.

Buku Ikan Busuk Mulai dari Kepala: Politik Historiografi Pancasila sendiri mencoba membaca kembali perjalanan historiografi Pancasila melalui pendekatan sejarah politik. Judulnya memang provokatif, tetapi justru di situlah letak daya tariknya: mengundang orang membuka halaman pertama sebelum akhirnya diajak memasuki perdebatan yang lebih serius mengenai gagasan, kekuasaan, dan perjalanan ideologi bangsa.

Peluncuran buku ini menjadi pengingat bahwa tantangan terbesar Pancasila hari ini mungkin bukan lagi soal diterima atau ditolak. Tantangannya adalah bagaimana membuatnya kembali dibaca, diperdebatkan, dan dipahami oleh generasi yang tumbuh bersama algoritma media sosial.

Berdasarkan penelusuran Faktakata.web.id, buku tersebut kini telah tersedia melalui sejumlah platform marketplace sehingga dapat diakses masyarakat luas. []

Back to top button