Baru Buka Puasa Gelar 22 Tahun, Arsenal Diamuk Fans Akibat Sponsor Baru dari Perusahaan Garapan Israel

JERNIH – Klub raksasa London Utara sekaligus juara baru Premier League, Arsenal FC, tengah menghadapi gelombang protes keras dari basis suporternya sendiri serta para aktivis pro-Palestina. Kemarahan ini dipicu oleh peluncuran kerja sama sponsor lengan jersey (sleeve sponsor) baru dengan Deel, sebuah perusahaan teknologi yang memiliki rekam jejak pendiri asal Israel dan secara terbuka mendukung aksi militer di Jalur Gaza.
Ironisnya, kontroversi ini meledak hanya berselang satu hari setelah The Gunners resmi mengunci takhta juara Liga Utama Inggris pada hari Selasa—mengakhiri puasa gelar liga selama 22 tahun—setelah sang rival, Manchester City, ditahan imbang 1-1 oleh Bournemouth.
Manajemen Arsenal mengumumkan bahwa Deel, perusahaan penyedia sistem penggajian dan manajemen SDM (HR) yang berbasis di AS, akan nampang di lengan kiri jersey tim mulai musim 2026-2027 lewat kesepakatan multi-tahun.
Netizen dan fans setia Arsenal langsung membongkar latar belakang korporasi tersebut. Deel didirikan bersama oleh warga negara Israel, Alex Bouaziz dan Ofer Simon, berdampingan dengan pengusaha kelahiran China, Shuo Wang.
Poin utama yang memicu kemarahan publik adalah tindakan kelewat batas dari salah satu pendirinya. Alex Bouaziz, yang tinggal di Tel Aviv, kedapatan mengunggah seruan “Am Yisrael Chai” di media sosial pasca-peristiwa 7 Oktober, serta secara terbuka menyuarakan dukungan penuh bagi karyawan perusahaannya yang dipanggil bertugas sebagai tentara cadangan militer Israel.
Kritikus online juga menyoroti bahwa Deel tetap menjalankan operasional bisnis mereka di wilayah pendudukan ilegal Palestina. “Sponsor ini sangat memalukan. Deel tidak hanya didirikan oleh orang Israel, tetapi secara terbuka mengekspresikan dukungan Zionis saat beroperasi di wilayah pendudukan Palestina. Sungguh memuakkan klub ini bahkan sempat berpikir untuk bermitra dengan mereka,” tulis seorang suporter Arsenal bernama Ash di platform X.
Suporter lain bahkan menegaskan bahwa kesepakatan ini membuat mereka berpikir ulang untuk membeli jersey baru Arsenal musim depan, meskipun mereka memiliki tradisi membelinya di setiap musim.
Kemarahan fans kian berlipat ganda karena sponsor lengan jersey Arsenal sebelumnya dipegang oleh badan pariwisata Rwanda lewat kampanye populer “Visit Rwanda”.
Beda dengan Deel yang dinilai sarat isu politik-kemanusiaan, kerja sama dengan Rwanda sebelumnya dinilai jauh lebih positif karena berfokus pada program pengembangan komunitas, termasuk menyelenggarakan kamp pelatihan sepak bola yang melibatkan tim pria maupun wanita Arsenal secara aktif.
Arsenal dan Raksasa EPL Dituduh Lakukan Sportswashing
Isu ini menggelinding bersamaan dengan rilisnya laporan investigasi terbaru dari lembaga amal berbasis di Inggris, War on Want. Laporan berjudul ‘Red Card: English Premier League Complicity in Israel’s Atrocities against the Palestinians’ menuduh sejumlah klub top Inggris ikut terlibat melanggengkan kejahatan kemanusiaan lewat skema sportswashing.
Lembaga ini menilai klub-klub kaya Inggris dengan sengaja memanfaatkan sepak bola untuk membersihkan citra buruk (sportswashing) dari perusahaan-perusahaan yang dituduh mendanai atau mengeruk keuntungan dari pendudukan ilegal, apartheid, dan genosida terhadap rakyat Palestina yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 75.800 jiwa sejak Oktober 2023.
“Klub-klub ini berbicara dengan bangga tentang kesetaraan, inklusi, dan komunitas. Namun di balik pencitraan itu, beberapa di antaranya menggunakan sportswashing untuk membersihkan nama korporasi yang terhubung dengan kejahatan paling berat dan bencana kemanusiaan di zaman kita,” kecam Neil Sammonds, juru kampanye senior Palestina di War on Want.
Laporan tersebut juga memaparkan data kelam hancurnya infrastruktur sepak bola di Gaza, di mana ratusan fasilitas olahraga luluh lantak dan lebih dari 500 anggota Asosiasi Sepak Bola Palestina tewas akibat serangan Israel.
Urusan sensor informasi seputar Palestina bukan barang baru di kubu Emirates Stadium. Tahun lalu, Arsenal memecat kitman senior mereka yang telah lama mengabdi, Mark Bonnick, setelah ia mengkritik tindakan kejam Israel di Gaza melalui akun media sosial pribadinya. Pasca-pemecatan, Bonnick bahkan sempat menjadi sasaran kampanye hitam (smear campaign) oleh akun-akun pro-Israel di internet.
Pihak otoritas Premier League belum memberikan respons publik terkait laporan War on Want. Sementara itu, manajemen Arsenal FC, pihak Deel, maupun kelompok suporter resmi klub belum memberikan jawaban saat dihubungi oleh jurnalis The New Arab untuk dimintai keterangan.






