Crispy

Frustrasi Hadapi Kedegilan Tel Aviv, Pemerintahan Trump Bergerilya Dekati Oposisi untuk Depak Netanyahu

JERNIH — Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Israel dilaporkan berada di titik nadir. Dipicu oleh sikap keras kepala Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang terus menjegal memo kesepakatan damai di Timur Tengah, pemerintahan Presiden AS Donald Trump kini mulai melancarkan gerilya diplomatik rahasia untuk mendekati tokoh-tokoh oposisi Israel guna mencari suksesor baru di Tel Aviv.

Laporan utama stasiun televisi Israel, Channel 12, mengungkapkan bahwa lingkaran dalam Trump meyakini pemerintahan koalisi sayap kanan pimpinan Netanyahu sudah berada di ujung tanduk. Washington menilai kabinet Netanyahu kini kian berbahaya, tidak bisa dikendalikan, dan berpotensi besar untuk segera ambruk.

Sebagai langkah antisipasi, AS diam-diam mulai membangun jalur komunikasi informal dengan dua figur kunci oposisi Israel: mantan PM Naftali Bennett (pemimpin Partai Together) dan Gadi Eisenkot (pemimpin Partai Yashar).

“Pemerintahan AS telah menyatakan keprihatinan mendalam terhadap dominasi kelompok garis keras dalam kabinet Netanyahu dan kini berupaya membangun basis kepercayaan informal baru menjelang pemilu,” sebut laporan Channel 12.

Retaknya hubungan Washington-Tel Aviv ini berakar dari kebuntuan diplomasi tingkat tinggi di Swiss. Saat ini, AS dan Iran tengah terlibat perundingan intensif yang dimediasi oleh Pakistan demi meredam konflik militer terbuka pasca-serangan udara bersama pada Februari lalu.

Draf kesepakatan di Swiss sejatinya mewajibkan penghentian permusuhan di seluruh front, termasuk penarikan mundur pasukan Israel dari Lebanon Selatan. Namun, Netanyahu secara sepihak menolak mentah-mentah klausul tersebut. Ia bersikeras militer zionis tidak akan mundur sejengkal pun dari wilayah Lebanon.

Sikap bebal Tel Aviv ini memicu rasa frustrasi yang luar biasa di Washington. Agresi militer Israel di Lebanon sejak Maret lalu terbukti telah membantai hampir 4.000 warga sipil dan melukai 12.000 lainnya, mencoreng muka AS di mata hukum internasional dan menjadi beban diplomatik yang teramat berat bagi Gedung Putih.

Manuver gerilya AS ini mendapat angin segar dari situasi politik domestik Israel yang sedang bergejolak. Berdasarkan jajak pendapat terbaru yang dirilis oleh harian Maariv, mayoritas publik Israel sudah muak dengan kepemimpinan Netanyahu akibat perang yang tak kunjung usai.

Jika pemilu dipercepat hari ini, peta kekuatan di parlemen (Knesset) diproyeksikan akan berbalik arah. Blok Oposisi diprediksi mengamankan 61 kursi, jumlah minimal yang dibutuhkan untuk mendepak Netanyahu dan membentuk pemerintahan baru.

Akibatnya, blok koalisi Netanyahu kedodoran dan ambruk dengan hanya menyisakan 49 kursi. Sementara Partai Arab diperkirakan mengunci sisa 10 kursi dalam pemilu yang dijadwalkan bergulir pada Oktober mendatang.

Meski Presiden Donald Trump belum memberikan dukungan politik secara terbuka kepada figur tertentu, langkah AS menjalin kontak dengan Naftali Bennett dan kolega menjadi bukti sahih bahwa Washington kini sedang mempersiapkan skenario “Israel Tanpa Netanyahu” demi mengamankan kepentingan geopolitik mereka di Timur Tengah.

Back to top button