SolilokuiVeritas

[Locavore] Marind, Sagu, dan Sebuah Bangsa yang Kian Kehilangan Rasa Malu

“Yang ada di leuit itu bukan beras.” Kalimat itu saya ingat persis. Lalu ia menambahkan pelan: “Itu masa depan.”  Kini saya kira saya lebih memahami apa yang ia maksud. Baduy menyimpannya dalam leuit. Dayak menjaganya di hutan. Marind merawatnya di rawa-rawa sagu. Yang mereka pertahankan ternyata bukan semata cadangan pangan. Mereka sedang menjaga sesuatu yang jauh lebih langka. Kebijaksanaan.

JERNIH–Di Merauke, orang-orang tua Marind kadang masih bisa menebak apakah sebatang sagu sudah layak ditebang hanya dari bunyinya. Mereka mengetuk batangnya pelan dengan punggung parang. Tok! Tok! Tok!

Yang belum matang memantulkan bunyi agak nyaring, kosong. Yang sudah siap diolah mengeluarkan gema yang lebih berat, lebih padat, seolah ada sesuatu yang penuh di dalam perutnya.

Saya menyukai detail kecil semacam itu. Bukan karena romantis. Melainkan karena detail-detail seperti itulah yang sering memperlihatkan seberapa dalam hubungan manusia dengan sumber pangannya.

Kita yang hidup di kota nyaris tak pernah lagi bersentuhan dengan sumber makanan kita. Kita membeli beras dalam plastik lima kilogram. Membeli tepung dalam kemasan. Membeli mi instan dalam kardus. Semuanya rapi, steril, dan hampir tanpa cerita. Kita tahu harga, tetapi sering tak lagi tahu asal-usul. Kita hafal diskon.  Tetapi tak kenal tanah.

Masyarakat Marind hidup dengan cara yang berbeda. Bagi mereka, sagu bukan sekadar sumber karbohidrat yang belakangan sering disebut dalam seminar-seminar diversifikasi pangan. Menyebut sagu sekadar “pengganti beras” bahkan terdengar agak ganjil. Sagu tidak pernah merasa dirinya pengganti apa pun. Sagu sudah ada jauh sebelum republik ini mengenal jargon swasembada. Sagu sudah menghidupi manusia Papua ketika Pulau Jawa masih sibuk dengan kerajaan-kerajaan agrarisnya.

Sagu bukan alternatif.  Sagu adalah peradaban. Di situ letak perkara yang sering luput. Negara modern terlalu mudah melihat pangan sebagai perkara kalori, tonase, logistik, dan produktivitas. Padahal bagi masyarakat adat, pangan hampir tak pernah berhenti pada soal perut. Pangan adalah ingatan. Pangan adalah identitas, sekaligus sebuah komunitas memahami dirinya sendiri.

Karena itu, ketika negara datang dengan istilah-istilah yang terdengar gagah—food estate, lumbung pangan nasional, optimalisasi lahan—perdebatan yang sesungguhnya terjadi bukan semata soal pertanian. Yang berhadapan sesungguhnya adalah dua cara pandang tentang hidup. Yang satu melihat tanah sebagai ruang produksi. Yang lain melihat tanah sebagai ruang kehidupan.

Nama Merauke pernah menggema keras ketika proyek MIFEE—Merauke Integrated Food and Energy Estate—diluncurkan sekitar 2010. Angkanya fantastis. Luas wilayah yang direncanakan mencapai lebih dari sejuta hektare. Narasinya terdengar menjanjikan: Merauke akan menjadi lumbung pangan nasional.

Tak ada yang salah dengan cita-cita kemandirian pangan. Masalah biasanya tidak terletak pada slogan. Masalah muncul ketika slogan bertemu kenyataan di lapangan.

Di Jakarta, peta terlihat bersih. Kawasan luas tampak seperti ruang kosong yang siap diolah. Tetapi peta, seperti sering saya katakan, punya keterbatasan yang nyaris tragis. Peta bisa menunjukkan koordinat. Sayangnya, peta tak selalu mampu menunjukkan makna.

Hamparan yang dari udara terlihat “kosong” bisa saja bagi masyarakat Marind merupakan hutan sagu, jalur berburu, wilayah ritual, atau kawasan yang menyimpan sejarah antargenerasi.

Negara sering terlalu percaya pada peta. Padahal manusia tidak hidup di peta. Manusia hidup di ruang yang penuh memori. Saya teringat tulisan antropolog Anna Lowenhaupt Tsing, terutama dalam “Friction”, tentang bagaimana proyek-proyek global kerap berbenturan dengan realitas lokal yang jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan para perancang kebijakan. Tsing menunjukkan bahwa pembangunan modern sering berangkat dari asumsi bahwa ruang bisa disederhanakan.

Padahal kehidupan manusia jarang sederhana. Apalagi kehidupan masyarakat adat. Seorang aktivis Papua pernah mengatakan sesuatu yang terus terngiang di kepala saya. “Kalau hutan hilang, kami bukan cuma kehilangan kayu.” Ia berhenti,“Kami kehilangan cara menjadi manusia.”

Kalimat itu berat. Tetapi justru karena berat, pernyataan itu sulit diabaikan. Kita hidup dalam zaman yang terlalu mudah mereduksi segala sesuatu menjadi komoditas. Hutan menjadi kayu. Tanah menjadi aset. Air menjadi utilitas. Benih menjadi paten. Pangan menjadi bisnis.

Lalu kita heran ketika petani makin sedikit, tanah makin lelah, air makin kotor, dan makanan makin terasa seperti produk industri. Saya teringat pemikiran Vandana Shiva yang bertahun-tahun mengkritik industrialisasi pangan. Dalam “Soil Not Oil”, ia menulis sesuatu yang sederhana tetapi menampar: “Soil, not oil, is the basis of our future. Tanah, bukan minyak, adalah basis masa depan kita.”

Mungkin masyarakat adat Indonesia akan menambahkan satu kalimat lagi. Tanah hanya akan memberi masa depan kepada mereka yang tahu batas.  Nah, batas—ini kata yang penting. Namun justru kata inilah yang makin asing dalam peradaban modern.

Kita hidup di zaman yang sangat canggih dalam menjawab pertanyaan: Seberapa cepat kita bisa mengambil? Tetapi sangat miskin ketika harus menjawab: seberapa banyak yang pantas kita ambil? Padahal pertanyaan kedua itulah yang menentukan keberlanjutan.

Di titik inilah saya merasa masyarakat Baduy, Dayak, dan Marind sesungguhnya sedang mengajarkan sesuatu yang amat mendasar kepada republik ini. Mereka berbeda bahasa. Berbeda kosmologi. Berbeda lanskap. Namun mereka bertemu pada satu titik yang sama.

Mereka tahu bahwa hubungan manusia dengan pangan tak pernah bisa dipisahkan dari hubungan manusia dengan moralitas. Apa yang boleh diambil. Mana yang tak boleh. Kapan berhenti; apa yang harus diwariskan. Kepada siapa?

Modernitas sering menertawakan kebijaksanaan semacam ini sebagai romantisme. Saya tidak terlalu yakin. Justru saya melihat sebaliknya. Romantisme terbesar zaman ini adalah keyakinan bahwa teknologi akan selalu menyelamatkan kita dari akibat keserakahan kita sendiri.

Belum tentu.Teknologi memang bisa membantu. Tetapi teknologi tak otomatis membuat manusia bijak. Spreadsheet tak melahirkan nurani. Algoritma tak otomatis mengajarkan batas. AI—ya, ‘barang’ yang tengah jadi primadona ini—dapat membantu manusia berpikir lebih cepat. Tetapi ia tidak bisa menggantikan kebijaksanaan yang lahir dari relasi panjang manusia dengan tanah, air, dan musim. Kebijaksanaan seperti itu tumbuh lambat. Sering kali terlalu lambat untuk dunia modern yang serba tergesa.

Malam itu saya teringat kembali pada kokolot adat di Ciptagelar. Ia berdiri di depan leuit, telapak tangannya menyentuh ikatan padi, seolah menyentuh sesuatu yang lebih tua daripada dirinya sendiri. “Yang ada di leuit itu bukan beras.” Kalimat itu saya ingat persis. Lalu ia menambahkan pelan: “Itu masa depan.”

Kini saya kira saya lebih memahami apa yang ia maksud. Baduy menyimpannya dalam leuit. Dayak menjaganya di hutan. Marind merawatnya di rawa-rawa sagu. Yang mereka pertahankan ternyata bukan semata cadangan pangan. Mereka sedang menjaga sesuatu yang jauh lebih langka. Kebijaksanaan.

Dan mungkin di sinilah ironi terbesar bangsa ini. Kita terlalu sering memandang masyarakat adat sebagai sisa masa lalu. Padahal sangat mungkin mereka justru sedang menyimpan sebagian masa depan yang kita perlukan. Sebab ketika krisis iklim datang lebih keras, ketika air makin langka, ketika tanah makin letih, dan ketika rantai pasok global makin rapuh, manusia pada akhirnya akan kembali pada pertanyaan yang sangat tua.

Bagaimana cara hidup tanpa merusak sumber kehidupan kita sendiri?  Pertanyaan itu tidak baru. Baduy sudah lama menanyakannya. Dayak sudah lama hidup dengannya. Marind sudah lama menjaganya. Mungkin kitalah yang terlalu sibuk untuk mendengar. Dan mungkin, masalah terbesar kita bukan karena bangsa ini kekurangan orang pintar. Barangkali kita hanya sedang kekurangan rasa malu—malu kepada tanah yang terlalu lama kita peras, malu kepada petani yang terlalu lama kita abaikan, dan malu kepada generasi mendatang yang kelak mewarisi bumi yang makin letih.

Sebab sebuah bangsa belum tentu hancur ketika kekurangan teknologi. Tetapi sebuah bangsa biasanya mulai runtuh ketika ia kehilangan kebijaksanaan—dan lebih buruk lagi, ketika ia tak lagi merasa kehilangan apa-apa. [dsy]

Back to top button