Desportare

Kisah Djed Spence, Pemain Muslim Pertama Three Lions di Panggung Piala Dunia

JERNIH — Papan elektronik di pinggir lapangan menyala. Angka hijau menunjukkan nomor punggungnya. Saat kaki kanan Djed Spence menginjak rumput stadion, sebuah tinta sejarah baru resmi digoreskan dalam narasi sepak bola modern Britania Raya: ia resmi menjadi pesepak bola Muslim pertama yang memperkuat Tim Nasional Inggris sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di ajang Piala Dunia FIFA.

Momen emosional itu tersaji di tengah laga pembuka Piala Dunia 2026. The Three Lions sukses menggilas Kroasia dengan skor meyakinkan 4-2. Namun, di luar banjir gol yang memanjakan mata penonton, perhatian publik dunia justru tersedot pada 10 menit terakhir pertandingan.

Spence masuk sebagai pemain pengganti saat laga tersisa sepuluh menit. Meski singkat, bek sayap milik Tottenham Hotspur ini langsung tampil impresif. Ia bergerak eksplosif menyisir lini kanan, menggalang pertahanan, bahkan nyaris mencetak gol debut yang sempurna andai sepakannya tidak melebar tipis.

Bagi pemuda berusia 25 tahun ini, kilau lampu stadion dan gemuruh puluhan ribu suporter hanyalah dekorasi luar. Di balik performa fisiknya yang atletis, terdapat jangkar spiritual yang kokoh. Islam, bagi Spence, bukan sekadar identitas di atas paspor, melainkan kompas hidup yang menyelamatkannya dari titik terendah karier.

“Pertama-tama, Allah adalah Yang Maha Besar,” ujar Spence emosional saat diwawancarai oleh Islamic Channel, Senin (22/06/2026). “Saya banyak berdoa. Saya selalu bersyukur kepada Allah. Dalam masa-masa tersulit dalam hidup saya, masa-masa paling gelap, saya selalu percaya bahwa Tuhan selalu berada di sisi saya.”

Prinsip keimanan ini pula yang membuatnya tetap membumi saat kariernya melesat bak roket hingga menembus skuad utama asuhan Gareth Southgate. “Ketika saya menang, ketika saya berada dalam momen yang baik, saya juga memuliakan Allah karena Dia selalu berada di sisi saya. Ini adalah hal besar bagi saya, keyakinan saya,” tambahnya lirih.

Debut sejarah Spence mengudara di saat yang tepat. Di tengah riak sosial dan upaya segelintir kelompok radikal di Eropa yang terus mengembuskan sentimen rasisme serta islamofobia, ruang ganti Timnas Inggris justru mengirimkan pesan sebaliknya.

Skuad Three Lions generasi ini menjelma menjadi cermin inklusif dari masyarakat Inggris modern. Di sana, perbedaan etnis, latar belakang budaya, hingga keyakinan agama melebur di bawah satu lambang tiga singa di dada. Menariknya, skuad multikultural yang harmonis inilah yang justru digadang-gadang oleh para pengamat sebagai generasi emas terbaik dengan peluang terbesar untuk memutus kutukan dan membawa pulang trofi Piala Dunia ke tanah Inggris sejak terakhir kali mereka memenangkannya pada 1966 silam.

Sejarah yang dicetak Djed Spence berkelindan indah dengan atmosfer total Piala Dunia 2026 kali ini. Diselenggarakan secara gotong royong oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, turnamen edisi ini mencatatkan rekor kepesertaan baru sebanyak 48 tim.

Ekspansi kuota ini secara tidak langsung menciptakan panggung yang ramah bagi keberagaman global, terbukti dengan lolosnya rekor 13 negara mayoritas Muslim ke putaran final.

Dari sebidang rumput hijau di Amerika Utara, kisah Djed Spence menjadi pengingat paling puitis bagi pencinta sepak bola di seluruh kolong jagat: bahwa taktik, operan bola, dan gol memang menentukan kemenangan di atas lapangan. Namun pada akhirnya, sepak bola sejati adalah tentang ruang bagi keberagaman, keteguhan identitas, dan bagaimana sebuah doa di kamar ganti mampu menggerakkan kaki seorang manusia untuk mencetak sejarah dunia.

Back to top button