Dum SumusVeritas

Iran Bidik Stargate, Pusat Data AI Terbesar Milik AS di Abu Dhabi Bernilai Rp509 Triliun

Perang yang berkecamuk di Timur Tengah kini memasuki babak baru. Target serangan bukan lagi sekadar pangkalan militer atau kilang minyak, melainkan jantung peradaban digital masa depan, yaitu pusat data (data center) kecerdasan buatan (AI).

JERNIH– Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran secara terang-terangan memasukkan Stargate, proyek pusat data kecerdasan buatan (AI) raksasa di Abu Dhabi, ke dalam daftar utama target serangan mereka. Fasilitas ambisius senilai US$30 miliar atau setara Rp509 triliun ini dianggap Iran sebagai simbol dominasi militer dan intelijen Barat di tanah Arab.

Pernyataan ini dirilis melalui video propaganda yang menampilkan citra satelit lokasi Stargate bersandingan dengan wajah-wajah petinggi teknologi asal Amerika Serikat (AS), Selasa (7/4/2026).

Stargate bukan sekadar gudang server biasa. Proyek ini merupakan kolaborasi teknologi tingkat tinggi yang melibatkan barisan korporasi global paling berpengaruh di dunia, antara lain Nvidia, OpenAI, dan Microsoft sebagai penyedia infrastruktur AI, sementara Cisco, Oracle, dan SoftBank merupakan jaringan dan pendanaan. Ada juga G42, perusahaan AI lokal Uni Emirat Arab (UEA) yang terafiliasi dengan AS.

Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa penghancuran Stargate adalah balasan setimpal atas rangkaian serangan AS terhadap infrastruktur Iran. “Stargate merupakan target sah sebagai balasan atas tindakan Amerika,” tegasnya.

Analis dari Carnegie Endowment for International Peace, Sam Winter-Levy, menilai langkah Iran bertujuan untuk meningkatkan beban biaya ekonomi bagi AS dan sekutunya. Pusat data dianggap sebagai “target lunak” (soft target) karena memiliki ketergantungan kritis pada dua hal yakni pasokan energi masif dan sistem pendinginan stabil.

Gangguan fisik sekecil apa pun pada Stargate dapat berdampak sistemik terhadap sektor perbankan global karena terganggunya transaksi lintas negara, pada sektor logistik dan rantai pasok berupa kekacauan pada sistem pelacakan otomatis. Selain itu, layanan cloud akan terganggu yang menyebabkan kehilangan data krusial bagi ribuan perusahaan dunia.

Pusat data Stargate diposisikan sebagai klaster komputasi AI terbesar di luar Amerika Serikat. Pada tahap awal tahun 2026 ini, proyek tersebut ditargetkan menghasilkan daya 200 MegaWatt (MW) dan diproyeksikan berkembang hingga kapasitas 1 GigaWatt (GW).

Pembangunan masif ini sebenarnya adalah bagian dari ambisi UEA untuk memimpin sektor AI global pada 2031. Namun, serangan drone Iran pada fasilitas Amazon Web Services (AWS) di Bahrain dan UEA awal Maret lalu membuktikan bahwa ancaman ini bukan lagi sekadar retorika, melainkan bahaya nyata di zona konflik.

Selain Stargate, kanal Telegram yang terafiliasi dengan IRGC merilis daftar 18 perusahaan raksasa yang dianggap sebagai sasaran sah karena dituding memfasilitasi operasi militer dan intelijen melalui teknologi informasi. Nama-nama yang masuk dalam bidikan meliputi:

  • Sektor Software & AI: Microsoft, Google, Meta, OpenAI.
  • Sektor Perangkat Keras: Apple, Intel, Nvidia.
  • Sektor Mobilitas & Dirgantara: Tesla dan Boeing.

Pakar keamanan teknologi independen, Lukasz Olejnik, memperingatkan para investor dan perusahaan asuransi untuk menghitung ulang premi risiko investasi di Timur Tengah. Jika ancaman fisik terhadap hub teknologi ini terus berlanjut, posisi negara-negara Teluk sebagai “rumah data global” yang aman akan sulit dipertahankan.

Back to top button