Depth

Tiga Negara Giat Patroli, Abu Sayyaf Tetap Woles Menculik

MINDANAO—Berbagai penculikan di perairan Malaysia yang berbatasan dengan Indonesia dan Filipina (sebagian besar ditudingkan kepada gerilyawan Abu Sayyaf) masih saja terjadi kendati patroli udara dan laut tiga negara diluncurkan sejak 2017. Seorang pejabat militer Filipina mengakui, luasnya laut di kawasan itu menjadi penyebab utama tak efektifnya patroli.

Meski begitu, Patroli Maritim Trilateral (TMP) yang diluncurkan pada 2017 memiliki efek dalam memerangi ancaman yang ada. “Kawasan itu tidak memiliki hukum seiring para perompak dan militan bebas dari hukuman,” kata Mayor Arvin Encinas, juru bicara Komando Mindanao Barat Armed Force of Philipphine (AFP).

“Kami memiliki operasi yang sedang berlangsung saat ini. Kami tidak bisa hanya melakukannya sendiri, itu dikoordinasikan dengan rekan-rekan kami,” ujar Encinas kepada Eurasia Review. Ia mengakui, sebenarnya patroli itu efektif, tetapi itu tidak cukup karena area yang diliput terlalu besar.

Rekan-rekannya dari Indonesia dan Malaysia memberikan komentar serupa. Mereka berbicara tentang memperkuat patroli untuk melindungi warga sipil, kurang dari seminggu setelah orang-orang bersenjata yang diduga Abu Sayyaf menculik lima nelayan Indonesia dari sebuah kapal nelayan di perairan Malaysia di negara bagian Sabah timur, dekat dengan Provinsi Tawi-Tawi di Filipina selatan.

Seorang juru bicara militer Indonesia (TNI) mengatakan, ketiga negara terhambat oleh batas-batas. “Penculikan terjadi di Malaysia, jadi kami tidak bisa melakukan apa-apa. Malaysia bertanggung jawab di sana,” ujar Juru Bicara TNI Mayjen Sisriadi. “Kami tidak bisa pergi ke sana karena itu wilayah Malaysia. Kami harus menghormati kedaulatan masing-masing negara.”

Menteri Keamanan Indonesia Mahfud MD mengatakan, ia berencana untuk membahas masalah keamanan maritim dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi, menambahkan ada alasan mengapa penculikan masih terjadi. “Karena (kelompok) Abu Sayyaf belum mati,” ujarnya kepada wartawan, sebagaimana dikutip Eurasia Review. Dia juga berencana untuk berbicara dengan pejabat Malaysia tentang kasus penculikan WNI di perairan Malaysia.

“Kami memiliki banyak pemikiran. Kami berhasil membebaskan tiga sandera dan, tiba-tiba, mereka mengambil lima sandera lagi. Sejak kapan kita kalah dari bajak laut?” tanya dia, sok retoris.

Pasukan Filipina pada 15 Januari menyelamatkan tiga orang Indonesia terakhir yang diculik oleh gerilyawan Abu Sayyaf pada September, sekitar satu bulan setelah kedua rekan senegaranya diselamatkan. Sehari kemudian, kelima nelayan itu disandera.

Hazani Ghazali, komandan Komando Keamanan Sabah Timur Malaysia (yang mengawasi perairan tempat kelima nelayan itu diculik) tidak banyak bicara, tetapi membenarkan bahwa patroli gabungan itu beroperasi di bawah perjanjian trilateral yang ditandatangani pada 2017. Patroli maritim dimulai pada Juni tahun itu, dan patroli udara dimulai empat bulan kemudian.

“Sejauh ini, Angkatan Bersenjata Filipina memberi kami dukungan dan kerja sama penuh,”ujar Hazani.

Setelah patroli udara diluncurkan pada Oktober 2017, ada jeda panjang dalam penculikan laut di Sabah, tetapi setidaknya lima insiden terpisah dari penculikan di perairan telah dilaporkan sejak September 2018.

Seiring dengan patroli, para pejabat Filipina menargetkan upaya advokasi dan keterlibatan publik terhadap penduduk yang tinggal di dekat kamp-kamp militan Abu Sayyaf. Ada “kampanye advokasi tanpa henti yang dilakukan pada penduduk daerah terpencil tentang ancaman teroris,” ujar Letjen Cirilito Sobejana, sebagaimana ditulis Eurasia Review.

Sobejana, komandan Komando Mindanao Barat Angkatan Darat Filipina, mengatakan ia telah memerintahkan para perwiranya untuk membongkar Abu Sayyaf. “Mereka agak populer sebelumnya dengan gaya Robin Hood. Berbagi hadiah yang mereka dapatkan dari tebusan yang dibayarkan. Mereka mendapat dukungan dari penduduk setempat,”ujar Sobejana tentang Abu Sayyaf. “Sekarang, mereka tidak memiliki korban penculikan kecuali yang terbaru.”

Ramli Dollah, seorang analis keamanan di Universiti Malaysia Sabah, mengatakan penculikan itu menguntungkan dan akan berlanjut selama masalah di kawasan itu tidak terselesaikan, terutama di Filipina selatan yang berdekatan di mana Abu Sayyaf bercokol.

Masalah-masalah itu mendorong negara-negara untuk membentuk perjanjian trilateral, ujar Ramli. “Namun, kerja sama seperti itu bukan jaminan dalam menghadapi ancaman seperti itu.”

Situasi menjadi semakin sulit karena faktor geografis, terutama kedekatan dengan Filipina dan Malaysia, memfasilitasi kegiatan dan mempersulit pihak berwenang untuk menangani masalah ini,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kerja sama trilateral dapat mengurangi tetapi tidak menghilangkan ancaman. Karena itu, tidak adil untuk menyalahkan kelemahan di negara tertentu dalam menghadapi ancaman keamanan lintas-batas, katanya.

Deka Anwar, seorang peneliti di Institut Analisis Kebijakan Konflik (IPAC) di Jakarta, mengatakan patroli trilateral bisa efektif dalam mencegat para pejuang pro-ISIS yang kembali ke Asia Tenggara dari Timur Tengah. Dia tidak berpikir patroli bisa sama efektifnya dalam melawan penculik yang terkait dengan Abu Sayyaf dan kelompok lain.

“Sangat penting untuk mencoba dan memahami mengapa penculikan di laut ini dimulai, dihentikan, dan dilanjutkan. Itu hampir pasti tidak ada hubungannya dengan patroli maritim trilateral,” kata Deka kepada Eurasia Review.

“Siapa pun yang mengambil kebijakan di Filipina harus memahami bahwa ketika komandan dibunuh, putra, saudara lelaki, dan keponakan mereka cepat atau lambat akan menggantikan posisi mereka, dimotivasi oleh pembalasan dan keuntungan.” []

Back to top button